- Ringkasan Berita:
- Pertambangan nikel mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara, tetapi ekspansi tambang di Halmahera Timur.
- Juga memunculkan sorotan terhadap kerusakan ekosistem, sedimentasi, lumpur merah, dan berkurangnya hasil tangkapan nelayan.
- Warga Desa Saramaake dan Desa Nanas mengaku merasakan perubahan kondisi laut secara langsung.
HALMAHERA TIMUR — Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Logam ini menjadi bahan utama dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, stainless steel, hingga berbagai produk teknologi modern. Tidak heran, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas pertambangan nikel meningkat pesat, terutama di wilayah Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
Di balik peluang ekonomi tersebut, muncul persoalan lain yang tidak bisa diabaikan. Aktivitas pertambangan nikel juga menimbulkan sorotan terhadap kondisi lingkungan dan ekosistem di sekitar kawasan tambang, termasuk wilayah pesisir yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat ekonomi Maluku Utara pada triwulan II 2026 tumbuh 15,35 persen secara year-on-year (y-on-y) dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.
Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tersebut terutama ditopang oleh kinerja lapangan usaha industri pengolahan. Sektor tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 35,84 persen pada triwulan II 2026.
Pertumbuhan industri pengolahan menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong kinerja perekonomian Maluku Utara. Peningkatan aktivitas sektor tersebut turut mencerminkan berkembangnya kegiatan ekonomi di daerah.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 15,35 persen menunjukkan penguatan aktivitas ekonomi Maluku Utara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan dampak yang semakin luas terhadap masyarakat dan pembangunan daerah.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang terlihat dalam angka statistik tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan pertambangan.
Di atas kertas, ekonomi tumbuh. Di lapangan, masyarakat mempertanyakan harga ekologis yang harus dibayar.
Ekspansi Tambang dan Degradasi Ekosistem
Permintaan global terhadap nikel mendorong pembukaan tambang baru dalam skala besar.
Hutan-hutan yang sebelumnya menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna kini berubah menjadi kawasan industri.
Proses pembukaan lahan tambang sering kali menyebabkan deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan gangguan pada sistem hidrologi.
Perubahan tutupan lahan tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air. Ketika kawasan hutan berubah menjadi area terbuka, air hujan lebih mudah membawa material tanah menuju badan air.
Selain itu, erosi tanah dari area tambang kerap menyebabkan sedimentasi di sungai dan pesisir.
Lumpur yang terbawa air hujan mengendap di perairan, menurunkan kualitas air dan berpotensi merusak ekosistem laut, termasuk terumbu karang yang menjadi tempat hidup berbagai biota laut.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting di wilayah pesisir Halmahera Timur karena kehidupan masyarakat di sejumlah desa sangat berkaitan dengan laut.
Bagi nelayan, perubahan kualitas perairan bukan sekadar persoalan lingkungan. Kondisi tersebut dapat berpengaruh langsung terhadap hasil tangkapan dan pendapatan keluarga.
Nelayan Teluk Kau Mengaku Merasakan Dampak Langsung
Dampak lingkungan akibat pertambangan nikel tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Warga Desa Saramaake, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, mengungkapkan kondisi hasil tangkapan nelayan di Teluk Kau yang disebut mengalami perubahan signifikan.
Warga menegaskan dampak tersebut dirasakan secara langsung, bukan sekadar tidak langsung, khususnya oleh nelayan bagan yang beraktivitas di wilayah Teluk Kau dari Desa Saramaake hingga Loleba.
“Bukan secara tidak langsung, secara langsung itu berdampak yang sangat luar biasa di nelayan khususnya di Teluk Kau, khususnya di Desa Saramaake sampai Loleba,” ujar Suryadi Tabengki kepada IndoBisnis, Senin (24/8/2026)
Menurut Suryadi, sebelum perusahaan beroperasi, nelayan bagan masih dapat memperoleh hasil tangkapan dalam jumlah besar.
Ia menyebut hasil tangkapan dalam satu malam sebelumnya dapat mencapai sekitar setengah ton hingga satu ton.
“Kalau tahun sebelumnya, kita masih bisa pastikan satu malam itu sampai setengah ton, sampai bisa satu ton per malam,” katanya.
Namun, ia mengatakan kondisi tersebut kini berubah. Hasil tangkapan yang sebelumnya mudah diperoleh disebut sudah sulit ditemukan di kawasan Teluk Kau.
“Tapi hari ini yang secara nyata tidak ada lagi ikan yang ada di Teluk Kau ini, hilang,” ujar Suryadi.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan nelayan terhadap perubahan kondisi perairan yang selama ini menjadi ruang produksi sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Bagi nelayan bagan, keberadaan ikan di perairan bukan hanya menyangkut ekosistem. Hasil tangkapan menentukan pendapatan harian, biaya operasional melaut, kebutuhan rumah tangga, hingga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Keluhan serupa disampaikan Amos warga Desa Nanas, Kecamatan Wasile Selatan.
Ia mengatakan pendapatan masyarakat dari hasil laut sebelum dan sesudah perusahaan beroperasi mengalami perbedaan yang cukup jauh.
“Kalau kita (kami) punya pendapatan hasil laut sebelum perusahaan dan sesudah, itu perbedaan agak jauh,” kata Amos, Senin (24/8/2026)
Menurut Amos, aktivitas mencari ikan saat ini semakin sulit.
Ia mengatakan nelayan yang menggunakan jaring alat tangkap ikan menemukan material berwarna merah ketika jaring ditarik.
“Ketika kita tarik jaring, itu penuh dengan lumpur merah atau semacam tanah merah. Itu memang sulit sekali untuk kita dapat ikan,” ujarnya.
Amos menduga kondisi tersebut membuat ikan menjauh dari wilayah yang dianggap terdampak material limbah tersebut.
“Karena memang ikan juga kemungkinan dia sudah jauh dari limbah-limbah itu,” katanya.
Keterangan tersebut menjadi salah satu bentuk kesaksian warga mengenai perubahan kondisi perairan yang mereka rasakan dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, dugaan mengenai sumber material berwarna merah tersebut tetap membutuhkan pembuktian secara ilmiah melalui pemeriksaan lapangan, pengambilan sampel, serta pengujian kualitas air dan sedimen oleh instansi yang berwenang.
Keluhan Warga Perlu Diverifikasi Secara Ilmiah
Keluhan warga Desa Saramaake dan Desa Nanas merupakan keterangan masyarakat mengenai kondisi yang mereka rasakan di lapangan.
Dugaan mengenai sumber lumpur merah dan dampaknya terhadap ikan maupun ekosistem laut masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan, pengujian kualitas air, analisis sedimen, serta kajian dari instansi berwenang.
Langkah tersebut penting agar persoalan lingkungan tidak berhenti pada pernyataan maupun dugaan, tetapi dapat dibuktikan melalui data ilmiah.
Pemeriksaan juga diperlukan untuk mengetahui kandungan material yang ditemukan nelayan, termasuk apakah terdapat unsur atau senyawa yang dapat membahayakan ekosistem perairan.
***
