Tag: Iran

  • Birol: Krisis Energi Global Masuk Fase Kritis

    Birol: Krisis Energi Global Masuk Fase Kritis

    • Ringkasan Berita
    • Kepala IEA Fatih Birol menegaskan bahwa perang Iran telah mendorong ekonomi global ke dalam fase krisis energi yang serius.
    • Gangguan pasokan minyak dan gas disebut lebih parah dibandingkan krisis energi sebelumnya, dengan dampak yang berpotensi memicu inflasi global dan ketidakstabilan pasar berkepanjangan.

    IndoBisnis — Pernyataan Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol di National Press Club Australia, Canberra, pada Senin, kembali menegaskan eskalasi krisis energi global yang dipicu perang Iran.

    Birol menggambarkan kondisi ekonomi dunia saat ini berada dalam tekanan ekstrem.

    “Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berlanjut ke arah ini,” ujar Fatih Birol, dikutip AP dalam keterangannya di Canberra pada Senin.

    Dalam analisisnya, Birol menilai krisis di Timur Tengah tidak lagi sekadar guncangan regional, melainkan telah menjadi tekanan global yang melampaui krisis energi sebelumnya. Ia menyebut dampaknya terhadap minyak lebih buruk dibandingkan gabungan dua krisis minyak pada era 1970-an, serta lebih parah terhadap gas dibandingkan perang Rusia–Ukraina.

    Di tengah eskalasi konflik, situasi di lapangan juga terus memburuk. Israel melancarkan serangan baru ke Teheran pada Senin pagi, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

    Respons keras langsung datang dari Iran yang menyatakan siap menyerang aset energi serta infrastruktur Amerika Serikat dan Israel jika menjadi target serangan lanjutan.

    Di sisi lain, tekanan politik domestik di Amerika Serikat terhadap Trump juga meningkat, seiring lonjakan harga minyak global yang memicu kekhawatiran ekonomi di dalam negeri.

    Birol menilai risiko terbesar saat ini terletak pada potensi gangguan jangka panjang produksi minyak dan gas di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai dapat mempertahankan harga energi di level tinggi dan mendorong inflasi global meningkat tajam.

    Namun demikian, ia menyoroti bahwa pasar saham Amerika Serikat memiliki pola pemulihan yang relatif cepat dari konflik geopolitik, selama harga minyak tidak bertahan tinggi dalam jangka waktu panjang.

    Di kawasan Teluk, Iran dilaporkan memperluas serangan dan mengancam fasilitas pembangkit listrik di sejumlah negara tetangga.

    “Situasinya sangat gawat,” kata Birol menegaskan.

    Dalam perspektif historis, Birol membandingkan kondisi saat ini dengan krisis minyak 1973 dan 1979 yang menyebabkan hilangnya sekitar 10 juta barel per hari dan memicu resesi global. Namun, ia menilai kondisi saat ini bahkan lebih buruk.

    “Dan hari ini, hanya sampai hari ini saja, kita kehilangan 11 juta barel per hari — jadi lebih dari gabungan dua guncangan minyak besar,” ujarnya.

    Pada sektor gas, ia juga membandingkan dampak perang Rusia–Ukraina yang sebelumnya menyebabkan kehilangan sekitar 75 miliar meter kubik, sementara saat ini mencapai sekitar 140 miliar meter kubik.

    Dampak lanjutan terlihat pada infrastruktur energi global. Birol menyebut sekitar 40 aset energi di sembilan negara telah mengalami kerusakan berat hingga sangat berat.

    Ia juga menyoroti terganggunya jalur perdagangan global vital, termasuk petrokimia, pupuk, belerang, dan helium.

    “Semua perdagangan tersebut terganggu, yang akan berdampak serius bagi ekonomi global,” katanya.

    Sebagai langkah stabilisasi, IEA diketahui telah melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar untuk meredam gejolak harga.

    “Ini merupakan peristiwa bersejarah. Kita belum pernah melepaskan begitu banyak minyak ke pasar,” ujar Birol.

    Ia menegaskan bahwa solusi kunci saat ini tetap berada pada stabilisasi Selat Hormuz dalam kondisi normal.

    Lebih lanjut, Birol menyampaikan bahwa IEA masih melakukan konsultasi dengan berbagai negara di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Timur Tengah terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak tambahan.

    “Kita akan lihat, kita akan mengamati pasar. Jika memang perlu, tentu saja kita akan melakukannya, tetapi kita akan melihat kondisinya, menganalisis, menilai pasar, dan berdiskusi dengan negara-negara anggota kita,” tutupnya.

    ***

    Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

    Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Birol: Krisis Energi Global Masuk Fase Kritis

    Disclaimer

    Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

    IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

  • Intelijen Rusia ke Iran Picu Ketegangan Baru di Teluk Persia

    Intelijen Rusia ke Iran Picu Ketegangan Baru di Teluk Persia

    • Ringkasan
    • Hubungan strategis antara Rusia dan Iran kembali menjadi sorotan setelah intelijen Amerika Serikat mengungkap dugaan bahwa Moskow telah membagikan informasi sensitif kepada Teheran yang berpotensi membantu serangan terhadap aset militer AS di kawasan Teluk Persia.
    • Informasi tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam sepekan terakhir. Pemerintah AS tidak secara langsung membantah laporan tersebut, namun menegaskan bahwa operasi militer mereka tidak terpengaruh.
    • Di sisi lain, Rusia menghindari konfirmasi mengenai dukungan militer atau intelijen kepada Iran. Situasi ini memperlihatkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks, di mana kerja sama Rusia–Iran, perang Rusia–Ukraina, serta konflik Timur Tengah saling berkelindan dan meningkatkan ketegangan global.

     

    IndoBisnis – Intelijen Amerika Serikat mengungkap bahwa Rusia diduga telah memberikan informasi kepada Iran yang dapat membantu Teheran menargetkan kapal perang, pesawat militer, serta berbagai aset Amerika di kawasan Teluk Persia.

    Dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen tersebut menyampaikan bahwa informasi dari Moskow berpotensi digunakan Iran untuk meningkatkan kemampuan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat di wilayah tersebut.

    Namun, menurut para pejabat itu, sejauh ini belum ditemukan bukti bahwa Rusia secara langsung mengarahkan Iran mengenai bagaimana informasi tersebut harus digunakan. Mereka juga menekankan bahwa temuan ini muncul di tengah situasi militer yang memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan terhadap aset dan sekutu AS di kawasan.

    Melansir laporan Associated Press (AP), informasi ini menjadi indikasi awal bahwa Moskow mulai terlibat, setidaknya secara tidak langsung, dalam konflik yang pecah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam sepekan terakhir.

    Selama bertahun-tahun, Rusia menjadi salah satu negara yang tetap mempertahankan hubungan erat dengan Iran, di tengah isolasi internasional yang dihadapi Teheran akibat program nuklirnya serta dukungan terhadap berbagai kelompok proksi di Timur Tengah, termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

    Di Washington, isu tersebut memicu ketegangan politik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menegur seorang reporter yang mengangkat topik tersebut saat sesi tanya jawab media di Gedung Putih pada Jumat malam.

    “Saya sangat menghormati Anda, Anda selalu sangat baik kepada saya,” kata Trump kepada reporter Fox News, Peter Doocy. Ia kemudian menambahkan dengan nada tajam, “Pertanyaan bodoh sekali yang diajukan saat ini. Kita sedang membicarakan hal lain.”

    Sejumlah pejabat Gedung Putih mencoba meredam dampak laporan tersebut. Mereka tidak secara tegas membantah adanya pertukaran intelijen antara Rusia dan Iran, tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak memengaruhi operasi militer Amerika.

    Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa operasi militer AS tetap berjalan efektif. Ia menegaskan, “Jelas hal itu tidak membuat perbedaan apa pun terkait operasi militer di Iran karena kami benar-benar menghancurkan mereka.”

    Senada dengan itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Pentagon terus memantau semua dinamika yang terjadi di balik layar konflik.

    Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS, Hegseth menyatakan bahwa pemerintah AS sangat menyadari hubungan komunikasi antara negara-negara yang terlibat.

    “Rakyat Amerika dapat yakin bahwa panglima tertinggi mereka sangat menyadari siapa yang berbicara dengan siapa,” ujar Hegseth. Ia menambahkan bahwa segala aktivitas yang tidak seharusnya terjadi, baik secara terbuka maupun melalui jalur belakang, sedang ditangani secara tegas oleh pemerintah.

    Meski demikian, Leavitt menolak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apakah Presiden Trump telah berbicara langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait dugaan pertukaran intelijen tersebut.

    Ia juga tidak menjawab secara langsung ketika ditanya apakah Rusia harus menghadapi konsekuensi atas dugaan tindakan itu, dengan menyatakan bahwa presiden sendiri yang akan memberikan komentar mengenai isu tersebut.

    Dari Moskow, Kremlin juga memilih sikap berhati-hati. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rusia memang terus melakukan dialog dengan Iran, tetapi belum ada permintaan resmi dari Teheran terkait bantuan militer.

    “Kami sedang berdialog dengan pihak Iran, dengan perwakilan dari kepemimpinan Iran, dan tentu akan melanjutkan dialog ini,” kata Peskov.

    Ketika didesak mengenai kemungkinan pemberian bantuan militer atau intelijen kepada Iran sejak konflik pecah, Peskov menolak memberikan komentar lebih lanjut.

    Hubungan Rusia dan Iran memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Moskow membutuhkan pasokan drone dan rudal untuk mendukung perang melawan Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

    Pemerintahan AS sebelumnya membuka dokumen intelijen yang menunjukkan bahwa Iran memasok drone serang kepada Rusia. Teheran bahkan disebut membantu Kremlin membangun fasilitas produksi drone di wilayah Rusia.

    Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga pernah menuduh Iran mentransfer rudal balistik jarak pendek ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina.

    Rincian mengenai intelijen terbaru ini pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.

    Ketika ditanya apakah laporan tersebut memengaruhi kepercayaan Presiden Trump terhadap kemampuan Vladimir Putin dalam mencapai kesepakatan damai dalam perang Rusia-Ukraina, Karoline Leavitt menegaskan bahwa upaya perdamaian tetap menjadi tujuan utama.

    “Saya pikir presiden akan mengatakan bahwa perdamaian masih merupakan tujuan yang dapat dicapai terkait perang Rusia-Ukraina,” ujarnya.

    Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Amerika Serikat dan sejumlah sekutunya di Timur Tengah mulai mempertimbangkan pengalaman Ukraina dalam menghadapi serangan drone Shahed buatan Iran.

    Menurut Zelenskyy, negaranya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait, untuk membahas kemungkinan kerja sama pertahanan terhadap ancaman drone.

    Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat, Olga Stefanishyna, menjelaskan bahwa Ukraina memiliki pengalaman panjang menghadapi serangan drone tersebut.

    “Ukraina tahu cara bertahan melawan serangan pesawat tak berawak Shahed karena kota-kota kami telah menghadapi serangan tersebut hampir setiap malam,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Ukraina siap membantu negara-negara mitra yang membutuhkan dukungan.

    Hubungan Trump dengan Zelenskyy sendiri kerap mengalami pasang surut. Presiden AS itu sebelumnya beberapa kali menekan pemimpin Ukraina tersebut agar mempertimbangkan tuntutan Rusia, termasuk kemungkinan menyerahkan sebagian wilayah yang masih berada di bawah kendali Kyiv.

    Di tengah eskalasi konflik global, Pentagon juga menghadapi pertanyaan mengenai kesiapan stok senjata Amerika Serikat jika perang melawan Iran berlangsung lebih lama.

    Menanggapi hal itu, Trump menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang menurutnya telah mengirim miliaran dolar persenjataan canggih kepada Ukraina tanpa mengisi kembali cadangan militer Amerika.

    ***

    Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

    Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Intelijen Rusia ke Iran Picu Ketegangan Baru di Teluk Persia

    Disclaimer

    Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

    IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

  • Iran Tolak Ultimatum AS, Serangan Balasan Meluas

    Iran Tolak Ultimatum AS, Serangan Balasan Meluas

    • Ringkasan
    • Perang di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran menolak tuntutan “penyerahan tanpa syarat” yang disuarakan Amerika Serikat.
    • Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Washington, meskipun rudal dan drone Amerika dilaporkan menuju kawasan Teluk.
    • Di saat yang sama, jet tempur Israel menggempur Beirut dan Teheran, sementara Iran meluncurkan gelombang serangan balasan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika.
    • Dugaan serangan udara AS terhadap sebuah sekolah dasar di Iran juga memicu kecaman internasional, ketika jumlah korban jiwa terus meningkat di berbagai negara yang terlibat dalam konflik tersebut.

     

    IndoBisnis – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan “penyerahan tanpa syarat” yang diajukan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik militer yang semakin meluas di Timur Tengah.

    Melansir laporan Associated Press, Pezeshkian tetap menegaskan penolakan tersebut sembari menyampaikan permintaan maaf atas serangan yang mengenai sejumlah negara di kawasan.

    Pernyataan itu muncul ketika rudal dan drone Amerika Serikat dilaporkan bergerak menuju negara-negara Teluk Arab.

    Situasi ini dinilai menunjukkan bahwa kepemimpinan politik di Tehran kemungkinan tidak sepenuhnya memiliki kendali atas seluruh operasi militer Republik Islam Iran.

    Di saat yang sama, pesawat tempur Israel melancarkan pemboman terhadap target di Beirut dan Teheran pada Jumat.

    Serangan tersebut berlangsung ketika Iran kembali meluncurkan gelombang serangan balasan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika Serikat.

    Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak mengesampingkan kemungkinan jalur negosiasi dengan Iran.

    Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menyerukan agar Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.

    Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mempertegas sikap tersebut.

    “Penyerahan tanpa syarat dapat terjadi bahkan jika Iran tidak berada dalam posisi untuk mengatakannya sendiri,” ujar Leavitt dikutip AP, Sabtu (7/3/2026).

    Trump juga mengatakan kepada media pada Kamis bahwa ia ingin terlibat dalam proses memilih pemimpin Iran berikutnya, sebuah pernyataan yang semakin meningkatkan ketegangan politik antara kedua negara.

    Di tengah meningkatnya intensitas serangan, sorotan internasional juga tertuju pada ledakan mematikan yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran.

    Bukti awal menunjukkan insiden yang terjadi pada 28 Februari tersebut kemungkinan besar merupakan serangan udara Amerika Serikat. Peristiwa itu dilaporkan menjadi insiden dengan jumlah korban sipil terbesar sejak perang dimulai.

    Serangan tersebut memicu kritik keras dari United Nations serta sejumlah pengawas hak asasi manusia yang menyoroti meningkatnya korban sipil akibat konflik.

    Pemerintah Amerika Serikat hingga kini belum mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut, namun menyatakan tengah melakukan penyelidikan.

    Sementara itu, jumlah korban tewas akibat perang terus meningkat.

    Pejabat di masing-masing negara melaporkan sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran, lebih dari 200 orang di Lebanon, serta sekitar selusin korban jiwa di Israel. Konflik tersebut juga menewaskan enam tentara Amerika Serikat.

    Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang awalnya terbatas kini semakin melebar dan berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perang kawasan.

    ***

    Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

    Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Iran Tolak Ultimatum AS, Serangan Balasan Meluas

    Disclaimer

    Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

    IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

  • Swiss Buka Kembali Kedutaan Besar di Teheran Setelah Ketegangan Iran-Israel Mereda

    Swiss Buka Kembali Kedutaan Besar di Teheran Setelah Ketegangan Iran-Israel Mereda

    IndoBisnis – Pemerintah Swiss secara resmi membuka kembali Kedutaan Besarnya di Teheran setelah sebelumnya ditutup sementara akibat memanasnya konflik udara antara Iran dan Israel.

    Hal ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Swiss pada Minggu, 6 Juli 2025.

    “Duta Besar Nadine Olivieri Lozano dan tim kecil kembali ke Teheran kemarin melalui darat melalui Azerbaijan. Kedutaan besar akan secara bertahap melanjutkan operasinya,” jelas pernyataan resmi Departemen Luar Negeri Federal Swiss. Selasa, 8 Juli 2025 sebagaimana dikutip dari Reuters

    Kedutaan tersebut sebelumnya ditutup sejak 20 Juni 2025 menyusul eskalasi serangan udara antara kedua negara di kawasan Timur Tengah.

    Swiss, selain menjalankan hubungan bilateralnya, juga memiliki peran penting karena mewakili kepentingan Amerika Serikat di Iran.

    Pembukaan kembali ini menandai langkah positif dalam pemulihan hubungan diplomatik dan stabilitas regional.

    ***

  • BRICS Kutuk Serangan Israel dan AS terhadap Iran

    BRICS Kutuk Serangan Israel dan AS terhadap Iran

    IndoBisnis – Iran mendapatkan dukungan diplomatik dari negara-negara anggota BRICS dalam pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025).

    Dalam pernyataan bersama, blok yang terdiri dari 11 negara itu mengecam keras serangan militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap berbagai fasilitas di wilayah Iran.

    “Kami mengutuk serangan militer terhadap Republik Islam Iran sejak 13 Juni 2025,” tulis pernyataan resmi BRICS, sebagaimana dikutip AFP, Senin (7/7/2025).

    Pernyataan itu tidak menyebut secara eksplisit nama Israel atau Amerika Serikat, namun arah kritiknya sangat jelas.

    Blok tersebut juga menyampaikan “keprihatinan serius atas serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas nuklir damai”, yang dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

    Pernyataan ini menjadi kemenangan diplomatik penting bagi Teheran, yang sebelumnya menghadapi minimnya dukungan regional dan internasional dalam menghadapi serangan selama 12 hari berturut-turut dari militer Israel.

    Serangan tersebut bahkan berpuncak pada operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan.

    Pertemuan BRICS kali ini dihadiri negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok—dua sekutu strategis Iran—serta negara-negara anggota baru yang memiliki keberpihakan kuat terhadap prinsip kedaulatan dan hukum internasional.

    Diskusi internal sempat berlangsung panas, khususnya dalam menyusun bahasa pernyataan yang menggambarkan tingkat kecaman terhadap Israel dan AS.

    Namun, setelah melalui negosiasi, para diplomat BRICS sepakat memperkuat pernyataan mereka atas permintaan langsung dari Teheran.

    Kesepakatan ini tidak hanya menunjukkan kohesi politik di antara anggota BRICS, tetapi juga sinyal bahwa dominasi narasi global Barat mulai dipertanyakan secara terbuka oleh blok kekuatan alternatif.

    Langkah BRICS ini dipandang sebagai sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa pelanggaran hukum internasional—termasuk agresi militer terhadap negara berdaulat—tidak dapat ditoleransi, dan harus mendapat reaksi tegas dari blok-blok kekuatan dunia lainnya.

    ***

  • Iran Resmi Hentikan Kerja Sama Nuklir dengan IAEA Pasca Serangan Israel-AS

    Iran Resmi Hentikan Kerja Sama Nuklir dengan IAEA Pasca Serangan Israel-AS

    IndoBisnis – Rabu yang panas di Teheran menjadi saksi atas langkah besar yang diambil Republik Islam Iran. Dalam sebuah keputusan bersejarah, Iran secara resmi menghentikan seluruh bentuk kerja sama dengan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

    Langkah ini datang tidak lama setelah serangkaian serangan udara yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat menghantam fasilitas-fasilitas nuklir Iran, menyulut ketegangan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Mengutip laporan AFP, konflik antara Iran dan Israel yang pecah pada 13 Juni dan berlangsung selama dua belas hari telah membawa konsekuensi besar, tidak hanya bagi hubungan kedua negara, tetapi juga terhadap dinamika antara Teheran dan IAEA.

    Pada 25 Juni, satu hari setelah gencatan senjata tercapai, parlemen Iran dengan suara mayoritas menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA. RUU itu kemudian meluncur cepat melewati Dewan Wali—badan pengawas legislatif—dan pada akhirnya disahkan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

    Dalam siaran langsung TV pemerintah Iran pada hari Rabu, disampaikan dengan tegas, “Masoud Pezeshkian mengumumkan undang-undang yang menangguhkan kerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional.”

    Pengayaan Uranium dan Kedaulatan Nuklir

    Teks resmi undang-undang yang dirilis media Iran menyatakan bahwa tujuan dari kebijakan ini adalah untuk “memastikan dukungan penuh terhadap hak-hak yang melekat pada Republik Islam Iran” sesuai dengan ketentuan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Penekanan khusus diberikan pada hak Iran untuk melakukan “pengayaan uranium,” yang selama ini menjadi pokok pertentangan utama antara Teheran dan Washington.

    Amerika Serikat, bersama Israel dan negara-negara Barat lainnya, selama bertahun-tahun menuduh Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun, tuduhan ini selalu dibantah oleh Teheran, yang bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan sah secara hukum internasional.

    Meskipun naskah undang-undang tidak menyebutkan secara rinci tindakan teknis apa yang akan diambil, keputusan ini memberi sinyal kuat bahwa akses inspektur IAEA ke fasilitas-fasilitas nuklir yang sebelumnya dibuka oleh Iran kemungkinan besar akan dicabut atau dibatasi.

    Kritik Tajam terhadap IAEA dan Rafael Grossi

    Kemarahan Iran tidak berhenti pada sekadar penangguhan kerja sama. Sejumlah pejabat tinggi Iran menuding IAEA bersikap pasif dalam menyikapi serangan Israel dan AS terhadap infrastruktur nuklir Iran.

    Teheran juga mengecam keras resolusi IAEA yang diadopsi pada 12 Juni—hanya sehari sebelum pecahnya perang—yang menuduh Iran gagal memenuhi kewajiban nuklirnya. Bagi Iran, resolusi itu adalah dalih yang digunakan musuh untuk melancarkan serangan brutal.

    Ali Mozaffari, pejabat senior kehakiman Iran, pada hari Rabu menyebut bahwa Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, “harus diminta pertanggungjawaban” atas perannya dalam “mempersiapkan dasar untuk kejahatan” terhadap Iran. Pernyataan keras itu mengacu pada serangan udara Israel.

    Mozaffari bahkan menuduh Grossi terlibat dalam “tindakan penipuan dan pelaporan palsu,” seperti dilansir oleh kantor berita Tasnim. Dalam semangat pembelaan terhadap kedaulatan, Iran menolak permintaan Grossi untuk mengunjungi fasilitas nuklir yang menjadi sasaran pengeboman, seraya menyebut tindakannya “merusak” dan penuh “niat jahat.”

    Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa tidak ada ancaman terhadap Grossi atau para inspektur dari agensinya. Namun, Prancis, Jerman, dan Inggris menyuarakan keprihatinan atas “ancaman” yang tidak dijelaskan secara spesifik terhadap pimpinan IAEA.

    Kritik terhadap Grossi juga mencuat dari media dalam negeri. Surat kabar konservatif Kayhan bahkan menuduh Grossi sebagai “mata-mata Israel” dan menyatakan bahwa ia “harus dieksekusi.”

    Suara Publik Iran dan Gelombang Ketidakpercayaan

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada hari Senin mengatakan bahwa pemungutan suara parlemen untuk menghentikan kerja sama dengan IAEA mencerminkan “kekhawatiran dan kemarahan opini publik Iran.” Ketidakpercayaan rakyat terhadap lembaga-lembaga internasional disebut telah mencapai titik puncak.

    Perang 12 Hari yang Membakar Timur Tengah

    Perang dimulai ketika Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menargetkan tokoh militer dan ilmuwan nuklir. Sebagai respons, Iran mengerahkan ratusan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah Israel.

    Puncak eskalasi terjadi pada 22 Juni. Amerika Serikat, sekutu dekat Israel, menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordo, Isfahan, dan Natanz. Serangan ini disebut sebagai operasi militer terbesar terhadap program nuklir Iran dalam sejarah. Menurut pengadilan Iran, lebih dari 900 orang tewas akibat serangan ini.

    Iran tidak tinggal diam. Gelombang serangan balasan diluncurkan ke wilayah Israel, menewaskan 28 orang, sebagaimana disampaikan oleh otoritas Israel.

    Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa operasi itu telah “melenyapkan” program nuklir Iran. Namun hingga kini, dampak sebenarnya dari serangan tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen.

    Pengetahuan Tidak Bisa Dihancurkan oleh Bom

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui bahwa serangan tersebut menyebabkan “kerusakan serius” pada situs-situs nuklir Iran.

    Namun dalam wawancara bersama CBS Evening News, ia dengan tenang menegaskan: “Seseorang tidak dapat melenyapkan teknologi dan sains… melalui pengeboman.”

    Pernyataan itu menjadi simbol perlawanan Iran terhadap tekanan militer dan diplomatik dari negara-negara Barat. Bagi Teheran, ilmu pengetahuan adalah kekuatan yang tidak bisa dipadamkan oleh roket ataupun rudal kendali.

    ***

  • Tiongkok Minta Warganya Tinggalkan Israel Segera

    Tiongkok Minta Warganya Tinggalkan Israel Segera

    IndoBisnis — Ketegangan antara Israel dan Iran terus meningkat dan mulai menimbulkan kekhawatiran global.

    Sebagai respons terhadap kondisi keamanan yang memburuk, Kedutaan Besar Tiongkok di Israel pada Selasa (7/6/2025) mengeluarkan imbauan kepada seluruh warganya agar segera meninggalkan wilayah Israel.

    “Misi Tiongkok di Israel mengingatkan warga negara Tiongkok untuk meninggalkan negara itu secepat mungkin melalui penyeberangan perbatasan darat, dengan syarat mereka dapat menjamin keselamatan pribadi mereka,” tulis Kedutaan Besar Tiongkok dalam pernyataan resmi di platform WeChat, mengutip laporan kantor berita AFP.

    Pihak kedutaan juga merekomendasikan agar warga Tiongkok menuju Yordania sebagai rute pelarian yang dinilai lebih aman.

    Konflik Meletus, Perundingan Nuklir Gagal

    Ketegangan memuncak setelah Israel melancarkan operasi udara secara mendadak ke sejumlah titik strategis di Iran. Pemerintah Israel mengklaim bahwa serangan itu dilakukan guna mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Namun, Iran membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai dalih agresi militer.

    Akibat serangan tersebut, proses perundingan nuklir antara kedua negara dikabarkan terhenti. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah meminta Iran untuk kembali ke meja perundingan guna meredakan ketegangan.

    Situasi Memburuk, Infrastruktur Rusak

    Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Tiongkok di Israel menegaskan bahwa kondisi keamanan di kawasan terus memburuk.

    “Banyak infrastruktur sipil telah rusak, korban sipil meningkat, dan situasi keamanan menjadi lebih serius,” tulis pihak kedutaan.

    Peningkatan agresi antara kedua negara tersebut dikhawatirkan dapat memicu konflik skala regional. Negara-negara besar pun mulai mengeluarkan peringatan dan evakuasi terhadap warga negaranya masing-masing.

    ***