Gustavo Petro menuding serangan AS di Karibia sebagai kriminalisasi kemiskinan, mendesak Trump diseret ke meja hukum internasional.
Presiden Kolombia Gustavo Petro menggebrak forum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan pernyataan mengejutkan. Pada Selasa (23/9), ia secara terbuka menyerukan penyelidikan pidana terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat-pejabat tinggi lain yang disebutnya terlibat dalam serangan mematikan terhadap kapal-kapal di Karibia bulan ini.
“Proses pidana harus dibuka terhadap para pejabat tersebut, yang berasal dari AS, bahkan jika itu melibatkan pejabat tertinggi yang memberi perintah: Presiden Trump,” kata Petro lantang, melansir AP. Ia menegaskan bahwa para penumpang kapal bukanlah anggota geng kriminal sebagaimana diklaim pemerintahan Trump, melainkan warga miskin Amerika Latin yang tidak punya pilihan lain.
Jika benar kapal-kapal itu mengangkut narkoba, lanjut Petro, tuduhan tersebut tidak menjadikan para penumpang sebagai pengedar. “Mereka hanyalah pemuda miskin dari Amerika Latin yang tidak punya pilihan lain,” ujarnya menambahkan.
Petro juga menuding Trump telah mengkriminalisasi kemiskinan dan migrasi melalui kebijakan militernya. “Mereka bilang rudal-rudal di Karibia digunakan untuk menghentikan perdagangan narkoba. Itu kebohongan yang dinyatakan di mimbar ini,” tegasnya, merujuk langsung pada pidato Trump yang berlangsung beberapa jam sebelumnya.
Serangan militer AS itu menewaskan total 17 orang. Menurut keterangan Gedung Putih, serangan pertama pada 2 September menewaskan 11 orang, disusul serangan kedua pada 16 September yang merenggut tiga korban jiwa, dan serangan ketiga pada 19 September yang kembali menewaskan tiga orang.
Pemerintahan Trump membela diri dengan menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah perlu untuk membendung arus narkoba ke AS. Namun, hingga kini, pemerintah belum menjelaskan secara rinci bagaimana militer menilai muatan kapal maupun afiliasi para penumpang dengan kelompok kriminal.
Presiden Venezuela Nicolás Maduro mendukung pernyataan Petro. Ia menuding Washington sengaja menggunakan tuduhan perdagangan narkoba sebagai alasan untuk operasi militer dengan target menggulingkan pemerintahannya. Maduro bahkan mengumumkan persiapan dekrit konstitusional untuk mempertahankan kedaulatan negaranya dari “serangan” AS.
Gustavo Petro, presiden kiri pertama Kolombia, sejak menjabat pada 2022 telah memulihkan hubungan diplomatik dengan Venezuela. Kini, melalui pidatonya di PBB, ia menempatkan dirinya sebagai salah satu suara paling keras di Amerika Latin yang menantang kebijakan militer AS.
***
