Senin, Juni 8, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISBatu Pertama Ditancap, Proyek Baterai EV Terbesar Asia

Batu Pertama Ditancap, Proyek Baterai EV Terbesar Asia

  • Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terbesar di Asia resmi dimulai di Karawang, Jawa Barat, dengan total investasi US$ 5,9 miliar.
  • Dipimpin Presiden Prabowo Subianto, proyek ini digadang-gadang menghasilkan nilai tambah hingga US$ 48 miliar, menghemat impor BBM, membuka pasar ekspor global, serta memperkuat hilirisasi industri nasional dari nikel hingga daur ulang baterai.

 

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada akhir Juni 2025 meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) terbesar di Asia yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Proyek raksasa ini menelan total investasi hulu-hilir sebesar US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.278 per dolar Amerika Serikat.

Proyek tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), serta perusahaan asal Tiongkok Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL), yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp, dan Lygend.

Peletakan batu pertama proyek investasi jumbo ini masuk dalam deretan “Big Stories 2025” IndoBisnis. Dimulainya pembangunan proyek strategis nasional tersebut menjadi salah satu topik paling banyak dibaca sepanjang 2025, seiring besarnya dampak ekonomi, industri, dan geopolitik energi yang menyertainya.

Diresmikan di Jantung Industri Jawa Barat

Berlokasi di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Prabowo secara simbolis meresmikan groundbreaking pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam peresmian tersebut, Prabowo didampingi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, COO Danantara Dony Oskaria, CIO Danantara Pandu Patria Sjahrir, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, pemilik Grup Artha Graha Tomy Winata, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi ini ditegaskan sebagai langkah konkret untuk mewujudkan kemandirian industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

“Cita-cita hilirisasi sudah sangat lama dari sebenarnya Presiden Republik Indonesia yang pertama dari Bung Karno sudah bercita-cita hilirisasi. Dan Presiden-Presiden kita selanjutnya juga bercita-cita dan melaksanakan hilirisasi,” ujar Prabowo dalam sambutannya, Minggu (29/6/2025).

RI Bisa Ketiban Durian Runtuh Rp 481,55 Triliun

Prabowo memperhitungkan bahwa nilai tambah ekonomi dari proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi ini dapat melonjak hingga delapan kali lipat dibandingkan nilai investasi awal. Total nilai tambah yang dihasilkan diperkirakan mencapai US$ 48 miliar atau setara Rp 481,55 triliun.

“Jadi memang tadi saya katakan proyek ini adalah proyek terobosan dan sebagaimana tadi dilaporkan dengan investasi US$ 5,9–6 miliar akan menghasilkan nilai diperkirakan US$ 48 miliar, jadi delapan kali nilai tambahnya,” tegas Prabowo.

Ia menambahkan, manfaat ekonomi tersebut tidak hanya dirasakan oleh pemerintah pusat, tetapi juga oleh daerah-daerah penghasil bahan baku utama, khususnya Maluku Utara, yang menjadi bagian penting dalam rantai hulu proyek ini.

“Dengan nilai tambah yang sekian tidak hanya Maluku Utara yang akan kita percepat pembangunannya, tapi provinsi-provinsi lain akan menikmatinya. Seluruh bangsa akan menikmatinya,” kata Prabowo menegaskan.

RI Bisa Hemat Impor BBM 300 Ribu Kiloliter

Dari sisi energi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa keberadaan pabrik baterai ini berpotensi menghemat impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 300 ribu kiloliter per tahun, apabila pabrik beroperasi pada kapasitas maksimal 15 GWh per tahun.

“Ini bisa menghemat impor BBM sekitar 300.000 kiloliter per tahun kalau hanya 15 GWh,” ujar Bahlil dalam acara peresmian groundbreaking Ekosistem Baterai Terbesar di Asia tersebut.

Jepang hingga AS Minat Beli

Sementara itu, Direktur Utama IBC saat itu, Toto Nugroho, mengungkapkan bahwa produk sel baterai yang dihasilkan nantinya tidak hanya diserap pasar domestik, tetapi juga akan diekspor ke sejumlah negara, termasuk Jepang, India, China, hingga Amerika Serikat.

“Ada. Jadi sudah ada beberapa off-taker langsung. Banyak yang ada di Indonesia. Ada juga yang pasar untuk ekspor,” ujar Toto. “Negaranya ada Jepang, ada India. Ada juga US,” tambahnya.

Meski demikian, Toto belum merinci perusahaan mana saja yang akan menjadi pembeli utama produk sel baterai tersebut. Ia memperkirakan porsi ekspor mencapai sekitar 30 persen dari total produksi, sementara sisanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Kalau kita lihat dengan kondisi yang sekarang, diekspor sekitar 30-an persen. Tapi nanti pasti berubah-ubah tahun ke tahun,” jelasnya.

Menurut Toto, perkembangan industri baterai EV global saat ini paling pesat terjadi di China, Amerika Serikat, dan Eropa, disusul kawasan Timur Tengah. Indonesia, dengan kekayaan nikel yang dimiliki, dinilai berada pada posisi strategis untuk memainkan peran kunci.

Lithium Masih Impor

Dalam pengembangan ekosistem baterai EV, Indonesia memang unggul dari sisi nikel. Namun, Toto mengakui bahwa satu komponen penting masih harus dipenuhi melalui impor, yakni lithium.

Ia menjelaskan bahwa lithium hanya menyumbang sekitar 7 persen dari total komponen sel baterai, dan saat ini sebagian besar pasokannya berasal dari Australia serta Amerika Selatan.

“Lithium itu cuma tujuh persen dari baterainya secara benar-benar,” ujarnya.

Meski begitu, Indonesia disebut memiliki potensi untuk memproduksi lithium dari sumber air panas bumi (brine geothermal), meskipun hingga kini belum dieksplorasi secara optimal.

“Tidak semua negara memiliki mineral yang cukup untuk baterai. Seluruh mineral itu disebar di seluruh dunia. Jadi kita saling melengkapi sebenarnya,” tandas Toto.

Enam Proyek JV dari Hulu ke Hilir

Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi ini terdiri dari enam usaha patungan (joint venture/JV) yang mencakup sektor hulu hingga hilir.

Di sisi hulu, JV 1 hingga JV 3 meliputi proyek pertambangan dan smelter nikel di Halmahera, dengan kapasitas produksi jutaan ton dan jadwal operasi bertahap hingga 2028. Sementara di sisi hilir, JV 4 hingga JV 6 mencakup produksi material baterai, sel baterai berkapasitas total 15 GWh per tahun di Karawang, serta fasilitas daur ulang baterai di Halmahera Timur yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2031.

Keseluruhan proyek ini menegaskan ambisi Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, melainkan pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik global.

***

Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.

Artikel ini diterbitkan IndoBisnis dengan judul: Batu Pertama Ditancap, Proyek Baterai EV Terbesar Asia.

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments