- Sorotan Laporan
- Produksi NPI di sejumlah smelter kawasan IMIP mengalami penurunan akibat gangguan pasokan air yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.
- Estimasi pasar menyebut penurunan berpotensi mencapai 100.000 mt, tetapi angka tersebut belum dikonfirmasi IMIP.
- Analis menilai gangguan tersebut dapat memperketat pasokan jangka pendek, tetapi belum cukup menghapus surplus nikel global yang diproyeksikan masih terjadi pada 2026.
Poin-poin penting ini ditulis oleh para reporter dan editor yang mengerjakan berita ini.
JAKARTA — Penurunan produksi nickel pig iron (NPI) di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah, diperkirakan belum cukup untuk menghapus surplus pasokan nikel dunia pada 2026.
Gangguan produksi akibat keterbatasan air di sejumlah smelter IMIP diproyeksikan hanya memperlambat laju kelebihan pasokan. Pasar belum serta-merta berubah dari surplus menjadi defisit.
Analis komoditas sekaligus Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan proyeksi Sumitomo Metal Mining masih menunjukkan surplus nikel global sekitar 256.000 metrik ton (mt) pada 2026. Pada saat yang sama, produksi NPI Indonesia diperkirakan meningkat 4,1% menjadi 1,76 juta mt.
“Jadi pemangkasan produksi di IMIP ini sifatnya lebih ke menahan laju surplus daripada mengubah pasar dari surplus jadi defisit kecuali pemangkasannya benar-benar konsisten di kisaran 30%—40% dan berlangsung lama,” kata Sutopo mengutip Bloomberg Technoz, Selasa (29/9/2026).
Penurunan NPI IMIP Belum Terverifikasi 100.000 Ton
Estimasi penurunan produksi NPI hingga 100.000 mt menjadi perhatian pasar. Namun, PT IMIP belum mengonfirmasi angka tersebut.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menyatakan sejumlah smelter memang mengalami penyesuaian produksi, termasuk fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF) yang menghasilkan NPI. Perusahaan masih menghitung dampak pada masing-masing tenant.
“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya, kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” ujar Dedy.
Dengan demikian, angka 100.000 mt lebih tepat disebut sebagai estimasi potensi penurunan, bukan angka produksi yang telah dikonfirmasi pengelola kawasan.
Smelter IMIP Beroperasi di Bawah Kapasitas
Sutopo mencatat kapasitas terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta mt per tahun atau sekitar 350.000 mt per bulan.
Sejumlah lini produksi bahkan dilaporkan beroperasi pada kisaran 30%–40% dari kapasitas normal. Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, tekanan terhadap pasokan NPI kadar tinggi dapat meningkat, terutama bagi industri baja nirkarat.
“Secara arah, ya [kondisi tersebut membuat] ada tekanan pengetatan jangka pendek, terutama untuk NPI kadar tinggi yang jadi bahan baku baja nirkarat,” tegas Sutopo.
Shanghai Metals Market (SMM) sebelumnya memperkirakan apabila tingkat operasi tersebut bertahan sekitar dua pekan, produksi NPI IMIP berpotensi berkurang 50.000–70.000 mt. Estimasi penurunan bisa lebih besar apabila gangguan pasokan air berlangsung lebih lama.
El Niño Ganggu Pasokan Air
IMIP mengaitkan penurunan aktivitas sejumlah fasilitas dengan fenomena El Niño yang menyebabkan berkurangnya debit air sungai di sekitar kawasan industri.
Dedy menjelaskan air merupakan bagian penting dalam operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang memasok energi bagi fasilitas pengolahan.
Pada produksi NPI, air digunakan untuk mendukung pendinginan komponen tungku, pencetakan slag, serta sistem pendukung pembangkit.
IMIP juga melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sumber air cadangan untuk mengurangi dampak kekeringan.
Stok Nikel LME Masih Tinggi
Selain peningkatan produksi Indonesia, kondisi persediaan global menjadi faktor yang membuat surplus nikel belum mudah hilang.
Stok logam nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat 268.314 mt pada Agustus 2026. Level inventori tersebut menunjukkan pasar masih memiliki bantalan pasokan yang cukup besar.
Sutopo menilai pemangkasan produksi di IMIP baru memberikan tekanan pengetatan dalam jangka pendek. Perubahan struktur pasar membutuhkan pengurangan output yang lebih besar dan berlangsung konsisten.
Proyeksi Surplus Nikel Masih Beragam
Perkiraan lembaga riset mengenai keseimbangan pasar nikel global tidak sepenuhnya seragam.
Sumitomo Metal Mining memperkirakan surplus sekitar 256.000 mt pada 2026. Sementara itu, laporan BMI yang dikutip Bloomberg Technoz memperkirakan surplus sekitar 154.000 mt.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan keseimbangan pasar sangat dipengaruhi perkembangan produksi, permintaan, kebijakan kuota bijih, serta kondisi operasional smelter.
Di sisi lain, International Nickel Study Group (INSG) sebelumnya merevisi proyeksinya hingga memperkirakan defisit sekitar 32.000 mt pada April 2026, dengan produksi sekitar 3,72 juta mt dan permintaan 3,75 juta mt.
Perbedaan angka tersebut membuat arah pasar nikel tetap bergantung pada perkembangan pasokan dan konsumsi sepanjang tahun.
Dampak bagi Pasar Nikel
Penurunan produksi IMIP berpotensi memperketat pasokan NPI di pasar spot, khususnya untuk kebutuhan industri baja nirkarat. Namun, gangguan pada satu kawasan belum otomatis menghapus kelebihan pasokan global.
Analis menilai perubahan dari surplus menuju defisit akan membutuhkan pemangkasan produksi yang lebih besar, konsisten, dan berlangsung dalam periode panjang.
***
