- Sorotan Laporan:
- El Niño yang kuat dan gangguan pasokan bahan bakar serta pupuk akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko ketahanan pangan di Asia.
- Verisk Maplecroft memperingatkan tekanan tersebut dapat memengaruhi produksi pertanian, harga pangan, serta meningkatkan risiko ketidakstabilan sosial di sejumlah negara rentan.
- Indonesia menghadapi tekanan terhadap produksi sawit, India mengalami curah hujan monsun sekitar 15 persen di bawah normal, sedangkan Thailand diperkirakan mengalami penurunan panen gula.
- Afghanistan dan Myanmar juga menghadapi risiko kemanusiaan yang lebih besar karena kondisi sosial-ekonomi yang telah terdampak konflik.
Poin-poin penting ini ditulis oleh para reporter dan editor yang mengerjakan berita ini.
JAKARTA — Risiko krisis pangan di Asia meningkat akibat kombinasi El Niño yang kuat, gangguan pasokan bahan bakar dan pupuk akibat konflik di Timur Tengah, serta tekanan terhadap produksi pertanian di sejumlah negara.
Perusahaan konsultan risiko Verisk Maplecroft memperingatkan kondisi tersebut dapat memperburuk ketahanan pangan dan meningkatkan risiko kerusuhan sosial maupun ketidakstabilan politik di sejumlah negara Asia yang rentan.
Tekanan tersebut muncul ketika sektor pertanian menghadapi kenaikan biaya input. Gangguan pasokan energi dan pupuk terjadi bersamaan dengan cuaca yang lebih panas dan kering akibat pola El Niño yang kuat.
Verisk Maplecroft menyebut gangguan akibat konflik telah meningkatkan biaya serta ketidakpastian pasokan pupuk dan bahan bakar, dua komponen penting dalam kegiatan pertanian.
Pada saat yang sama, kondisi cuaca yang dipengaruhi El Niño mulai memberikan tekanan tambahan terhadap sejumlah kawasan produksi pangan di Asia.
Menurut laporan tersebut, dampaknya berpotensi berlanjut karena keputusan penanaman dan pemupukan telah dilakukan ketika gangguan pasokan berada pada tingkat tinggi. Artinya, kerugian terhadap produksi dapat tetap terasa meskipun kondisi geopolitik membaik dalam beberapa bulan ke depan.
“Dampaknya semakin terlihat,” kata Verisk Maplecroft dalam laporannya dikutip, Rabu 23 September 2026.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian karena merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia.
Verisk Maplecroft mencatat kebakaran lahan yang sulit dikendalikan telah mengganggu aktivitas panen. Kondisi panas dan tekanan air juga menjadi risiko terhadap produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.
Gangguan pada komoditas tersebut tidak hanya berdampak terhadap sektor pangan, tetapi juga dapat memengaruhi rantai pasok energi berbasis minyak nabati.
India juga menghadapi tekanan pada sektor pertanian akibat curah hujan monsun yang berada sekitar 15 persen di bawah normal.
India merupakan salah satu eksportir beras utama dunia sehingga gangguan produksi berpotensi memengaruhi ketersediaan komoditas di pasar regional.
Data yang dikutip dalam laporan Bloomberg menunjukkan curah hujan kumulatif selama musim monsun Juni-September berada 15 persen di bawah rata-rata jangka panjang.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap hasil panen serta harga pangan, meskipun India masih memiliki persediaan beras dalam jumlah besar sebagai penyangga. Verisk Maplecroft juga menilai penurunan produksi dapat meningkatkan tekanan terhadap harga domestik dan kebijakan ekspor.
Thailand turut menghadapi tekanan karena produksi gula diperkirakan menurun.
Selain dampak cuaca, sektor pertanian negara tersebut menghadapi kenaikan biaya energi dan pupuk. Ketergantungan terhadap input impor membuat petani semakin rentan terhadap gangguan pasokan dan perubahan harga global.
Tekanan pada Thailand menjadi perhatian karena negara tersebut termasuk eksportir beras utama di kawasan Asia.
Verisk Maplecroft memperingatkan tekanan harga dan ketersediaan pangan dapat berkembang menjadi persoalan sosial apabila kondisi memburuk dan pemerintah dinilai tidak efektif dalam meresponsnya.
“Data menunjukkan bahwa jika tekanan harga dan kekurangan pangan menguat, dan pemerintah dianggap tidak efektif dalam menanggapinya, kerusuhan dan ketidakstabilan politik dapat muncul,” kata perusahaan konsultan tersebut.
Analisis itu bukan berarti kerusuhan pasti terjadi, melainkan menunjukkan peningkatan risiko berdasarkan indikator ketahanan pangan dan potensi ketidakstabilan sosial yang digunakan Verisk Maplecroft.
Lebih dari separuh negara yang masuk kategori risiko tinggi atau sangat tinggi dalam Food Security Index Verisk Maplecroft juga berada dalam dua kategori risiko tertinggi pada Civil Unrest Index perusahaan tersebut. India, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina termasuk negara yang disebut dalam kelompok rentan.
Dampak yang lebih berat berpotensi dirasakan negara-negara yang telah mengalami konflik berkepanjangan.
Verisk Maplecroft menilai Afghanistan dan Myanmar sangat rentan karena ketahanan sosial dan ekonomi kedua negara telah melemah akibat konflik.
“Bagi negara-negara Asia yang sedang dilanda konflik seperti Afghanistan dan Myanmar, guncangan pangan akan meningkatkan risiko bencana kemanusiaan,” kata perusahaan tersebut.
Perkembangan tersebut membuat persoalan pangan di Asia tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi juga biaya hidup, perdagangan komoditas, energi, pupuk, dan kondisi geopolitik.
Verisk Maplecroft menilai tekanan tersebut dapat berlanjut hingga 2027 apabila gangguan cuaca dan pasokan input pertanian tetap berlangsung.
***
