Rabu, Agustus 26, 2026
spot_img
BerandaBERANDAInternasional80 Tahun Tragedi Hiroshima dan Nagasaki, Luka yang Belum Sembuh

80 Tahun Tragedi Hiroshima dan Nagasaki, Luka yang Belum Sembuh

IndoBisnis – Tepat pukul 08.15 setiap pagi di kota Hiroshima, Jepang, lonceng berbunyi. Bunyi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi pengingat akan tragedi 6 Agustus 1945, saat bom atom pertama di dunia dijatuhkan oleh pesawat pengebom AS, Enola Gay, dan menewaskan sekitar 70.000 orang seketika. Delapan dekade telah berlalu, namun luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Pada Rabu, 6 Agustus 2025, ribuan warga Hiroshima berkumpul dalam keheningan selama satu menit untuk memperingati 80 tahun serangan nuklir tersebut. Peringatan ini digelar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang belum terselesaikan di Ukraina dan Timur Tengah.

Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dalam pidatonya yang dikutip NBCNews menyatakan, “Adalah tugas kita untuk menyampaikan realitas bom atom tidak hanya kepada rakyat Jepang, tetapi juga kepada rakyat dunia.”

Bom seberat 10.000 pon itu semula ditargetkan ke jembatan berbentuk huruf T, namun malah jatuh tepat di atas gedung pameran dengan kubah ikonik. Ledakan tersebut menyapu kota dengan pusaran api dan kekuatan yang membakar ribuan tubuh manusia hidup-hidup. Tidak berhenti di situ, hujan hitam radioaktif menyusul, meracuni penduduk yang selamat.

Seorang penyintas bernama Yahata, kini berusia 80-an tahun, mengenang saat tubuhnya terlempar akibat ledakan. “Saya tidak benar-benar mengerti apa artinya mati,” tuturnya, “tapi kehangatan yang saya rasakan saat kita mati bersama… masih saya ingat sampai hari ini.”

Bom yang dijatuhkan di Nagasaki, seperti terlihat dari Koyagi-jima, Jepang, pada 9 Agustus 1945.Hiromichi Matsuda/Handout dari Museum Bom Atom Nagasaki / berkas Getty Images

Tiga hari setelah Hiroshima, bom atom kedua dilepaskan di kota Nagasaki, menewaskan 40.000 orang lainnya. Pengeboman ganda ini mempercepat menyerahnya Kekaisaran Jepang, mengakhiri Perang Dunia II, namun dengan harga yang sangat mahal: hampir 250.000 nyawa melayang.

Para penyintas bom atom, yang dikenal sebagai hibakusha, kini rata-rata berusia lebih dari 86 tahun. Sepanjang hidup mereka, mereka berjuang menghadapi penyakit, trauma psikologis, dan diskriminasi sosial.

Kunihiko Iida, 83 tahun, kehilangan ayah, ibu, dan kakak perempuannya dalam peristiwa tersebut. Ia mengungkapkan penyesalannya atas klaim bahwa serangan itu menyelamatkan nyawa. “Mereka yang mengatakan serangan ini menyelamatkan dunia tidak tahu realitas bom nuklir,” tegasnya.

Ironisnya, ketika jumlah hibakusha terus menurun, anggaran global untuk senjata nuklir justru meningkat. Menurut data Kampanye Internasional untuk Penghapusan Senjata Nuklir (ICAN), sembilan negara pemilik senjata nuklir — termasuk AS, Rusia, dan Tiongkok — menghabiskan lebih dari $100 miliar untuk senjata nuklir pada 2024, meningkat 11% dari tahun sebelumnya.

Peningkatan ini bertolak belakang dengan opini publik. Survei Pew Research Center menunjukkan bahwa 69% warga Amerika percaya pengembangan senjata nuklir justru membuat dunia lebih tidak aman.

Setsuko Thurlow, 93 tahun, penyintas Hiroshima yang kehilangan 10 anggota keluarganya, mengingat dengan jelas wajah-wajah orang yang berjalan seperti hantu, dengan kulit dan daging yang terkelupas dari tulang. “Saya mohon para pemimpin dunia untuk berhenti sejenak dan datang ke meja perundingan. Diplomasi perlu mendapat perhatian lebih besar,” ujar Thurlow dari Toronto.

Thurlow dikenal sebagai aktivis anti-nuklir yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kampanye pelucutan senjata dan pernah menerima Nobel Perdamaian 2017 atas nama ICAN.

Saat ini, hanya tersisa sekitar 99.130 hibakusha di seluruh Jepang, menurut data Asahi Shimbun. Dunia pun menghadapi risiko kehilangan kenangan hidup tentang tragedi Hiroshima dan Nagasaki jika generasi penyintas ini tidak lagi ada.

Toshiyuki Mimaki, salah satu ketua kelompok penyintas Nihon Hidankyo, memperingatkan, “Kita berada dalam situasi yang sangat berbahaya dengan Rusia, Ukraina, Israel, dan Iran. Bahkan satu bom nuklir pun akan menjadi bencana.”

Kini, Hiroshima telah menjadi kota modern berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Di dekat titik hiposentrum ledakan, berdiri Taman Perdamaian dan museum yang menjadi saksi sejarah. Dengan bantuan teknologi realitas virtual, pengunjung bisa “mengalami” dahsyatnya pengeboman dan mengingat pentingnya perdamaian.

Tetapi satu pesan dari Hiroshima tetap relevan: dunia tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Karena sekali bom nuklir dijatuhkan, tidak ada jalan kembali.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments