Sabtu, Oktober 10, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalListrik IWIP Tembus 7,1 GW, Lampaui Kebutuhan Singapura Jika Digabung Morowali

Listrik IWIP Tembus 7,1 GW, Lampaui Kebutuhan Singapura Jika Digabung Morowali

  • Sorotan Laporan:
  • Kapasitas listrik IWIP yang mencapai 7,1 GW menggambarkan besarnya skala industri yang berkembang di Halmahera Tengah, Maluku Utara.
  • Jika digabungkan dengan kawasan industri Morowali yang memiliki kapasitas 8,8 GW, totalnya mencapai 15,9 GW. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan total pemakaian listrik Singapura sebesar 13,1 GW.
  • Energi tersebut menjadi penopang berbagai fasilitas pengolahan nikel dengan teknologi RKEF dan HPAL untuk mengolah nikel saprolit serta limonit menjadi material yang berkaitan dengan rantai pasok baterai kendaraan listrik.
  • Perkembangan kawasan juga tercermin dari keberadaan 52 tenant investor global dengan akumulasi investasi US$27 miliar, penyerapan sekitar 117.000 tenaga kerja, serta nilai ekspor US$11 miliar.
  • Di tengah perkembangan tersebut, Presiden Prabowo Subianto meresmikan 11 proyek hilirisasi bernilai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun, termasuk ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Empat proyek memasuki tahap komersialisasi dan tujuh lainnya mulai dibangun.
  • Pemerintah melihat perkembangan ini sebagai bagian dari perjalanan hilirisasi menuju industrialisasi, sekaligus upaya menempatkan Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

Poin-poin penting ini ditulis oleh para reporter dan editor yang mengerjakan berita ini.

HALMAHERA TENGAH – Kapasitas listrik yang telah terpasang dan sedang dibangun di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, mencapai 7,1 gigawatt (GW). Jika digabungkan dengan kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, sebesar 8,8 GW, totalnya mencapai 15,9 GW atau lebih besar dari konsumsi listrik Singapura yang tercatat 13,1 GW.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan kebutuhan energi tersebut menjadi fondasi penting untuk menopang rantai industri nikel hingga pengembangan baterai kendaraan listrik.

“Listrik di sini yang sudah terpasang dan yang dibangun sudah lebih 7,1 GW. Kalau kita tambahkan dengan yang ada di Morowali, itu tambah 8,8 GW, jadi 15,9 GW,” ujar Rosan dalam peresmian 11 proyek hilirisasi dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Halmahera Tengah disiarkan daring, Kamis (8/10/2026).

Menurut Rosan, gabungan kapasitas tersebut bahkan melampaui total penggunaan listrik Singapura.

“Ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura 13,1 GW,” katanya.

Kebutuhan listrik di kawasan industri IWIP disuplai melalui pembangkit listrik mandiri untuk mendukung operasional fasilitas pemurnian nikel.

Pengolahan tersebut menggunakan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan High-Pressure Acid Leach (HPAL). Kedua teknologi itu digunakan untuk mengolah nikel saprolit dan limonit menjadi material yang dibutuhkan dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Rosan menilai perkembangan sektor pengolahan mineral telah mengubah struktur ekonomi Maluku Utara. Wilayah tersebut, menurut dia, mulai bergeser dari daerah pertambangan menjadi kawasan industri.

“Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tapi telah menjadi daerah industri,” papar Rosan.

Ia juga menyebut surplus perdagangan Maluku Utara meningkat hingga Rp31,1 triliun pada 2025.

IWIP Serap 117 Ribu Tenaga Kerja

Besarnya kapasitas energi di IWIP berjalan seiring dengan peningkatan investasi dan aktivitas produksi.

Kawasan industri tersebut saat ini menopang operasional 52 tenant investor global dengan akumulasi investasi mencapai sekitar US$27 miliar.

Aktivitas industri di IWIP juga telah menyerap sekitar 117.000 tenaga kerja dan menghasilkan nilai ekspor sebesar US$11 miliar.

Rosan mengatakan kelengkapan ekosistem industri tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.

“Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik. Dan tentunya seperti yang Bapak sampaikan, hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto meresmikan program hilirisasi senilai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun di kawasan IWIP, Kabupaten Halmahera Tengah.

Program tersebut mencakup ekspor perdana baterai kendaraan listrik serta peluncuran 11 proyek hilirisasi.

Sebanyak empat proyek memasuki tahap komersialisasi, sedangkan tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan.

“Hari ini kita akan meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik kemudian kita juga akan meluncurkan 11 proyek hilirisasi terdiri dari komersialisasi 4 proyek industri dan dimulai pembangunan 7 proyek industri baru di Kawasan Weda Bay Industrial Park,” terang Prabowo dalam peresmian, Kamis (8/10/2026).

Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurut Kepala Negara, perkembangan industri yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir merupakan capaian yang patut dibanggakan.

“Apa yang dihasilkan dalam berapa tahun ini sungguh sesuatu yang patut kita banggakan,” ujar Prabowo.

Ia sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan perlindungan dan kepastian terhadap investasi yang ditanamkan di Indonesia.

“Saya di sini tegaskan komitmen pemerintah RI, untuk menghormati dan mengamankan semua investasi dari manapun yang ditanamkan di bumi Indonesia,” tegasnya.

Perkembangan kapasitas listrik, investasi, tenaga kerja, hingga ekspor menunjukkan semakin besarnya skala industri di kawasan IWIP.

Pengolahan nikel saprolit dan limonit menjadi material pendukung baterai kendaraan listrik menjadi bagian dari rantai industri yang ingin diperkuat pemerintah.

Dengan dukungan energi dalam jumlah besar dan masuknya investasi global, kawasan tersebut diarahkan tidak hanya sebagai pusat pengolahan mineral, tetapi juga sebagai salah satu basis rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Bagi Maluku Utara, perkembangan tersebut memperkuat transformasi ekonomi dari daerah berbasis pertambangan menuju wilayah industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments