- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih menjadi salah satu BUMN kebanggaan Indonesia.
- Di balik gemuruh bisnis batu bara dan transisi energi baru, kepemilikan mayoritas perusahaan ini tetap berada di tangan negara melalui MIND ID.
- Namun, dinamika pasar menunjukkan sahamnya mulai menurun dalam beberapa bulan terakhir.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan batu bara, dan telah berdiri sejak masa kolonial Belanda. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung energi nasional, dengan hasil tambangnya menjadi pasokan utama bagi sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) seperti PLTU Bukit Asam, Bangko, Sumsel, BPI Banjarsari, dan Tarahan.
Selain memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, Bukit Asam juga mengekspor sebagian hasil produksinya ke berbagai negara di Asia seperti China, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, India, Malaysia, Taiwan, dan Thailand.
Perusahaan yang bermarkas di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini mengelola wilayah tambang dengan total luas 65.632 hektare dan memiliki cadangan batu bara mencapai 2,93 miliar ton. Meski bisnis utamanya adalah batu bara, PTBA mulai mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) serta memperluas usaha ke sektor logistik dan infrastruktur.
Mengutip laporan resmi Bukit Asam (12/10/2025), PTBA kini memiliki delapan anak usaha langsung, delapan anak usaha tidak langsung, tiga entitas ventura bersama, dan satu entitas asosiasi. Semua entitas tersebut beroperasi di bawah naungan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, sebagai induk holding BUMN sektor pertambangan.
Dari sisi kepemilikan, berdasarkan laporan registrasi pemegang efek per 30 September 2025, pengendali utama saham PTBA adalah MIND ID dan Pemerintah Republik Indonesia. MIND ID tercatat menggenggam 7,59 miliar lembar saham, setara 65,93 persen dari total saham terdaftar, yang menegaskan bahwa mayoritas kepemilikan Bukit Asam tetap berada di tangan negara.
Sementara itu, masyarakat memiliki 3,77 miliar saham atau 32,76 persen, dengan porsi free float yang sebagian besar dipegang oleh investor ritel dan institusi lokal sebanyak 24,21 persen, sedangkan sisanya dimiliki oleh investor asing.
Dengan struktur kepemilikan tersebut, penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) PTBA tetaplah pemerintah Indonesia melalui MIND ID.
Namun, di tengah stabilitas kepemilikan, kinerja saham PTBA justru menurun dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data perdagangan Jumat (10/10/2025), saham PTBA ditutup di level Rp2.380 per lembar, turun 11,19 persen dalam enam bulan terakhir. Padahal, harga tertinggi saham PTBA sepanjang 2025 sempat mencapai Rp3.030 per lembar.
Penurunan ini dinilai sebagian analis sebagai dampak dari peningkatan biaya operasional dan tekanan transisi energi global, di mana permintaan terhadap batu bara mulai beralih ke energi bersih.
Meski begitu, Bukit Asam dinilai masih memiliki posisi strategis sebagai penopang energi nasional dan pionir transisi energi hijau di tubuh BUMN pertambangan Indonesia.
***
