Kamis, September 17, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISAluminium Rebut Listrik Nikel IWIP

Aluminium Rebut Listrik Nikel IWIP

  • SOROTAN LAPORAN:
  • SMM menilai ekspansi aluminium mulai menekan ruang listrik untuk NPI di IWIP.
  • Pemangkasan produksi berpotensi memengaruhi pasokan nikel hingga 2027 sebelum pembangkit tambahan beroperasi.

Poin-poin penting ini ditulis oleh para reporter dan editor yang mengerjakan berita ini.

HALMAHERA TENGAH — Persaingan kebutuhan listrik antara industri aluminium dan nikel mulai menekan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Shanghai Metals Market (SMM) melaporkan sejumlah produsen nickel pig iron (NPI) di kawasan tersebut diminta mengurangi produksi pada Juni 2026 untuk menyediakan daya bagi percepatan operasi smelter aluminium.

SMM menilai kondisi tersebut bukan sekadar gangguan pasokan sementara. Perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan alokasi energi di kawasan industri, seiring kapasitas aluminium bertambah dan kebutuhan listrik untuk rantai nikel tetap tinggi.

“Aluminium menghasilkan keuntungan sekitar satu tingkat lebih tinggi per megawatt-jam daripada NPI,” demikian analisis SMM mengenai perbedaan imbal hasil penggunaan listrik.

Menurut laporan pasar yang dikutip SMM, pengurangan kapasitas NPI berkaitan dengan kebutuhan daya untuk pengembangan fasilitas aluminium.

Selama ini, pasokan NPI Indonesia dikenal memiliki kapasitas besar dan kemampuan pemulihan ketika harga membaik. Namun, SMM menilai pola tersebut kini menghadapi sejumlah faktor sekaligus, mulai dari kuota mineral, ketersediaan sulfur, kebutuhan energi hingga ekspansi aluminium.

Artinya, kemampuan produksi tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan margin. Ketersediaan listrik serta prioritas proyek di dalam kawasan industri ikut menjadi variabel baru.

Model SMM memperkirakan Proyek Aluminium A telah beroperasi mendekati kapasitas penuh dengan konsumsi sekitar 300 GWh per bulan.

Fase 1 Proyek Aluminium B berkapasitas 160.000 ton diperkirakan membutuhkan sekitar 80–90 GWh per bulan pada tahap awal. Fase 2 dengan kapasitas 170.000 ton berpotensi menambah sekitar 40–60 GWh per bulan.

Secara keseluruhan, kedua fase tersebut diproyeksikan meningkatkan beban listrik aluminium sekitar 160 GWh per bulan pada akhir 2026.

Sementara itu, Proyek Aluminium C berkapasitas 1 juta ton direncanakan mulai beroperasi pada akhir 2026. Saat mencapai kapasitas penuh, kebutuhan energinya diperkirakan sekitar 900 GWh per bulan.

Produksi nikel pirometal IWIP diperkirakan berada di kisaran 40.000 ton kandungan nikel per bulan.

SMM memperkirakan peleburan NPI membutuhkan sekitar 1.350–1.460 GWh per bulan. Setelah memasukkan proses produksi nikel matte, konsumsi listrik siklus pirometal mencapai sekitar 1.390–1.500 GWh per bulan.

Kebutuhan tersebut belum termasuk fasilitas High-Pressure Acid Leach (HPAL), utilitas, pengolahan bahan baku, logistik pelabuhan, serta kebutuhan listrik domestik yang diperkirakan mencapai 180–235 GWh per bulan.

Kapasitas pembangkit mandiri IWIP disebut berada di sekitar 4,54 GW. Dalam pemodelan SMM, pasokan efektif untuk operasional kawasan berada pada kisaran 2.300–2.650 GWh per bulan.

Saat ini, kondisi tersebut masih memungkinkan adanya surplus ketika Aluminium A beroperasi penuh dan produksi nikel berjalan stabil.

Namun, tambahan beban dari Aluminium B diperkirakan mempersempit ruang cadangan pada akhir 2026. Memasuki 2027, akselerasi sejumlah proyek aluminium berpotensi membawa konsumsi melampaui kapasitas pasokan yang tersedia.

SMM memperkirakan defisit transisi dapat mencapai sekitar 300–700 GWh per bulan.

Persoalan utama yang diidentifikasi SMM adalah ketidaksesuaian waktu pembangunan.

Proyek aluminium memiliki rencana pembangkit listrik khusus. Namun, konstruksi sumber energi membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan pembangunan smelter.

Kondisi tersebut menciptakan pola yang disebut SMM sebagai “smelter terlebih dahulu, pembangkit kemudian.”

Ketika fasilitas produksi sudah membutuhkan daya sementara pembangkit pendukung belum sepenuhnya tersedia, tekanan energi kemudian merambat ke lini industri lain yang telah beroperasi.

Perbedaan imbal hasil menjadi alasan utama dalam analisis SMM.

Berdasarkan harga rata-rata April 2026, margin aluminium yang dihitung SMM setara sekitar US$139 per MWh listrik. Sementara NPI Indonesia menghasilkan sekitar US$3,9 per MWh berdasarkan indeks FOB dan estimasi biaya tunai.

Dengan demikian, nilai ekonomi setiap unit listrik pada model tersebut jauh lebih tinggi ketika digunakan untuk aluminium dibandingkan NPI.

SMM menilai perbedaan tersebut memberikan dasar komersial bagi pengelola kawasan untuk mengatur penggunaan daya ketika pasokan terbatas.

Tekanan terhadap NPI juga berkaitan dengan profitabilitas yang tipis.

Data SMM April menunjukkan NPI FOB Indonesia diperdagangkan sedikit di atas biaya tunai, dengan margin kotor rata-rata industri kurang dari 1 persen.

Kondisi tersebut membuat produsen NPI sangat sensitif terhadap perubahan harga nikel dan biaya energi. Ketika keuntungan per unit listrik rendah, tambahan konsumsi daya menjadi semakin sulit dipertahankan dibandingkan lini dengan imbal hasil lebih tinggi.

Jika basis produksi IWIP sekitar 40.000 ton kandungan nikel per bulan, pemangkasan 5–15 persen setara dengan sekitar 2.000–6.000 ton kandungan nikel per bulan.

SMM menilai pengurangan tersebut belum cukup untuk mengubah kondisi pasokan nikel global secara keseluruhan. Namun, apabila berlangsung berkepanjangan, dampaknya dapat terlihat pada impor NPI China, aktivitas pembelian pabrik, serta premi NPI bermutu tinggi.

Perubahan pasokan dari Indonesia juga berpotensi memengaruhi keseimbangan bahan baku berkadar tinggi yang digunakan industri hilir China.

Pemangkasan NPI IWIP tidak serta-merta menentukan arah harga nikel murni.

Menurut SMM, pasar tetap perlu mencermati perkembangan persediaan nikel murni, produksi MHP, aliran nikel matte, dan pemulihan permintaan baja tahan karat.

Karena itu, dampak paling langsung diperkirakan berada pada rantai NPI dan ferroalloy, sementara harga nikel global tetap dipengaruhi berbagai faktor pasokan serta permintaan.

Tekanan Energi Bersifat Sementara

SMM menilai persoalan listrik IWIP merupakan ketidaksesuaian sementara, bukan hambatan permanen.

Pembangkit mandiri untuk proyek aluminium diperkirakan masuk secara bertahap hingga 2027–2028. Penambahan tersebut berpotensi memperbesar kapasitas pasokan sekaligus menciptakan hubungan yang lebih langsung antara kebutuhan smelter aluminium dan sumber energinya.

Setelah pembangkit tambahan beroperasi, tekanan terhadap rantai nikel pirometal diperkirakan berangsur berkurang.

Listrik Jadi Variabel Baru NPI

Perkembangan IWIP menunjukkan perubahan dalam cara membaca pasokan NPI Indonesia.

SMM menilai analis tidak lagi cukup menghitung kapasitas smelter, ketersediaan bijih, harga, dan margin. Alokasi listrik kini menjadi variabel penting dalam memperkirakan produksi aktual.

Dalam jangka pendek 2026–2027, keterbatasan energi dapat menekan kapasitas NPI IWIP. Setelah pembangkit tambahan aluminium beroperasi pada 2027–2028, tekanan tersebut diperkirakan mereda.

Bagi pasar, persoalan utama bukan sekadar berapa besar NPI yang berkurang, melainkan bagaimana persaingan penggunaan listrik antara aluminium dan nikel mengubah pola pasokan Indonesia selama masa transisi.

Sumber:https://news.metal.com/th/newscontent/103914149

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments