Sabtu, April 25, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISBUMA Tertekan Rugi Rp1,33 Triliun

BUMA Tertekan Rugi Rp1,33 Triliun

  • BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) kembali mencatatkan hasil keuangan yang menantang.
  • Perseroan masih membukukan kerugian USD81 juta atau setara Rp1,33 triliun (kurs Rp16.500 per USD) hingga kuartal III-2025.
  • Kerugian tersebut terutama dipicu oleh EBITDA yang lebih rendah serta pencadangan piutang untuk operasional di Australia.
  • EBITDA hingga September 2025 tercatat sebesar USD127 juta dengan margin 14 persen, sehingga belum cukup menopang kinerja keuangan secara keseluruhan.

 

 

Direktur BUMA, Iwan Fuad Salim, menjelaskan bahwa sebagian dari kerugian yang terjadi berhasil ditekan melalui keuntungan nilai wajar dari 29Metals, beban bunga yang lebih rendah, manfaat pajak, serta pergerakan kurs mata uang yang dinilai menguntungkan.

Ia menegaskan bahwa perseroan sedang fokus mempertahankan ritme pemulihan yang telah terlihat sejak semester kedua.

“Memasuki akhir tahun, fokus kami tetap pada mempertahankan capaian perbaikan ini, menjaga margin, dan memperkuat keunggulan operasional di seluruh bisnis,” ujar Fuad dalam keterbukaan informasi, Jumat (28/11/2025).

Sejalan dengan kerugian tersebut, pendapatan DOID tercatat mencapai USD1,131 miliar, turun 16 persen secara tahunan (YoY). Penurunan ini utamanya dipengaruhi oleh menurunnya volume bisnis kontraktor tambang akibat gangguan operasional pada kuartal pertama.

Meski demikian, Average Selling Price (ASP) terpantau relatif stabil dengan pertumbuhan 1 persen YoY. Stabilitas ASP ditopang oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih besar sehingga membantu meredam dampak penurunan harga batu bara.

Di sisi lain, pendapatan dari bisnis kepemilikan tambang Atlantic Carbon Group Inc (ACG) menunjukkan lonjakan signifikan menjadi USD45 juta dari sebelumnya USD12 juta pada tahun lalu. Kenaikan ini mencerminkan kontribusi penuh ACG selama periode 2025.

Pada kuartal II-2025, kinerja DOID mulai menunjukkan perbaikan dengan pendapatan sebesar USD400 juta atau tumbuh 6 persen, meski tetap mencatat kerugian USD1 juta.

Momentum pemulihan ini terus berjalan hingga kuartal III, didorong oleh meningkatnya jam kerja efektif dan waktu siklus (cycle time) yang lebih singkat di sejumlah lokasi operasional utama.

“Kinerja kuartal ketiga menunjukkan bahwa pemulihan kami semakin menguat. Jam kerja efektif yang lebih tinggi, cycle-time yang lebih singkat, dan pengendalian biaya yang lebih ketat menghasilkan volume yang lebih baik, biaya per unit yang lebih rendah,” jelas Fuad dalam keterangannya.

Adapun belanja modal (capital expenditure) perseroan mencapai USD149 juta atau tumbuh 12 persen YoY. Dari nilai tersebut, 54 persen digunakan untuk menjaga keandalan dan kesiapan armada, sementara 46 persen diarahkan untuk mendukung pertumbuhan melalui peningkatan kapasitas di berbagai site strategis di Indonesia.

***

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh IDX CHANNEL.COM dengan judul: BUMA (DOID) Masih Catatkan Kerugian Rp1,33 Triliun hingga Kuartal III-2025.

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung. 

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments