Tag: InvestasiDaerah

  • Kades Buli Asal Dukung Smelter, Serap Tenaga Kerja Lokal dan Waspadai Dampak Lingkungan

    Kades Buli Asal Dukung Smelter, Serap Tenaga Kerja Lokal dan Waspadai Dampak Lingkungan

    IndoBisnis – Kepala Desa Buli Asal, Sardin Bawang, menyatakan dukungan penuh atas pembangunan smelter di wilayahnya.

    Ia menilai proyek industri tersebut merupakan langkah strategis yang tidak hanya memanfaatkan potensi investasi, tetapi juga membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun peningkatan sumber daya manusia.

    “Yang pertama untuk persiapan penjemputan tamu, itu cukup baik. Karena memang kegiatan smelter ini merupakan bagian dari pemanfaatan investor, dan memberikan dampak positif kepada warga masyarakat,” ujar Sardin Bawang saat diwawancarai oleh media IndoBisnis.

    Sardin menegaskan bahwa seluruh kesiapan teknis dan perlengkapan yang berada di lapangan menunjukkan kinerja yang baik. Pemerintah desa menyambut baik kehadiran smelter yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Buli Asal, Kecamatan Mabah, Kabupaten Halmahera Timur.

    “Kami sebagai pemerintah juga mendukung penuh adanya investasi ini. Karena selain memberikan manfaat, juga dapat meningkatkan sumber daya manusia di desa serta membangun hubungan yang harmonis antara perusahaan dan pemerintah,” tambah Sardin.

    Ia menyebut bahwa perusahaan ini berbeda dari kontraktor lain yang ada di daerah lain seperti GBL. Kehadiran smelter ini dinilai sebagai terobosan baru di wilayah Mabah yang patut dijaga dan dikembangkan.

    Merespons pernyataan Bupati Halmahera Timur terkait kehadiran smelter yang dapat menekan angka pengangguran, Sardin pun setuju.

    Ia menyebut bahwa smelter berpotensi besar menyerap tenaga kerja lokal dan mendukung perputaran ekonomi warga.

    “Kalau menurut saya, Bupati itu benar. Smelter atau pabrik ini salah satu cara untuk menyerap tenaga kerja. Masyarakat juga bisa merasakan dampak ekonominya secara langsung,” ujarnya.

    Namun demikian, Sardin tetap menyoroti pentingnya antisipasi terhadap dampak negatif dari aktivitas industri.

    Ia mengungkapkan bahwa konsultasi dan sosialisasi mengenai dampak lingkungan, khususnya terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), sudah dibahas sejak awal oleh pemerintah desa bersama perusahaan.

    “Konsultasi dan sosialisasi dampak ke depan sudah dibicarakan lebih awal. Kami beberapa kali diundang perusahaan untuk membicarakan dampak-dampak Amdal, baik yang positif maupun negatif. Dan itu sudah selesai, karena sudah masuk dalam dokumen Amdal,” jelas Sardin.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada perusahaan yang sudah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Namun, ia tetap memberikan peringatan agar tidak terjadi kesalahan seperti perusahaan lain yang mengabaikan dampak setelah beroperasi.

    “Saya sudah sampaikan ke perusahaan, saya berharap jangan sampai terjadi seperti di tempat lain. Setelah beroperasi malah muncul dampak negatif yang merugikan masyarakat. Kalau itu terjadi, pemerintah harus cepat melakukan sosialisasi dan perusahaan harus tanggap,” tegasnya.

    Dalam hal perekrutan tenaga kerja, Sardin juga menyuarakan harapan agar perusahaan memprioritaskan warga lokal, terutama untuk posisi yang tidak memerlukan keterampilan khusus.

    “Perekrutan tenaga kerja harus mempertimbangkan tenaga skill. Tapi untuk non-skill, kami harap diberikan kepada masyarakat lokal. Di Kecamatan Mabah ini masih banyak lulusan SMP dan SMA yang belum bekerja,” ujarnya.

    Sardin juga menegaskan bahwa pemerintah desa tidak menutup peluang bagi tenaga kerja dari luar daerah. Namun, ia berharap perusahaan dapat memperhatikan kondisi masyarakat setempat.

    “Kami tidak serta-merta membatasi orang luar, karena semua berhak mencari kerja. Tapi untuk tenaga non-skill, sebaiknya diberikan dulu kepada masyarakat desa, karena jumlah yang belum bekerja masih banyak,” tutupnya.

    Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa, serta koordinasi dan komunikasi yang aktif antara perusahaan dan masyarakat, Sardin Bawang berharap proyek smelter ini dapat berjalan lancar, memberikan manfaat berkelanjutan, dan menjadi tonggak kemajuan bagi Desa Buli Asal dan wilayah sekitarnya.

    ***

  • Kepala Desa Soasangaji Desak Koperasi Desa Dilibatkan dalam Join Operasional Tambang Nikel

    Kepala Desa Soasangaji Desak Koperasi Desa Dilibatkan dalam Join Operasional Tambang Nikel

    IndoBisnis – Kepala Desa Soasangaji, Sahtu M Saleh, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Apdesi Provinsi Maluku Utara, menyampaikan rasa bangga sekaligus kegelisahan atas perkembangan industri tambang di wilayahnya.

    Hal itu disampaikan menyusul peresmian pembangunan fasilitas semiliter untuk produksi baterai listrik oleh Presiden Prabowo Subianto di Halmahera Timur, Minggu 29 Juni 2025.

    “Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada Presiden Prabowo. Peresmian pembangunan semiliter untuk baterai listrik kemarin adalah dambaan masyarakat, khususnya di Desa Soasangaji dan Sualaipo, Maba Pura, Kecamatan Kota Maba,” ujar Sahtu M Saleh kepada IndoBisnis, Senin 30 Juni 2025.

    Namun, menurutnya, kebanggaan tersebut belum berbanding lurus dengan manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat desa.

    Ia menyoroti bahwa kesejahteraan warga masih sangat bergantung pada program CSR (Corporate Social Responsibility) yang bersifat temporer dan tidak menyentuh akar persoalan struktural.

    “Bentuk-bentuk kesejahteraan yang ada saat ini masih sebatas CSR. Tidak seimbang antara hasil tambang yang diangkut dan kemajuan desa maupun kesejahteraan masyarakat,” tegasnya dengan nada keras.

    Dalam konteks itulah, Sahtu M Saleh menyampaikan desakan agar koperasi desa diberi ruang nyata untuk terlibat dalam kerja sama operasional (join operation) dengan perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP).

    Ia mengusulkan agar konsep Koperasi Desa Merah Putih yang digagas pemerintah pusat tidak sekadar menjadi jargon, melainkan benar-benar diterapkan secara konkret di daerah tambang.

    “Kami berharap Koperasi Desa Merah Putih, khususnya di Desa Soasangaji dan Sualaipo, bisa menjadi pemain dalam kegiatan pertambangan. Harus ada kerja sama operasi dengan pemilik IUP. Jangan hanya datangkan kontraktor dari luar!” tegasnya penuh semangat.

    Ia menambahkan, wilayahnya memiliki sumber daya nikel yang besar, yang berada dalam IUP milik Aneka Tambang, Sumberdaya Rindo, dan Nusa Karya Rindo. Potensi tersebut seharusnya menjadi daya ungkit pembangunan desa, bukan justru menjadi sumber eksploitasi yang tidak berdampak pada rakyat lokal.

    “Hanya dengan koperasi desa ikut menambang di wilayah kami, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bisa benar-benar terdorong,” lanjutnya.

    Lebih jauh, Sahtu M Saleh mengkritik keras praktik labelisasi pengusaha dari Jakarta sebagai pengusaha lokal ketika masuk ke daerah. Ia menyebut praktik itu sebagai bentuk ketidakadilan ekonomi yang meminggirkan pengusaha-pengusaha asli desa.

    “Kami minta pengusaha asli desa yang diberi peran besar. Bukan pengusaha dari Jakarta yang datang dan dikategorikan sebagai pengusaha daerah. Itu tidak adil dan menyingkirkan potensi anak bangsa di desa sendiri,” tegasnya penuh tekanan.

    Pernyataan tersebut merefleksikan aspirasi keras dari masyarakat akar rumput, yang mendambakan pembagian ekonomi yang adil dan partisipatif, bukan monopoli korporasi besar yang hanya meninggalkan jejak kerusakan dan ketimpangan.

    ***