Jakarta, IndoBisnis – Xiang Guangda, yang dikenal sebagai raja nikel dari China, telah menjadi perbincangan belakangan ini karena perannya dalam “membekukan” pasar London Metal Exchange akibat lonjakan harga nikel menjadi lebih dari US$100.000 per ton.
Dengan menggunakan momen kenaikan harga nikel sejak akhir 2021, Xiang melakukan short selling, di mana investor meminjam saham atau aset dari broker untuk dijual di pasar terbuka. Apabila harga komoditas turun, investor dapat membeli kembali saham tersebut dengan harga yang lebih rendah dan mengembalikannya kepada broker.
Namun, jika permainan ini tidak berjalan dengan baik dan harga komoditas terus naik, investor harus membeli kembali saham tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Hal inilah yang dialami oleh Xiang.
Meskipun Xiang mengira harga nikel akan turun, kondisi geopolitik yang mengganggu pasar saham global dan sanksi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat terhadap Rusia justru mendorong kenaikan harga komoditas secara signifikan.

Siapa sosok Xiang Guangda?
Xiang Guangda memulai karirnya sebagai mekanik di perusahaan perikanan sebelum berpindah ke bisnis manufaktur pintu otomotif. Pada tahun 1988, ia mendirikan Tsingshan Holding Group.
Awalnya Tsingshan bergerak di sektor otomotif, tetapi kemudian beralih ke bisnis produksi baja tahan karat dan nikel mentah. Seiring waktu, konglomerasi ini tumbuh menjadi salah satu pemain terkemuka di dunia dengan pendapatan tahunan lebih dari US$28 miliar pada tahun 2018.
Tsingshan juga melakukan investasi dalam miliaran dolar di negara-negara dengan cadangan nikel yang besar, seperti Indonesia. Mereka mengekstraksi dan memurnikan nikel untuk digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk baterai mobil listrik.
Xiang dan Tsingshan telah menjadi pionir dalam perdagangan nikel global, dan tindakan mereka memiliki dampak signifikan terhadap dinamika pasar. Sebagai contoh, pada tahun 2019, Tsingshan berhasil meningkatkan harga nikel setelah mereka membeli stok logam dalam jumlah besar menjelang larangan ekspor nikel mentah dari Indonesia.
Namun, kali ini pertaruhan terbaru yang dilakukan oleh Xiang tidak berhasil seperti sebelumnya. Meskipun demikian, dia tetap yakin bahwa harga nikel akan turun. Bahkan, ia telah menyiapkan aset Tsingshan sebagai jaminan bagi para pemberi pinjaman.
Pada akhir perdagangan pekan lalu, harga nikel tercatat turun sebesar 0,03 persen menjadi US$48.226 per metrik ton.***
