- SOROTAN LAPORAN :
- Kayu meranti Indonesia disebut mengalir hingga industri RV di Indiana.
- Mighty Earth menyoroti deforestasi Kalimantan dan meminta produsen menggunakan sumber kayu berkelanjutan.
Poin-poin penting ini ditulis oleh para reporter dan editor yang mengerjakan berita ini.
JAKARTA — Pohon kayu yang ditebang di Indonesia disebut masuk dalam rantai pasok industri kendaraan rekreasi (recreational vehicle/RV) di Amerika Serikat hingga berakhir di Elkhart County, Indiana. Perjalanan bahan baku tropis tersebut kini disorot kelompok lingkungan karena dikaitkan dengan deforestasi hutan Kalimantan dan hilangnya habitat orangutan.
Lebih dari delapan juta keluarga Amerika Serikat memiliki kendaraan rekreasi. Banyak RV diproduksi di Elkhart County, kawasan yang menjadi salah satu pusat manufaktur kendaraan tersebut di Amerika Utara.
Melansir Mighty Earth menilai besarnya penggunaan kayu impor dalam pembuatan RV perlu diikuti kebijakan pengadaan yang lebih ketat. Kelompok konservasi itu mendesak produsen memastikan bahan baku berasal dari sumber yang legal, dapat ditelusuri, dan berkelanjutan.
Dari Kalimantan Menuju Indiana
Direktur Mighty Earth Indiana Mike Oles mengatakan pihaknya menemukan rantai perdagangan kayu tropis yang membentang ribuan mil dari Indonesia menuju pusat industri RV di Amerika Serikat.
“Rantai pasokan sepanjang 10.000 mil dari Borneo ke Elkhart, Indiana,” kata Oles mengutip, Selasa 8 September 2026
Menurut Direktur Senior Mighty Earth Amanda Hurowitz, penelusuran dilakukan setelah organisasinya menemukan aktivitas penebangan hutan dalam skala luas di konsesi Mayawana Persada, Kalimantan.
“Saat kami mencoba mengidentifikasi apa yang mendorong deforestasi ini, kami menemukan keterkaitannya dengan industri kendaraan rekreasi di AS,” ujar Hurowitz.
Ia menjelaskan kayu lauan atau meranti disebut dipanen di Indonesia sebelum bergerak melalui sejumlah titik distribusi menuju pasar Amerika.
“Yang terjadi adalah kayu Lauan, atau meranti, dipanen di sana, lalu dikirim ke, saya rasa, Sumatra, dan kemudian dari Sumatra, kami melacaknya ke California, ke seorang importir di sana,” katanya.
Dari California, kayu tersebut menurut Hurowitz kemudian dikirim ke Patrick Industries. Bahan itu selanjutnya disebut digunakan dalam produk yang berkaitan dengan sejumlah produsen RV, termasuk Winnebago, Thor, dan Forest River.
Elkhart Jadi Pusat Produksi RV
Elkhart County menjadi sasaran kampanye lingkungan karena wilayah tersebut merupakan pusat manufaktur kendaraan rekreasi di Amerika Utara.
“85 hingga 90% RV di Amerika Utara dibuat, Anda tahu, di Elkhart County, kan?” kata Oles.
Konsentrasi manufaktur membuat kawasan tersebut menjadi titik penting dalam rantai pasok industri. Karena itu, Mighty Earth memilih Elkhart dan St. Joseph sebagai lokasi kampanye untuk menekan perusahaan agar memperbaiki kebijakan pengadaan kayu.
Pada April, kelompok tersebut memasang sejumlah papan reklame dengan pesan, “RV tidak seharusnya membunuh orangutan.”
Aktivis juga menggunakan truk reklame berjalan yang membawa slogan, “Kendaraan rekreasi Anda adalah penggundulan hutan di atas roda.”
Meranti Banyak Digunakan dalam RV
Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut asal bahan baku. Mighty Earth juga menyoroti tingginya penggunaan kayu dalam konstruksi kendaraan rekreasi.
Hurowitz mengatakan kayu digunakan untuk sejumlah bagian penting kendaraan, termasuk struktur bangunan.
“Kami agak terkejut dengan banyaknya kayu yang digunakan dalam pembuatan RV,” katanya.
Oles menyebut meranti memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya menarik bagi industri, antara lain ringan, fleksibel, mudah dipotong tipis, dan cocok untuk dibuat menjadi kayu lapis.
“Dinding, lantai, langit-langit, lemari, Anda tahu, di mana pun ada potongan kayu yang dibutuhkan, kemungkinan besar itu adalah meranti,” ujarnya.
Menurut Oles, persoalannya terletak pada biaya lingkungan yang tidak selalu tercermin dalam harga bahan baku. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan hilangnya habitat orangutan akibat pembukaan hutan.
Orangutan Terancam Kehilangan Habitat
Mighty Earth menyebut aktivitas penebangan di Mayawana Persada berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem hutan tropis.
https://abc57.com/news/abc57-investigates-the-rv-industrys-role-in-overseas-rainforest-deforestation
Video yang diberikan kepada ABC57 disebut memperlihatkan kegiatan penebangan di kawasan tersebut. Wilayah itu juga disebut menjadi tempat tinggal masyarakat adat Dayak.
Bagi kelompok konservasi, kerusakan hutan tidak hanya berarti berkurangnya tutupan pohon. Perubahan kawasan juga dapat mengancam habitat satwa liar yang bergantung pada ekosistem hutan tropis.
Hurowitz menegaskan bahwa tujuan utama organisasinya adalah menghentikan deforestasi.
“Kami adalah organisasi yang bekerja untuk menghentikan deforestasi. Kami tidak pernah bermaksud untuk menargetkan industri RV. Itu bukan agenda kami,” katanya.
Perdagangan Kayu Indonesia-Amerika
Sorotan terhadap rantai pasok RV berlangsung di tengah hubungan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat yang cukup besar.

Dalam forum bisnis mengenai produk hutan dan perdagangan pada Mei, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat menyebut nilai perdagangan kedua negara telah melampaui US$14 miliar pada 2025.
Amerika Serikat juga disebut menyumbang sekitar 15 persen terhadap total ekspor kayu Indonesia.
“Amerika Serikat termasuk di antara tujuan ekspor utama Indonesia untuk produk-produk berbasis hutan,” kata duta besar tersebut.
Dalam forum yang sama disebutkan kebutuhan industri kendaraan rekreasi mencapai sekitar 500 pohon lauan atau meranti per hari. Sebagian besar kayu tropis tersebut disebut berasal dari Indonesia.
Mighty Earth Minta Kayu Bersertifikat
Mighty Earth mendorong perusahaan RV menerapkan standar pengadaan kayu yang lebih ketat untuk mencegah bahan baku dari kawasan yang mengalami deforestasi masuk ke rantai produksi.
Salah satu usulan kelompok tersebut adalah penggunaan kayu lauan atau meranti yang memiliki sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC).
“Kami ingin industri RV mengadopsi standar keberlanjutan yang serupa dengan yang dimiliki Home Depot atau Lowes,” ujar Hurowitz.
Selain sertifikasi, kelompok lingkungan tersebut mengusulkan pemanfaatan bahan alternatif, termasuk kayu lapis berbasis komposit.
Langkah itu dinilai dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kayu tropis sekaligus memberikan kepastian mengenai asal material yang digunakan.
Perusahaan RV Belum Merespons
Kampanye Mighty Earth dilakukan setelah kelompok tersebut mengaku lebih dari setahun berupaya mendapatkan tanggapan dari perusahaan-perusahaan RV besar.
Aktivis bahkan mendatangi kantor perusahaan di Elkhart County. Namun, upaya tersebut disebut belum menghasilkan pertemuan dengan perwakilan industri.
Mighty Earth merilis laporan mengenai persoalan tersebut pada Agustus 2025. Pada bulan yang sama, isu rantai pasok kayu untuk industri RV juga diberitakan The New York Times.
“Ketika Anda mendapatkan berita utama di halaman depan surat kabar nasional besar seperti New York Times, Anda berharap itu akan membuat perbedaan,” kata Oles.
ABC57 menyatakan telah berulang kali meminta tanggapan perusahaan RV mengenai praktik pengadaan kayu. Hingga laporan tersebut dibuat, permintaan untuk berbicara dengan perwakilan industri belum memperoleh respons.
Oles mengatakan perkembangan industri tetap harus berjalan bersama tanggung jawab lingkungan.
“Kita tahu bahwa ketika industri RV berkembang, kita semua juga akan berkembang, bukan?” ujarnya.
Namun, menurut dia, pertumbuhan tersebut harus memastikan kendaraan dibuat dengan cara yang tidak merugikan lingkungan maupun masyarakat di wilayah asal bahan baku.
Persoalan kayu meranti tersebut pada akhirnya memperlihatkan panjangnya rantai pasok global. Kayu yang berasal dari hutan tropis Indonesia dapat bergerak melintasi berbagai negara sebelum menjadi bagian dari kendaraan rekreasi yang digunakan konsumen di Amerika Serikat.
***









