Foto di atas hanyalah ilustrasi
Proyek Bronjong Desa Sumae Libatkan Masyarakat, Material Batu Dibeli Langsung dari Warga
Ringkasan Berita:
Aktivitas alat berat di sekitar sungai Desa Sumae, Halmahera Selatan, dipastikan hanya untuk mengangkut material batu menuju lokasi proyek bronjong. Jef menegaskan tidak ada penggalian material di sungai.
Seluruh batu yang digunakan dibeli dari masyarakat Desa Sumae dengan harga sekitar Rp400 ribu per meter kubik, sehingga proyek ini tidak hanya mendukung pembangunan infrastruktur tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat.
LABUHA, IndoBisnis – Aktivitas alat berat yang terlihat di sekitar aliran sungai dekat lokasi proyek bronjong di Desa Sumae, Kabupaten Halmahera Selatan, sempat memunculkan perhatian publik. Namun di balik aktivitas tersebut, tersimpan cerita tentang keterlibatan masyarakat lokal yang ikut mendukung pembangunan melalui penyediaan material batu untuk proyek tersebut.
Jef, yang terlibat dalam pekerjaan proyek bronjong Desa Sumae, menegaskan bahwa seluruh material batu yang digunakan berasal dari masyarakat setempat dan bukan hasil penggalian maupun pengambilan material dari aliran sungai.
Menurutnya, alat berat yang beroperasi di lokasi hanya digunakan untuk mengangkut batu menuju titik pekerjaan bronjong. Sementara badan sungai dimanfaatkan sebagai jalur operasional guna mempermudah proses mobilisasi material ke lokasi proyek.
Sungai Hanya Menjadi Jalur Operasional Alat Berat
Jef menjelaskan bahwa kondisi geografis di sekitar lokasi pekerjaan membuat jalur sungai menjadi akses paling efektif untuk dilalui alat berat. Karena itu, sungai dimanfaatkan sebagai lintasan operasional tanpa melakukan aktivitas pengambilan material.
Ia membantah anggapan yang menyebut adanya penggalian batu di dalam sungai untuk kebutuhan proyek bronjong.
“Sungai tersebut memang digunakan sebagai jalan operasional alat berat menuju lokasi pekerjaan untuk mengangkut batu yang dikumpulkan warga. Kami hanya mengangkut batu dan tidak melakukan penggalian material. Itu yang jelas,” ujar Jef saat dikonfirmasi IndoBisnis, Sabtu (19/6/2026).
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberadaan alat berat di sekitar sungai bukan untuk kegiatan penambangan, melainkan sebagai bagian dari proses distribusi material menuju lokasi pekerjaan.
Batu Proyek Bronjong Berasal dari Masyarakat Desa Sumae
Lebih lanjut, Jef menjelaskan bahwa seluruh batu yang digunakan dalam proyek bronjong telah lebih dahulu dikumpulkan oleh warga Desa Sumae.
Perusahaan kemudian membeli material tersebut dari masyarakat dengan harga sekitar Rp400 ribu per meter kubik. Setelah itu, batu diangkut menggunakan kendaraan operasional menuju lokasi pembangunan bronjong.
“Batu-batu tersebut kami beli dari masyarakat Desa Sumae. Warga yang mengumpulkan, kemudian kami yang mengangkutnya menggunakan mobil truk milik perusahaan menuju lokasi pekerjaan,” jelasnya.
Menurut Jef, pola kerja sama tersebut menjadi bentuk pelibatan masyarakat dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung di desa mereka.
Proyek Sekaligus Memberikan Manfaat Ekonomi bagi Warga
Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan material batu dinilai tidak hanya membantu kelancaran proyek, tetapi juga memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada warga.
Melalui mekanisme pembelian batu yang dikumpulkan masyarakat, warga memperoleh tambahan pendapatan dari sumber daya yang telah mereka siapkan untuk mendukung pembangunan.
Selain itu, partisipasi masyarakat dalam proyek bronjong menunjukkan adanya kolaborasi antara pelaksana pekerjaan dan warga setempat dalam membangun infrastruktur yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekitar.
Pembangunan dan Partisipasi Warga Berjalan Beriringan
Proyek bronjong Desa Sumae menjadi contoh bagaimana pembangunan infrastruktur dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Di tengah kebutuhan pembangunan fisik, keterlibatan warga dalam penyediaan material turut menciptakan nilai ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
***
