21 November 2025 menjelang ditutupnya Konferensi iklim terbesar dunia, COP 30 di Belem, Brazil, kembali tercoreng. Di tengah bahasa manis “transisi hijau”, terselip ironi yang sulit ditutupi: Harita Nikel salah satu raksasa industri nikel di Maluku Utara, tampil sebagai sponsor. Bukan untuk mempertanggungjawabkan kerusakan lingkungan—tetapi memoles citra di panggung global.

Sementara masyarakat adat, nelayan, dan komunitas pesisir menghadapi kenyataan keras—tanah hilang, air rusak, laut tercemar, dan ritme hidup adat terkoyak—suara mereka justru tenggelam di ruang konferensi yang dipenuhi logo sponsor korporasi. Sebuah pemandangan yang pantas disebut: kolonialisme hijau.
