- Ringkasan Berita
- Kepala IEA Fatih Birol menegaskan bahwa perang Iran telah mendorong ekonomi global ke dalam fase krisis energi yang serius.
- Gangguan pasokan minyak dan gas disebut lebih parah dibandingkan krisis energi sebelumnya, dengan dampak yang berpotensi memicu inflasi global dan ketidakstabilan pasar berkepanjangan.
IndoBisnis — Pernyataan Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol di National Press Club Australia, Canberra, pada Senin, kembali menegaskan eskalasi krisis energi global yang dipicu perang Iran.
Birol menggambarkan kondisi ekonomi dunia saat ini berada dalam tekanan ekstrem.
“Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berlanjut ke arah ini,” ujar Fatih Birol, dikutip AP dalam keterangannya di Canberra pada Senin.
Dalam analisisnya, Birol menilai krisis di Timur Tengah tidak lagi sekadar guncangan regional, melainkan telah menjadi tekanan global yang melampaui krisis energi sebelumnya. Ia menyebut dampaknya terhadap minyak lebih buruk dibandingkan gabungan dua krisis minyak pada era 1970-an, serta lebih parah terhadap gas dibandingkan perang Rusia–Ukraina.
Di tengah eskalasi konflik, situasi di lapangan juga terus memburuk. Israel melancarkan serangan baru ke Teheran pada Senin pagi, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Respons keras langsung datang dari Iran yang menyatakan siap menyerang aset energi serta infrastruktur Amerika Serikat dan Israel jika menjadi target serangan lanjutan.
Di sisi lain, tekanan politik domestik di Amerika Serikat terhadap Trump juga meningkat, seiring lonjakan harga minyak global yang memicu kekhawatiran ekonomi di dalam negeri.
Birol menilai risiko terbesar saat ini terletak pada potensi gangguan jangka panjang produksi minyak dan gas di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai dapat mempertahankan harga energi di level tinggi dan mendorong inflasi global meningkat tajam.
Namun demikian, ia menyoroti bahwa pasar saham Amerika Serikat memiliki pola pemulihan yang relatif cepat dari konflik geopolitik, selama harga minyak tidak bertahan tinggi dalam jangka waktu panjang.
Di kawasan Teluk, Iran dilaporkan memperluas serangan dan mengancam fasilitas pembangkit listrik di sejumlah negara tetangga.
“Situasinya sangat gawat,” kata Birol menegaskan.
Dalam perspektif historis, Birol membandingkan kondisi saat ini dengan krisis minyak 1973 dan 1979 yang menyebabkan hilangnya sekitar 10 juta barel per hari dan memicu resesi global. Namun, ia menilai kondisi saat ini bahkan lebih buruk.
“Dan hari ini, hanya sampai hari ini saja, kita kehilangan 11 juta barel per hari — jadi lebih dari gabungan dua guncangan minyak besar,” ujarnya.
Pada sektor gas, ia juga membandingkan dampak perang Rusia–Ukraina yang sebelumnya menyebabkan kehilangan sekitar 75 miliar meter kubik, sementara saat ini mencapai sekitar 140 miliar meter kubik.
Dampak lanjutan terlihat pada infrastruktur energi global. Birol menyebut sekitar 40 aset energi di sembilan negara telah mengalami kerusakan berat hingga sangat berat.
Ia juga menyoroti terganggunya jalur perdagangan global vital, termasuk petrokimia, pupuk, belerang, dan helium.
“Semua perdagangan tersebut terganggu, yang akan berdampak serius bagi ekonomi global,” katanya.
Sebagai langkah stabilisasi, IEA diketahui telah melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar untuk meredam gejolak harga.
“Ini merupakan peristiwa bersejarah. Kita belum pernah melepaskan begitu banyak minyak ke pasar,” ujar Birol.
Ia menegaskan bahwa solusi kunci saat ini tetap berada pada stabilisasi Selat Hormuz dalam kondisi normal.
Lebih lanjut, Birol menyampaikan bahwa IEA masih melakukan konsultasi dengan berbagai negara di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Timur Tengah terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak tambahan.
“Kita akan lihat, kita akan mengamati pasar. Jika memang perlu, tentu saja kita akan melakukannya, tetapi kita akan melihat kondisinya, menganalisis, menilai pasar, dan berdiskusi dengan negara-negara anggota kita,” tutupnya.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Birol: Krisis Energi Global Masuk Fase Kritis
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
