- Ringkasan Berita:
- SMK Maritim Muhammadiyah Haltim di Subaim memperkuat pendidikan vokasi melalui program kewirausahaan, praktik kerja lapangan, pendataan alumni, peluang kerja luar negeri, serta seleksi Kawan SMK.
- Sebanyak tujuh siswa kini mengikuti seleksi Kawan SMK Direktorat SMK Kemendikdasmen untuk menjadi kandidat duta SMK tingkat nasional.
HALMAHERA TIMUR — SMK Maritim Muhammadiyah Haltim (Subaim), Jalan Raya Batu Raja, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, terus memperkuat program pendidikan vokasi dengan membekali siswa keterampilan kewirausahaan, praktik kerja lapangan, hingga peluang pengembangan kompetensi di tingkat nasional.
Kepala SMK Maritim Muhammadiyah Haltim, Ibrahim Rumatamerik, mengatakan program sekolah tahun ini disusun bersama para guru dengan tetap mengikuti program yang telah dicanangkan Direktorat SMK.
Selain mengikuti program pemerintah, sekolah juga mengembangkan inovasi sendiri sesuai potensi siswa dan kebutuhan masyarakat.
“Program kami di SMK Maritim untuk tahun ini sudah kita rumuskan bersama dengan teman-teman guru. Kami punya program mengikuti program yang telah dicanangkan oleh Direktorat SMK. Selain itu, kami juga tetap berinovasi sendiri,” ujar Ibrahim kepada IndoBisnis, Selasa ( 25/8/2026).
Menurutnya, arah pendidikan di SMK tidak cukup hanya memberikan pembelajaran teori. Siswa harus mendapatkan pengalaman praktik agar memiliki keterampilan yang dapat digunakan setelah menyelesaikan pendidikan.
Salah satu program yang dijalankan adalah Proyek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK).
Melalui program tersebut, siswa mendapatkan bantuan modal usaha untuk membuat dan mengembangkan produk. Sekolah kemudian mendorong siswa mempraktikkan proses produksi hingga pemasaran.
Ibrahim menjelaskan, program PKK menjadi bagian penting dalam membentuk jiwa kewirausahaan siswa.
“PKK itu tidak cukup untuk dia belajar teori saja, tapi dia juga belajar praktiknya, sehingga nanti melahirkan anak-anak yang mempunyai entrepreneur, jiwa bisnis, jiwa wirausaha,” katanya.
Program tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami bagaimana sebuah usaha dijalankan sejak dari modal, pembelian bahan baku, produksi, pengemasan hingga penjualan.
SMK Maritim Muhammadiyah Haltim sebelumnya memiliki program pembuatan kapal-kapal kecil atau mini kapal. Namun, tahun ini sekolah juga mengembangkan produk makanan.
Beberapa produk yang dibuat siswa antara lain sambal bibit cumi, sambal ayam suwir dan jamu siduh.
Dalam program tersebut, setiap kelompok siswa memperoleh modal usaha. Ibrahim memberikan contoh satu kelompok mendapatkan modal sebesar Rp1,7 juta.
Untuk membuat sambal bibit cumi, misalnya, siswa membeli cumi, tomat, cabai, jahe dan kebutuhan lainnya. Sekolah juga membantu menyediakan kemasan produk.
Setelah produk selesai dibuat, siswa langsung memasukkannya ke dalam kemasan sebelum dipasarkan.
Menurut Ibrahim, produk sambal dengan volume 200 mililiter sebelumnya dipasarkan sekitar Rp30 ribu per kemasan.
“Dengan modal Rp1.700.000, dia beli bahan bakunya. Alhamdulillah dari modal itu dia bisa dapat Rp3 juta,” ujar Ibrahim.
Bagi sekolah, capaian tersebut bukan hanya soal keuntungan. Siswa sekaligus belajar menghitung modal dan hasil penjualan.
“Dari sisi pengetahuan dia memperoleh pengetahuan bahwa modal sekian, jual dapat sekian. Selisih antara modal dengan jual itulah dia punya keuntungan,” katanya.
Ibrahim menegaskan sekolah tidak mengambil keuntungan dari hasil usaha siswa.
“Sekolah tidak mengambil satu rupiah pun dari hasil keuntungan itu. Sekolah hanya memberi modal,” tegasnya.
Keuntungan tersebut kemudian dibagi kepada anggota kelompok sesuai kesepakatan.
Ia memberikan contoh, apabila satu kelompok terdiri dari lima orang dan mendapatkan keuntungan bersih Rp1 juta, maka keuntungan tersebut dapat dibagi kepada lima anggota kelompok.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengelola hasil usaha secara bersama.
Program tersebut sekaligus mengajarkan kerja sama, tanggung jawab, pembagian hasil, serta pemahaman dasar mengenai keuntungan usaha.
Sistem yang digunakan sekolah adalah modal bergilir.
Setelah satu kelompok menyelesaikan produksi dan memperoleh keuntungan, modal awal tersebut kemudian digunakan oleh kelompok siswa lainnya.
“Modal Rp1 juta lebih tadi itu dia bergilir. Kita kasih ke kelompok lain, kita kasih ke kelompok lain lagi supaya anak-anak lain juga memanfaatkan. Jadi tidak fokus di anak-anak itu saja,” jelas Ibrahim.
Dengan pola tersebut, modal tetap dapat digunakan secara berkelanjutan untuk memberikan kesempatan kepada kelompok siswa lainnya.
Sementara hasil keuntungan menjadi bagian siswa yang menjalankan usaha.
Menurut Ibrahim, konsep tersebut membuat siswa mendapatkan dua manfaat sekaligus, yakni pengalaman bisnis dan hasil dari usaha yang mereka jalankan.
Siswa Diberi Pengetahuan Bisnis dan Riset Pasar
Sekolah juga mendatangkan narasumber untuk memberikan pengetahuan mengenai dunia bisnis.
Materi yang diberikan antara lain cara menjalankan bisnis dan melakukan riset pasar.
Ibrahim mengatakan siswa perlu memahami bahwa menjalankan usaha tidak hanya berkaitan dengan membuat produk.
Mereka juga perlu mengetahui kebutuhan pasar, menentukan produk yang akan dibuat, menghitung modal, menetapkan harga, serta memasarkan produk.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat membentuk pola pikir kewirausahaan siswa sejak berada di bangku sekolah.
SMK Maritim Muhammadiyah Haltim juga mulai memanfaatkan aplikasi yang disiapkan Direktorat SMK untuk membantu memasarkan produk siswa.
Ibrahim menyebut aplikasi tersebut sebagai Senarai KAIKA.
Melalui aplikasi tersebut, siswa yang telah memiliki akun dapat memasukkan dan mempublikasikan produk yang mereka hasilkan.
“Anak-anak punya hasil produk tadi, nanti diposting. Karena anak-anak daftar aplikasinya, kemudian masuk sebagai siswa SMK, kemudian dia posting di situ,” katanya.
Dengan aplikasi tersebut, produk siswa SMK Maritim Muhammadiyah Haltim diharapkan dapat dikenal lebih luas, termasuk oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Saat ini siswa masih dalam proses pendaftaran akun karena aplikasi tersebut baru mulai digunakan.
Ibrahim menjelaskan akses aplikasi tersebut ditujukan bagi siswa SMK yang telah memiliki akun. Proses login menggunakan NPSN sekolah.
Karena produksi sebelumnya telah terjual habis, sekolah berencana kembali memproduksi produk siswa untuk melanjutkan kegiatan sekaligus memperbarui dokumentasi dan pemasaran melalui aplikasi.
Siswa Kelas III Dipersiapkan Praktik Kerja Lapangan
Selain kewirausahaan, SMK Maritim Muhammadiyah Haltim mempersiapkan siswa kelas III untuk mengikuti praktik kerja lapangan (PKL).
Sekolah telah mengirimkan surat kepada sejumlah industri dan lembaga. Sebagian telah memberikan persetujuan, sementara lainnya masih dalam proses.
Untuk jurusan pertambangan, sekolah mulai berkomunikasi dengan PT ARA dan PT JAAS guna membuka kesempatan praktik bagi siswa.
“Pertambangan itu kami baru mulai menyurat ke PT ARA dan PT JAAS untuk meminta supaya anak-anak kita praktik di situ,” ujar Ibrahim.
Program PKL tersebut diharapkan memberikan pengalaman langsung kepada siswa sesuai kompetensi masing-masing.
Untuk jurusan pelayaran, sekolah telah mendapatkan persetujuan dari pihak perhubungan di Tobelo.
Ibrahim mengatakan Kantor KSOP Tobelo telah menerima siswa SMK Maritim Muhammadiyah Haltim untuk menjalani praktik.
“Surat persetujuan sudah diterima. Insyaallah mungkin minggu-minggu depan anak-anak itu kita bawa ke Tobelo untuk praktik selama enam bulan,” katanya.
Praktik tersebut menjadi kesempatan bagi siswa jurusan pelayaran untuk memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja yang sesuai dengan bidang pendidikan mereka.
SMK Maritim Muhammadiyah Haltim juga memiliki jurusan layanan kesehatan.
Untuk jurusan tersebut, sekolah telah berkomunikasi dengan Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Ternate terkait kerja sama praktik siswa.
Menurut Ibrahim, komunikasi telah mendapatkan persetujuan dan pihak rumah sakit akan mengirimkan draf MOU untuk dipelajari sebelum ditandatangani.
“Nanti anak-anak akan praktik di Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Ternate,” ujarnya.
Sebelumnya, siswa jurusan layanan kesehatan menjalani praktik di Rumah Sakit Umum Daerah Maba.
Tahun ini, sekolah berupaya memberikan pengalaman yang lebih luas dengan membuka kesempatan praktik di luar daerah.
Program SMK Maritim Muhammadiyah Haltim juga mencakup pendataan alumni melalui program resource study.
Program tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Alumni akan didata berdasarkan status mereka, apakah sudah bekerja, belum bekerja atau melanjutkan pendidikan.
“Nanti didata alumni mana yang sudah bekerja, alumni mana yang belum bekerja, atau alumni mana yang melanjut. Itu nanti dijaring dalam bentuk aplikasi yang namanya resource study,” jelas Ibrahim.
Menurutnya, pendataan tersebut penting agar sekolah mengetahui perkembangan lulusan.
Data itu juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat seberapa banyak lulusan yang terserap dunia kerja, melanjutkan pendidikan atau masih mencari pekerjaan.
Ibrahim mengatakan salah satu kelebihan pendidikan SMK adalah hubungan sekolah dengan alumni tidak berhenti setelah siswa dinyatakan lulus.
Sekolah tetap memiliki program untuk mendata dan mengetahui perkembangan lulusan.
“Begitu dia tamat, kita masih punya program untuk mendata mereka,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, pendataan tersebut juga dapat membuka peluang bagi sekolah untuk membangun kerja sama lebih lanjut, termasuk membantu siswa mendapatkan kesempatan magang maupun pekerjaan.
SMK Maritim Muhammadiyah Haltim juga memiliki jaringan yang membuka peluang bagi siswa untuk mengikuti program kerja atau magang di luar negeri.
Ibrahim menyebut terdapat peluang menuju Jerman, Jepang dan China.
Namun, program tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan karena sekolah masih mempertimbangkan kondisi masyarakat dan kesiapan orang tua serta siswa.
Ia mengatakan pengalaman sekolah lain menunjukkan bahwa lulusan SMK dapat mengikuti program kebekerjaan luar negeri.
Ibrahim mencontohkan komunikasi dengan SMK di Tuban yang setiap tahun mengirim siswa ke Jepang dan Jerman.
Menurutnya, program kerja luar negeri membutuhkan persiapan, terutama kemampuan bahasa.
“Kalau kerja di luar negeri itu paling tidak dia ikut kursus bahasa dulu. Itu berbayar,” katanya.
Ia berharap dukungan pemerintah dapat membantu siswa dan orang tua mempersiapkan kebutuhan tersebut.
Ibrahim juga mengajak masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi, untuk mempertimbangkan pendidikan SMK sebagai salah satu pilihan bagi anak.
Menurut dia, SMK memberikan bekal keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja maupun berwirausaha.
“Makanya masyarakat yang orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, saya sarankan kalau bisa itu masuk SMK,” ujarnya.
Ia menilai siswa SMK tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan yang dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
“Kalau masuk SMK, dia sudah mampu berwirausaha. Dia berbisnis. Dia sudah punya pengetahuan tentang bisnis,” katanya.
Menurut Ibrahim, pengalaman mengelola modal, membeli bahan, membuat produk, menjual dan menghitung keuntungan dapat membentuk pola pikir bisnis siswa sejak dini.
Tujuh Siswa Ikuti Seleksi Kawan SMK
Program terbaru yang tengah diikuti siswa SMK Maritim Muhammadiyah Haltim adalah seleksi Kawan SMK melalui Direktorat SMK Kemendikdasmen.
Saat ini terdapat tujuh siswa SMK Maritim Muhammadiyah Haltim yang mengikuti program tersebut.
Ibrahim menjelaskan Kawan SMK merupakan program yang mencari siswa SMK yang memiliki talenta dan kompetensi untuk kemudian dipersiapkan menjadi duta SMK tingkat nasional.
“Tujuh orang siswa sementara mengikuti program seleksi Kawan SMK melalui Direktorat SMK Kemendikdasmen,” ujar Ibrahim.
Menurut dia, dalam proses seleksi tersebut berbagai kompetensi yang dimiliki siswa dapat ditampilkan melalui sertifikat maupun karya tulis.
Dokumen dan karya tersebut kemudian diunggah melalui aplikasi Kawan SMK untuk selanjutnya dinilai oleh tim seleksi di Direktorat SMK.
Program Kawan SMK menjadi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki.
Tidak hanya prestasi akademik, kompetensi siswa dalam berbagai bidang juga dapat menjadi bagian dari bahan penilaian.
Ibrahim mengatakan sertifikat kompetensi maupun karya tulis yang dimiliki siswa diunggah ke dalam aplikasi sebagai bagian dari proses seleksi.
“Semua kompetensi yang dimiliki siswa SMK dalam bentuk sertifikat ataupun karya tulis di-upload di aplikasi Kawan SMK yang selanjutnya dinilai oleh tim seleksi di Direktorat SMK,” jelasnya.
Sekolah berharap tujuh siswa yang mengikuti seleksi tersebut dapat memperoleh hasil terbaik.
“Mudah-mudahan di antara tujuh siswa yang mengikuti program ini ada yang bisa lolos sebagai Kawan SMK,” harap Ibrahim.
Rangkaian program tersebut menunjukkan arah pendidikan SMK Maritim Muhammadiyah Haltim yang tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran di ruang kelas.
Siswa diberikan kesempatan untuk memproduksi barang, menjual produk, mengelola modal, mengikuti praktik kerja, mengenal dunia industri, hingga menunjukkan kompetensi melalui program tingkat nasional.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut penting agar siswa memiliki bekal ketika memasuki kehidupan setelah lulus.
Program kewirausahaan melalui PKK memberikan pengalaman bisnis. PKL memberikan pengalaman dunia kerja. Pendataan alumni membantu sekolah mengetahui perjalanan lulusan. Sementara seleksi Kawan SMK membuka ruang bagi siswa untuk menunjukkan talenta dan kompetensinya di tingkat yang lebih luas.
Ibrahim menegaskan program sekolah dapat berubah dan berkembang setiap tahun mengikuti kebutuhan serta program Direktorat SMK.
“Begitu program kita itu untuk tahun ini. Dan tiap tahun kan berubah-ubah itu,” katanya.
Dengan berbagai program tersebut, SMK Maritim Muhammadiyah Haltim berupaya membentuk lulusan yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha, pengalaman praktik, kompetensi yang terukur, dan peluang untuk mengembangkan diri hingga tingkat nasional maupun internasional.
***
