Tag: KoreaUtara

  • Kim Uji Nyali Rudal Nuklir

    Kim Uji Nyali Rudal Nuklir

    • Ringkasan
    • Kim Jong Un mengawasi peluncuran rudal jelajah strategis jarak jauh pada Minggu, menegaskan kesiapan dan penguatan tanpa batas kekuatan nuklir Korea Utara.
    • Korea Selatan mendeteksi peluncuran dari wilayah Sunan dekat Pyongyang dan menilai rangkaian aktivitas militer Pyongyang merusak stabilitas kawasan.
    • Uji coba ini mengikuti pengamatan Kim atas pembangunan kapal selam bertenaga nuklir dan berbagai uji senjata lain, di tengah persiapan menuju Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea pada awal 2026.

     

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi langsung peluncuran rudal jelajah strategis jarak jauh pada Minggu.

    Aksi ini disebut menegaskan integritas kekuatan nuklir serta kesiapan serangan balik negara tersebut dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan.

    Informasi itu disampaikan media pemerintah KCNA pada Senin.

    Peluncuran tersebut menjadi agenda terbaru yang dihadiri Kim dalam rangkaian aktivitas intensif kepemimpinan Korea Utara untuk menggarisbawahi kemajuan militer dan ekonomi menjelang kongres partai penguasa utama yang diperkirakan digelar pada awal 2026.

    KCNA melaporkan, Kim menyatakan “kepuasan yang besar” saat menyaksikan rudal jelajah itu terbang mengikuti orbitnya di atas laut sebelah barat Semenanjung Korea dan mengenai sasaran yang dituju.

    Dalam pernyataannya, Kim menegaskan bahwa “memeriksa keandalan dan respons cepat komponen penangkal nuklir DPRK secara berkala … (adalah) sebuah latihan yang bertanggung jawab,” mengingat negaranya “menghadapi berbagai ancaman keamanan,” dengan menggunakan nama resmi Korea Utara, Republik Demokratik Rakyat Korea.

    Kim juga menegaskan bahwa Korea Utara akan terus mencurahkan seluruh upaya untuk pengembangan “tanpa batas” kekuatan tempur nuklirnya, demikian melansir KCNA.

    Di sisi lain, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan pada Senin bahwa militer mereka telah mendeteksi peluncuran beberapa rudal jelajah sekitar pukul 08.00 waktu setempat pada Minggu (23.00 Sabtu GMT). Peluncuran tersebut terdeteksi berasal dari wilayah Sunan, dekat Pyongyang.

    Serangkaian aktivitas militer Korea Utara dalam sepekan terakhir—termasuk pekerjaan berkelanjutan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir—dinilai sebagai

    “aktivitas yang merusak perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, mengutip pada Senin (29/12/2025) pukul 19.22 WIT.

    Peluncuran pada Minggu ini menyusul laporan KCNA pekan lalu yang menyebut Kim mengamati pembangunan kapal selam bertenaga nuklir bersama putrinya—yang disebut-sebut berpotensi menjadi penerus—serta mengawasi uji tembak rudal permukaan-ke-udara jarak jauh.

    Korea Utara kemungkinan akan melakukan uji coba rudal tambahan sekitar Hari Tahun Baru. Yonhap mengutip seorang pejabat militer Korea Selatan yang menyatakan kemungkinan tersebut, meski militer Korea Selatan menolak berkomentar lebih lanjut terkait potensi peluncuran lanjutan.

    Menurut Hong Min, pakar Korea Utara di Institut Unifikasi Nasional Korea yang berbasis di Seoul, peluncuran pada Minggu besar kemungkinan merupakan uji peningkatan rudal jelajah yang mampu membawa senjata konvensional maupun nuklir.

    Di tengah eskalasi militer, Kim juga dilaporkan menghadiri upacara pembukaan sebuah pabrik kertas pada Minggu, menurut KCNA.

    Sepanjang bulan lalu, Kim tercatat menghadiri berbagai peresmian fasilitas, termasuk pabrik dan hotel, seiring upaya negara tersebut menuntaskan “rencana lima tahun” pembangunan yang sedang berjalan.

    Seluruh rangkaian agenda ini dipandang sebagai bagian dari persiapan menuju Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea yang berkuasa, yang dijadwalkan berlangsung pada awal 2026—sebuah momentum politik penting yang kerap dijadikan panggung untuk menegaskan arah strategis militer dan ekonomi Pyongyang.

    ***

    Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.

    Artikel ini diterbitkan IndoBisnis dengan judul: Kim Uji Nyali Rudal Nuklir.

    Disclaimer

    Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

    IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

  • Radio Bebas Korea Utara Terancam Krisis

    Radio Bebas Korea Utara Terancam Krisis

    • Pemotongan Dana dan Perubahan Kebijakan Memaksa Stasiun Independen Bertahan Sendirian.

     

    Selama dua jam setiap hari, Lee Si-young dan rekan-rekannya menyiarkan berita asing tanpa sensor ke Korea Utara yang otoriter. Pendengar radionya bisa dipenjara jika ketahuan mendengarkan.

    Stasiun Radio Bebas Korea Utara (FNK) milik Lee yang berbasis di Seoul telah berupaya selama dua dekade untuk memberikan berita terkini kepada 26 juta penduduk Korea Utara. Namun, Lee mengatakan ia kini merasakan krisis dalam pekerjaannya karena penyiar besar yang didanai pemerintah di Amerika Serikat dan Korea Selatan telah bungkam tahun ini akibat pemotongan dana besar-besaran dan perubahan kebijakan.

    “Kekecewaan kami terhadap pemerintah AS dan Korea Selatan semakin menjadi-jadi atas penangguhan siaran radio mereka,” kata Lee, seorang pembelot yang memimpin FNK, mengutip AP, Selasa (25/11/2025). “Kami khawatir mereka telah menelantarkan penduduk Korea Utara.”

    • Saluran Utama Berhenti Siaran

    Di Korea Utara, semua radio dan televisi disiarkan melalui saluran milik negara. Namun, para pembelot bersaksi bahwa mereka memodifikasi radio mereka atau menggunakan radio selundupan untuk diam-diam mendengarkan siaran asing di malam hari. Informasi yang disajikan termasuk perspektif luar tentang dinasti Kim, gaya hidup Barat yang lebih makmur, serta kisah sukses para pembelot.

    Situs akademis 38 North menilai bulan lalu bahwa penyiaran radio luar terhadap Korea Utara turun hingga 85% setelah pemotongan dana yang dilakukan oleh pemerintah AS dan Korea Selatan.

    Dua lembaga penyiaran besar AS, Voice of America (VOA) dan Radio Free Asia (RFA), terpaksa menghentikan siaran radio berbahasa Korea setelah Presiden AS Donald Trump pada Maret menandatangani perintah eksekutif yang membubarkan badan yang mengawasi atau menyediakan dana bagi jaringan media tersebut. Trump menilai kedua jaringan memiliki bias liberal dan boros.

    Pemerintah liberal Korea Selatan yang dipimpin Presiden Lee Jae Myung menghentikan siaran radio lintas batas untuk meredakan permusuhan dengan Korea Utara. Pemerintahnya juga mematikan pengeras suara garis depan yang menyiarkan lagu-lagu K-pop dan berita dunia, serta melarang aktivis menerbangkan balon berisi selebaran propaganda dan stik USB melintasi perbatasan.

    Stasiun FNK kini menjadi salah satu dari sedikit organisasi sipil atau keagamaan yang masih menyiarkan siaran radio ke Korea Utara. Lee menekankan bahwa VOA dan RFA jauh lebih besar dibanding kelompoknya, yang hanya beranggotakan lima pembelot dari Korea Utara.

    “Kami merasa sedih dan bimbang, apakah kami harus memberi tahu Korea Utara bahwa siaran yang ditangguhkan itu hanya dihentikan sementara dan pasti akan dimulai kembali, atau bahwa kami satu-satunya dari sedikit yang selamat,” ujar Lee.

    • Alternatif Digital bagi Warga Korea Utara

    Meskipun ada kemunduran dalam upaya menyebarkan berita luar di Korea Utara, Lee Young-hyeon, seorang pembelot yang menjadi pengacara di Korea Selatan, bulan ini meluncurkan situs web dan aplikasi seluler untuk menyediakan cara alternatif bagi warga Korea Utara mendapatkan informasi luar.

    Lee mengatakan Korea Internet Studio miliknya pertama-tama menyasar puluhan ribu warga Korea Utara yang tinggal di luar negeri, termasuk buruh, mahasiswa, diplomat, dan anggota keluarga mereka. Banyak dari mereka menggunakan ponsel dengan akses internet global, sebuah hak istimewa yang tidak dimiliki warga Korea Utara.

    Kelompoknya bertujuan menghasilkan konten praktis bagi warga Korea Utara di luar negeri, seperti bagaimana siswa dapat memperoleh kredit lebih baik di sekolah asing, hadiah yang bisa dibeli pekerja untuk orang tercinta, serta pengetahuan tentang mata uang kripto.

    “Kami tidak berharap publik menggunakan konten kami untuk memicu pemberontakan dan menggulingkan pemerintah Korea Utara,” kata Lee. “Tujuannya agar warga Korea Utara belajar bahwa ada dunia yang baik di mana mereka dapat menikmati kebebasan dan hak.”

    Lee menambahkan, menurutnya Korea Utara pada akhirnya mungkin melonggarkan pembatasan internet secara terbatas untuk memungkinkan perusahaan China, Rusia, Vietnam, dan asing membuka kantor lokal di sana. Namun, banyak pengamat tetap skeptis.

    Sejak 2020, Korea Utara memperketat undang-undang untuk menolak pengaruh budaya asing, terutama dari Korea Selatan. Undang-Undang Penolakan Ideologi dan Budaya Reaksioner menjatuhkan hukuman penjara hingga 10 tahun dengan kerja paksa bagi mereka yang mengonsumsi, memiliki, atau menyebarkan film dan musik asing, serta hingga lima tahun bagi pengguna saluran radio dan TV ilegal.

    • Dampak Siaran Asing terhadap Korea Utara

    Beberapa pihak mempertanyakan sejauh mana kampanye penyebaran berita luar negeri berdampak di Korea Utara. Peluncuran balon propaganda dan siaran melalui pengeras suara juga menjadi sumber ketegangan utama dengan Pyongyang.

    Pada Juli, Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young menyebut siaran radio dan pengeras suara sebagai “peninggalan Perang Dingin” dan berharap penangguhan siaran dapat memperbaiki hubungan dengan Korea Utara. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan penangguhan siaran radio Voice of Freedom dimaksudkan untuk meredakan ketegangan militer.

    Para pejabat Korea Selatan mengatakan Korea Utara mematikan pengeras suara perbatasannya sendiri dan menghentikan sinyal pengacau, tetapi tetap menolak melanjutkan perundingan lama dengan Korea Selatan dan AS.

    Sebelum pembelotannya pada 2003, Paek Yosep terkejut ketika siaran radio Korea Selatan melaporkan protes anti-pemerintah di Seoul, sesuatu yang tak terbayangkan di Korea Utara. Paek mengatakan, ketika bertugas sebagai tentara di unit garis depan, ia senang mendengarkan musik yang diputar keras dari pengeras suara Korea Selatan di seberang perbatasan.

    Kim Ki-sung dari FNK menambahkan, siaran radio Korea Selatan yang ia dengarkan selama satu dekade sebelum melarikan diri pada 1999 memengaruhi keputusan pembelotannya. Ia mengetahui bahwa Korea Selatan cukup kaya untuk memberikan pinjaman kepada Uni Soviet dan memiliki begitu banyak mobil hingga terjadi kemacetan.

    “Saya tidak yakin seberapa kuat kecanduan narkoba, tetapi saya rasa siaran-siaran itu sama saja,” kata Kim. “Banyak yang bertanya apakah orang Korea Utara benar-benar mendengarkan program kami. Namun, saya yakin kami harus terus melakukan ini meskipun hanya satu orang yang mendengarkan siaran kami.”

    ***

  • Pasukan Korea Utara Rontok di Ukraina, 6.000 Lebih Jadi Korban

    Pasukan Korea Utara Rontok di Ukraina, 6.000 Lebih Jadi Korban

    IndoBisnis – Kementerian Pertahanan Inggris mengungkap bahwa lebih dari 6.000 tentara Korea Utara menjadi korban saat bertempur membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina, Minggu (15/6) mengutip Reuters

    “Lebih dari separuh dari sekitar 11.000 pasukan yang dikirim ke wilayah Kursk mengalami korban jiwa dan luka-luka,” tulis Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataan resmi di platform X, Senin (16/6).

    Hingga kini, tidak ada tanggapan resmi dari Korea Utara maupun Rusia atas laporan tersebut. Namun keterlibatan pasukan Pyongyang dalam konflik ini dinilai sebagai bukti dukungan militer langsung Korea Utara kepada Rusia.

    ***