Kamis, Agustus 6, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISEkspor Semester I 2026 Melonjak, Maluku Utara Perkuat Posisi Daerah Penghasil Mineral

Ekspor Semester I 2026 Melonjak, Maluku Utara Perkuat Posisi Daerah Penghasil Mineral

  • Ringkasan Berita:
    Ekspor Maluku Utara sepanjang Semester I 2026 melonjak 21,80 persen menjadi US$8,34 miliar.
  • Kinerja sektor hilirisasi nikel dan besi baja mendorong surplus perdagangan mencapai US$4,75 miliar meski impor ikut meningkat.

TERNATE – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Maluku Utara terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Juni 2026 atau Semester I 2026, nilai ekspor daerah ini mencapai US$8.341,91 juta, meningkat 21,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara menunjukkan peningkatan tersebut semakin memperkuat posisi Maluku Utara sebagai salah satu pusat ekspor mineral dan produk hilirisasi terbesar di Indonesia.

Di sisi lain, nilai impor juga meningkat menjadi US$3.582,98 juta, atau tumbuh 35,55 persen dibandingkan Semester I 2025. Kendati demikian, nilai ekspor yang jauh lebih besar membuat neraca perdagangan Maluku Utara tetap mencatat surplus sebesar US$4.758,93 juta.

Kinerja ekspor Maluku Utara semakin menguat pada Juni 2026. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai US$1.464,15 juta, meningkat 48,47 persen dibandingkan Juni 2025.

Lonjakan tersebut mencerminkan tingginya permintaan pasar internasional terhadap produk hilirisasi mineral yang diproduksi kawasan industri di Maluku Utara, terutama nikel dan besi baja.

Besi Baja dan Nikel Masih Menjadi Motor Utama

Komoditas Nikel (HS 75) menjadi penyumbang kenaikan nilai ekspor terbesar sepanjang Januari–Juni 2026 dengan tambahan nilai mencapai US$1.102,14 juta.

Sementara itu, Bahan Kimia Anorganik (HS 28) mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase sebesar 54,77 persen, seiring meningkatnya kapasitas industri pengolahan mineral.

Meski demikian, Besi dan Baja (HS 72) tetap menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai US$4.338,52 juta. Posisi berikutnya ditempati Nikel (HS 75) sebesar US$3.132,32 juta, serta Bahan Kimia Anorganik (HS 28) senilai US$422,17 juta.

Ketiga kelompok komoditas tersebut menyumbang 94,62 persen dari total ekspor Maluku Utara selama Semester I 2026.

Tiongkok Tetap Menjadi Pasar Utama

Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor Maluku Utara dengan nilai mencapai US$7.616,16 juta sepanjang Semester I 2026.

Besarnya nilai ekspor ke negara tersebut menunjukkan permintaan industri Tiongkok terhadap produk besi baja dan nikel dari kawasan industri Maluku Utara masih sangat kuat.

Selain melalui pelabuhan di Maluku Utara, sebagian komoditas ekspor juga dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi. Selama Januari–Juni 2026, nilai ekspor yang dimuat melalui pelabuhan luar daerah mencapai US$480,88 juta atau 5,45 persen dari total ekspor. Dari jumlah tersebut, Pelabuhan DKI Jakarta menjadi jalur pengiriman terbesar dengan nilai US$470,22 juta atau 5,33 persen.

Seiring meningkatnya aktivitas industri pengolahan mineral, nilai impor Maluku Utara juga mengalami kenaikan signifikan.

Selama Semester I 2026, impor tercatat US$3.582,98 juta, naik 35,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Khusus Juni 2026, nilai impor mencapai US$757,83 juta, meningkat 35,16 persen dibandingkan Juni 2025.

Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku, mesin, dan berbagai peralatan produksi.

Kelompok Garam, Belerang, dan Kapur (HS 25) menjadi komoditas impor dengan kenaikan nilai terbesar, yakni US$511,87 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Mesin dan Peralatan Listrik (HS 85) mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase mencapai 187,29 persen, yang mencerminkan meningkatnya investasi pada fasilitas produksi dan industri pengolahan.

Tiongkok Pemasok Impor Terbesar

Dari sisi negara asal barang, Tiongkok masih menjadi pemasok utama impor Maluku Utara dengan nilai US$1.966,03 juta atau 54,87 persen dari total impor.

Posisi berikutnya ditempati Filipina sebesar US$367,52 juta atau 10,26 persen, disusul Arab Saudi senilai US$296,53 juta atau 8,28 persen.

Ketiga negara tersebut menjadi pemasok utama berbagai kebutuhan industri, mulai dari bahan baku hingga mesin produksi.

Kepala Seksi Humas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Ternate, Ary Patria Sanjaya, mengatakan kinerja perdagangan luar negeri Maluku Utara menunjukkan tren yang terus menguat.

“Berdasarkan data BPS Maluku Utara, nilai ekspor daerah terus meningkat seiring berkembangnya industri pengolahan mineral dan aktivitas hilirisasi,” ujar Ary Patria Sanjaya kepada IndoBisnis (5/8/2026)

Secara tidak langsung, ia menjelaskan bahwa penguatan ekspor menunjukkan produk industri berbasis mineral dari Maluku Utara masih memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Sebelumnya, sepanjang 2025 nilai ekspor Maluku Utara mencapai US$14.230,90 juta, naik dari US$11.065,17 juta pada 2024.

Pada Desember 2025 saja, nilai ekspor mencapai US$1.389,89 juta, meningkat 26,09 persen dibandingkan Desember 2024.

Komoditas Besi dan Baja (HS 72) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan tambahan US$2.268,28 juta, sedangkan Logam Dasar Lainnya (HS 81) mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase sebesar 510,07 persen.

Secara keseluruhan, Besi dan Baja menjadi komoditas ekspor terbesar sepanjang 2025 dengan nilai US$8.919,67 juta, disusul Nikel (HS 75) sebesar US$4.565,97 juta, serta Bahan Kimia Anorganik (HS 28) senilai US$602,55 juta. Ketiganya menyumbang sekitar 99 persen dari total ekspor Maluku Utara.

Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor dengan nilai sekitar US$13.593,4 juta, sekaligus menegaskan besarnya permintaan industri negara tersebut terhadap produk hasil hilirisasi Maluku Utara.

Pada periode yang sama, nilai impor Maluku Utara mencapai US$6.428,58 juta, naik 52,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski impor meningkat tajam, neraca perdagangan Maluku Utara sepanjang 2025 tetap mencatat surplus sebesar US$7.802,32 juta, memperlihatkan kuatnya daya saing ekspor daerah yang ditopang industri pengolahan mineral.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments