Selasa, Desember 16, 2025
spot_img
BerandaBERANDANasionalSoal Penggunaan Pengeras Suara Saat Ramadhan, Fraksi PKS: Menag Salah Fokus! Jangan...

Soal Penggunaan Pengeras Suara Saat Ramadhan, Fraksi PKS: Menag Salah Fokus! Jangan Ganggu Toleransi Yang Sudah Baik

Jakarta, IndoBisnis — Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menyayangkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mempertanyakan Surat Edaran (SE) Menag yang diterbitkan 18 Februari 2022 tentang aturan pengeras suara dalam menyambut Ramadhan tahun ini.

Menurutnya, alih-alih memotivasi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci, fokus Menteri pada SE justru mengganggu toleransi yang selama ini baik, khususnya dalam memeriahkan bulan suci Ramadhan.

“Pak Menteri kehilangan fokus. Mendekati Ramadhan, seharusnya Menteri bisa memotivasi dan mendorong umat Islam untuk memeriahkan Ramadhan agar kualitas iman dan amalnya meningkat. Kenapa fokus pada pengeras suara?” dia menjelaskan mengutip IndoBisnis.co.id, dari Website resmi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Minggu 10 Maret 2024.

Toleransi umat Islam dan umat beragama lain dalam mengamalkan keyakinannya sudah baik sejak lama dan tidak ada masalah. Jadi, Menteri tidak boleh salah memahami toleransi bangsa ini.

“Kemeriahan Ramadhan dengan kegiatan tarawih, tadarus al-Quran, kajian agama, semua itu adalah bagian dari semangat ibadah dan komitmen keagamaan yang baik untuk pembangunan bangsa. sejak Yaqut menjadi Menteri Agama, dan sejauh ini tidak ada masalah,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Jazuli, kemeriahan dakwah agama melalui pengeras suara di bulan suci ini bukan soal toleransi. Waktunya juga bukan saat orang sedang istirahat. Pengurus masjid dan umat Islam tentu mempunyai kontrol sosial yang baik agar dakwahnya diterima dengan baik dan tidak meresahkan orang lain.

Jadi, Menteri tidak boleh salah memahami hakikat toleransi. Jazuli Juwaini mengibaratkan tradisi di negara-negara Barat, di mana bel berbunyi keras setiap jam seperti biasanya. Yang tidak boleh adalah mengganggu ketertiban umum dan menimbulkan kerusuhan.

“Sedangkan dakwah agama sebenarnya baik dan sejalan dengan sila pertama Pancasila. Karena Indonesia bukan negara demokrasi liberal, melainkan negara demokrasi yang beriman kepada Tuhan sesuai dengan pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, “dia menyimpulkan.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments