IndoBisnis – Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk usaha PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), dilaporkan mengalami kerugian besar akibat ekspansi agresif dalam proyek hilirisasi nikel di Indonesia. Menurut Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), kerugian tahunan perusahaan asal Tiongkok itu mencapai CNY 1,8 hingga 2,2 miliar atau sekitar Rp4,08–Rp4,99 triliun.
“Ekspansi besar di Indonesia memicu kerugian finansial Delong,” ujar Djoko Widajatno, Anggota Dewan Penasihat Pertambangan APNI, mengutip Bloomberg Technoz, Rabu (18/6/2025).
Jiangsu Delong semula mengembangkan empat entitas bisnis nikel di Indonesia: GNI, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), PT Obsidian Stainless Steel (OSS), dan PT Nadesico Nickel Industry (NNI). Saat ini, hanya GNI yang masih berada dalam kepemilikan penuh. Sisanya telah diambil alih oleh mitra patungan asal Tiongkok seperti China First Heavy Group, Xiamen Xiangyu Group, dan CNGR.
Meski demikian, Djoko menyebut bahwa operasi anak usaha Jiangsu Delong di Indonesia belum kolaps. “Beberapa lini produksi diturunkan, khususnya di GNI, tetapi kegiatan operasional masih berjalan,” jelasnya. Ia juga mengungkap bahwa GNI sedang dalam proses mencari pendanaan baru untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, yang mengatakan bahwa pendanaan baru untuk GNI kemungkinan rampung Agustus 2025. “Saat ini GNI sedang menunggu jadwal rapat kreditur. Selama proses transisi, pendanaan masih berasal dari Jiangsu Delong,” ujar Setia.
Sebagai informasi, Jiangsu Delong merupakan salah satu investor besar dalam hilirisasi nikel Indonesia, selain Tsingshan Holding Group. Perusahaan ini dibangun oleh Dai Guo Fang dan memiliki kapasitas produksi tahunan lebih dari 10 juta ton baja nirkarat dari fasilitas di Tiongkok dan Indonesia.
Namun, penurunan harga nikel dalam beberapa tahun terakhir, ditambah tekanan keuangan dan restrukturisasi utang sejak 2024, memaksa Delong melepas sebagian kepemilikan bisnisnya di Indonesia.
GNI yang berdiri sejak 2019, beroperasi di Desa Bunta, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, dan memiliki smelter dengan kapasitas 1,9 juta ton NPI per tahun menggunakan teknologi RKEF. Proyek ini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Desember 2021.
Perusahaan ini juga berkolaborasi dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Alchemist Metal Industry Pte Ltd dalam pengembangan smelter di Konawe Utara dan Morowali Utara. GNI melengkapi rantai pasok hilirisasi yang sebelumnya dijalankan oleh VDNI dan OSS, yang bersama-sama telah menanamkan investasi sekitar US$8 miliar atau Rp130 triliun, dan menyerap 27.000 tenaga kerja.
Meski diterpa tantangan finansial, PT GNI tetap berupaya menjaga operasi dan mencari solusi pendanaan untuk menjaga keberlanjutan proyek hilirisasi nikel nasional.
***
