IndoBisnis – India mencatat lonjakan tajam kasus COVID-19 dalam sepuluh hari terakhir. Kementerian Kesehatan melaporkan pada Minggu (1/6) bahwa jumlah kasus aktif telah mencapai 3.395, naik signifikan dari 257 kasus yang tercatat pada 22 Mei.
Kenaikan ini diyakini dipicu oleh varian baru yang lebih mudah menular, yaitu JN.1—subvarian dari Omicron—yang pertama kali muncul akhir 2023 dan kini menjadi salah satu varian dominan secara global.
Menurut pernyataan resmi, dua subvarian JN.1, yakni LF.7 dan NB.1.8.1, telah terdeteksi di berbagai wilayah India. Meskipun penyebarannya cepat, kedua subvarian tersebut dianggap menyebabkan gejala ringan.
“Sebagian besar kasus menyerupai flu musiman. Kami tidak melihat lonjakan pasien rawat inap atau kunjungan darurat yang signifikan,” ujar Dr. Nikhil Modi, spesialis paru dari Rumah Sakit Indraprastha Apollo, mengutip Arab News. Ia menambahkan, “Setiap flu yang menyebar, menyebar seperti api.”
Dalam 24 jam terakhir, empat kematian dilaporkan di Delhi, Kerala, Karnataka, dan Uttar Pradesh. Namun, menurut Dr. Modi, para pasien yang meninggal memang sudah mengidap penyakit kritis sebelumnya.
India pernah mengalami lonjakan besar COVID-19 pada tahun 2021, dengan lebih dari 400.000 kasus per hari. Saat itu, rumah sakit kewalahan dan mengalami krisis pasokan oksigen dan obat-obatan penting.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 4,7 juta kematian di India berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pandemi.
“Jika mengingat 2021, wajar jika ada kepanikan. Tapi saat ini, keadaannya terkendali,” kata Dr. Modi. Ia memastikan bahwa seluruh rumah sakit telah diberi peringatan dan siap siaga. “Saat ini, kita tidak perlu panik mengenai hal itu.”
***
