Rabu, Juni 10, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISSejak April, Ancaman Tarif Trump terhadap Tiongkok

Sejak April, Ancaman Tarif Trump terhadap Tiongkok

  • Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas. Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif besar-besaran terhadap impor dari Negeri Tirai Bambu.
  • Dampaknya langsung terasa: saham di Wall Street rontok, harga minyak merosot, dan pasar global ikut terguncang.

 

 

Ketenangan selama hampir sebulan di bursa saham Amerika Serikat berakhir mendadak pada Jumat waktu setempat. Pasar modal yang semula stabil berubah menjadi lautan merah setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif secara signifikan terhadap produk impor dari Tiongkok.

Indeks S&P 500 tercatat anjlok 2,7 persen—penurunan harian terburuk sejak April. Dow Jones Industrial Average merosot 878 poin atau 1,9 persen, sedangkan Nasdaq Composite jatuh lebih dalam hingga 3,6 persen.

Melansir, Menurut laporan pasar, saham sempat menguat tipis di awal perdagangan. Namun situasi berubah setelah Trump menulis pernyataan di media sosialnya, Truth Social, bahwa ia sedang mempertimbangkan “kenaikan tarif besar-besaran” bagi impor dari Tiongkok. Ia menuding Beijing membatasi ekspor rare earth—material penting untuk produksi berbagai barang strategis mulai dari elektronik hingga mesin jet.

“Kami telah dihubungi oleh negara-negara lain yang sangat marah atas permusuhan perdagangan besar-besaran ini, yang muncul tiba-tiba,” tulis Trump mengutip AP, Minggu (12/10/2025). Ia juga menambahkan, “Sekarang tampaknya tidak ada alasan untuk bertemu dengan Xi Jinping,” meski sebelumnya telah dijadwalkan pertemuan antara keduanya di sela kunjungan ke Korea Selatan.

Ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini memicu kejatuhan hampir di seluruh sektor. Sekitar enam dari tujuh saham dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Saham-saham Big Tech seperti Apple, Nvidia, dan Microsoft ikut terseret ke bawah. Perusahaan-perusahaan kecil juga terpukul akibat meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan perdagangan global.

Analis menilai pasar sebenarnya sudah berada di posisi rawan. Harga saham di AS telah naik sangat tinggi dalam beberapa bulan terakhir—S&P 500 bahkan melonjak hampir 35 persen sejak titik terendah di bulan April. Kenaikan yang terlalu cepat itu membuat pasar tampak “terlalu mahal” dibandingkan laba perusahaan yang belum sepadan.

Kekhawatiran semakin besar di sektor kecerdasan buatan (AI), di mana para pengamat menyamakan kondisi ini dengan bubble dot-com yang pecah pada tahun 2000.

“Harga saham sudah terlalu jauh meninggalkan fundamentalnya. Agar terlihat masuk akal, laba perusahaan harus naik pesat, atau harga saham mesti terkoreksi,”

Salah satu penurunan paling tajam terjadi pada saham Levi Strauss, yang anjlok 12,6 persen. Ironisnya, perusahaan pakaian ternama itu justru baru saja melaporkan laba yang lebih tinggi dari perkiraan analis. Namun, ekspektasi pasar yang terlalu besar tampaknya membuat saham Levi tidak mampu memenuhi harapan investor.

Selain pasar saham, harga minyak juga mengalami tekanan berat. Minyak mentah acuan AS turun 4,2 persen menjadi US$58,90 per barel, sedangkan minyak Brent turun 3,8 persen menjadi US$62,73 per barel.

Penurunan harga minyak ini diperparah oleh dua faktor: tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, serta kekhawatiran bahwa perang tarif dapat memperlambat perdagangan global dan menekan permintaan energi.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury 10-tahun turun dari 4,14 persen menjadi 4,05 persen, menandakan pergeseran dana ke aset aman di tengah ketidakpastian.

Sementara itu, laporan dari Universitas Michigan menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen di AS masih rendah. Direktur Survei Konsumen, Joanne Hsu, menyebutkan bahwa “harga tinggi dan prospek pekerjaan yang melemah masih menjadi perhatian utama masyarakat.”

Kondisi pasar tenaga kerja yang melambat telah mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga acuannya bulan lalu—pemangkasan pertama tahun ini. The Fed memperkirakan penurunan lanjutan hingga tahun depan demi menjaga momentum ekonomi. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell mengingatkan bahwa arah kebijakan bisa berubah bila inflasi tetap tinggi.

Meski demikian, survei terbaru menunjukkan sinyal positif: ekspektasi inflasi konsumen untuk satu tahun ke depan turun tipis dari 4,7 persen menjadi 4,6 persen. Penurunan kecil ini memberi harapan bagi The Fed untuk mengendalikan tekanan harga tanpa perlu menaikkan suku bunga kembali.

Guncangan di Wall Street ikut merembet ke pasar global. Bursa Hong Kong (Hang Seng) turun 1,7 persen, CAC 40 Prancis turun 1,5 persen, sementara Kospi Korea Selatan justru naik 1,7 persen setelah kembali dibuka pasca libur nasional.

Para analis memperkirakan ketegangan perdagangan AS–Tiongkok akan terus membayangi pasar dalam beberapa pekan ke depan. Bila ancaman tarif benar-benar diwujudkan, tekanan terhadap pasar saham dunia dan rantai pasok global bisa jauh lebih dalam.

“Kita bisa saja menghadapi fase baru dari perang dagang global. Menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih dan Beijing.”

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments