Rabu, September 2, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalHubungan Mesra Cina Vs Maluku Utara

Hubungan Mesra Cina Vs Maluku Utara

Ditulis: Pakar Ekonomi Maluku Mukhtar Adam

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi IndoBisnis.co.id.

Maluku Utara – Hubungan mesra ekonomi Tiongkok dan Maluku Utara sudah berada pada tingkat kemesraan yang kuat, terutama melalui industri nikel dan pengolahan mineral.

Data BPS yang dirilis 1 September 2026, menunjukkan bahwa sepanjang Januari–Juli 2026, nilai ekspor Maluku Utara mencapai US$9,84 miliar, dan sebanyak US$8,92 miliar atau 90,61% dikirim ke pasar Tiongkok. Komoditas utamanya adalah besi dan baja serta nikel.

Pada sisi impor, ketergantungan terhadap Tiongkok juga terlihat jelas, dari total impor Maluku Utara sebesar US$4,46 miliar, impor dari Tiongkok mencapai US$2,28 miliar atau 51,22%. Dengan kurs rata-rata periode Januari–Juli 2026, nilai tersebut kira-kira setara Rp39,7 triliun.

Struktur ini menunjukkan hubungan mesra ekonomi dua arah. Maluku Utara memasok nikel, besi dan baja ke pasar Tiongkok, sementara industri di Maluku Utara mengimpor mesin, peralatan listrik, bahan bakar, mineral dan berbagai input produksi dari luar negeri.

Secara keseluruhan, impor Maluku Utara Januari–Juli 2026 mencapai sekitar Rp77,6 triliun, sedangkan ekspornya sekitar Rp170,8 triliun, sehingga surplus perdagangan diperkirakan mencapai Rp93,2 triliun.

Hubungan ini memberikan manfaat besar karena mendorong investasi, hilirisasi, ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Namun sekaligus menciptakan risiko ketergantungan. Sekitar 91 dari setiap US$100 ekspor Maluku Utara bergantung pada pasar Tiongkok, sedangkan lebih dari separuh impor juga berasal dari negara tersebut.

Jika terjadi penurunan permintaan Tiongkok, perubahan harga nikel, kebijakan perdagangan, atau tekanan geopolitik, dampaknya dapat langsung terasa pada ekonomi Maluku Utara.

Karena itu, persoalan utama Maluku Utara bukan apakah hubungan dengan Tiongkok diperlukan, melainkan bagaimana memastikan hubungan ekonomi yang sangat besar tersebut menghasilkan manfaat yang lebih kuat bagi daerah.

Ekspor hampir US$10 miliar seharusnya diterjemahkan menjadi kesempatan kerja lokal, peningkatan PAD dan DBH, penguatan industri daerah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Maluku Utara tidak boleh hanya menjadi lokasi produksi dan ekspor. Tantangannya adalah memastikan bahwa nikel Maluku Utara tidak sekadar menggerakkan industri Tiongkok dan ekonomi nasional, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi masyarakat Maluku Utara sendiri.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments