Rabu, September 2, 2026
spot_img
BerandaIKLIM4 Miliar Orang Terancam, Dunia Masuki Era Kebangkrutan Air

4 Miliar Orang Terancam, Dunia Masuki Era Kebangkrutan Air

  • Ringkasan Berita : 
  • Dunia menghadapi fase baru krisis air yang dikenal sebagai kebangkrutan air, ketika pemakaian air melebihi kemampuan alam memulihkan cadangan.
  • Sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air parah sedikitnya sebulan setiap tahun. Eksploitasi air tanah juga memicu penurunan muka tanah.
  • Di berbagai wilayah, sementara pertanian, ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan kehidupan masyarakat semakin tertekan.
  • Perubahan iklim serta hilangnya jutaan kilometer persegi lahan basah membuat persoalan ini semakin sulit dipulihkan.

JAKARTA — Krisis air dunia mulai memasuki babak yang lebih serius. Sejumlah wilayah tidak lagi sekadar menghadapi kekeringan musiman, tetapi mengalami kondisi yang disebut “kebangkrutan air”, yakni ketika penggunaan air melampaui kemampuan alam untuk mengisi kembali cadangannya.

Melansir The Conversation, sekitar 4 miliar orang, atau hampir separuh populasi dunia, mengalami kelangkaan air parah sedikitnya satu bulan dalam setahun. Persoalannya pun makin nyata: waduk menyusut, sumur semakin dalam, lahan pertanian tertekan, hingga permukaan sejumlah kota perlahan amblas.

Kebangkrutan air bukan sekadar istilah untuk menggambarkan kekurangan air. Kondisi tersebut terjadi ketika sistem air alami terus dieksploitasi sampai kehilangan kemampuan untuk pulih seperti sebelumnya.

Ibarat rekening bank, manusia mengambil air bukan hanya dari “pendapatan” tahunan berupa hujan, tetapi juga menguras tabungan berupa air tanah. Ketika pengambilan terus lebih besar daripada pengisian kembali, saldo akhirnya menipis.

Fenomena itu terlihat di sejumlah kawasan. Di Teheran, kekeringan dan penggunaan air yang tidak berkelanjutan menekan cadangan waduk. Sementara di Amerika Serikat, kebutuhan air telah melampaui pasokan Sungai Colorado yang menjadi sumber penting air minum dan irigasi.

Dampak eksploitasi air tanah bahkan bisa terlihat dari permukaan tanah. Ketika air dipompa berlebihan, lapisan tanah di bawahnya dapat memadat sehingga permukaan kawasan turun.

Dikutip, Laporan Global Water Bankruptcy yang diterbitkan pada Januari 2026 mencatat penurunan muka tanah terkait ekstraksi air tanah terjadi di lebih dari 6 juta kilometer persegi wilayah dunia. Kawasan perkotaan yang dihuni hampir 2 miliar orang turut berada dalam area terdampak.

Jakarta, Bangkok, dan Ho Chi Minh termasuk contoh kota di Asia yang menghadapi persoalan tersebut.

Pertanian menjadi titik rawan berikutnya. Sekitar 70 persen pengambilan air tawar global digunakan sektor pertanian. Ketika air semakin sulit diperoleh, biaya produksi pangan ikut meningkat.

Sekitar 3 miliar orang dan lebih dari separuh produksi pangan global berada di kawasan dengan cadangan air yang menurun atau tidak stabil. Tekanan tersebut berpotensi merembet ke harga pangan, lapangan pekerjaan, energi, kesehatan, bahkan migrasi.

Kekeringan juga semakin menjadi perhatian. Pada 2022–2023, lebih dari 1,8 miliar orang menghadapi kondisi kekeringan pada periode tertentu.

Perubahan iklim membuat persoalan semakin rumit. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan kebutuhan air tanaman, memperbesar kebutuhan energi untuk pemompaan, sekaligus mengganggu sumber air tawar yang selama ini bergantung pada gletser.

Di sisi lain, dunia kehilangan lebih dari 4,1 juta kilometer persegi lahan basah alami dalam lima dekade terakhir. Padahal, kawasan tersebut berfungsi seperti spons raksasa: menyimpan air, membantu menyaringnya, meredam banjir, sekaligus menopang ekosistem.

Karena itu, penyelesaian krisis tidak cukup dengan mencari sumber air baru. Penggunaan harus ditekan, air tanah perlu dikelola, sementara sungai, lahan basah, dan kawasan pengisian kembali air harus dipulihkan.

Pesannya sederhana, tetapi tidak ringan: air bukan rekening tanpa batas. Jika manusia terus mengambil lebih cepat daripada alam mengisinya, krisis yang awalnya terasa jauh akhirnya masuk ke kehidupan sehari-hari—dari harga pangan sampai air yang keluar dari keran.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments