JAKARTA, IndoBisnis – PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) mengakui bahwa meskipun terlibat dalam bisnis pertambangan, perusahaan tetap berkomitmen untuk mengatasi dampak lingkungan.
Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel), Roy Arman Arfandy menyatakan, fokusnya tidak hanya pada pengelolaan emisi karbon tetapi juga pada minimalisasi limbah produksi.
Ia menyebutkan, mereka telah berhasil mengkonversi terak nikel menjadi bahan bangunan. Mereka memanfaatkan terak nikel untuk memproduksi batu bata, paving block, dan saluran drainase untuk proyek konstruksi yang berlokasi di Pulau Obi.
“Di sini kita lihat bisa dijadikan batu bata atau saluran drainase yang kita pakai. Jalan juga kita cor karena daerah kita banyak sekali truk yang lalu lalang. tingginya output limbah terak nikel,” jelasnya.
Arfandy mengungkapkan, pihaknya telah memperbaiki sekitar 40 hektar atau 40.000 meter persegi jalan dengan menggunakan material limbah.
Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan limbah terak nikel untuk membuat terumbu karang buatan. “Ini sebagai habitat terumbu karang di dasar laut. Untuk melestarikan ekosistem laut,” imbuhnya.
Selain itu, untuk mencegah polusi udara, perusahaan telah membangun kubah batu bara di Pulau Obi. Kubah ini menyimpan batu bara untuk pembangkit listrik di kawasan tersebut.
“Jadi kalau ada angin, debu batu baranya tidak keluar Pak. Semua batu bara kita simpan di kubah batu bara, dan bisa dibayangkan, saya tidak ingat persis ukurannya, tapi kubah batu bara kita panjangnya 600 meter. Lebarnya 140 meter, kira-kira bisa menampung 300.000 ton batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik kami. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk penghijauan,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan, perseroan memiliki pembibitan untuk penghijauan di kawasan tersebut dengan kapasitas produksi hingga 470.000 bibit per tahun.
“Kami juga sudah melakukan reklamasi. Lebih dari 200 hektare untuk penanaman kembali,” tandasnya.***
