Selasa, Juni 9, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISProduksi Freeport Anjlok, Daya Serap Ekonomi Papua Melemah

Produksi Freeport Anjlok, Daya Serap Ekonomi Papua Melemah

  • Insiden di tambang Grasberg menekan kinerja industri tambang Papua Tengah. Ekonomi wilayah timur Indonesia kehilangan tenaga pendorong utama, dengan dampak nyata pada serapan ekonomi masyarakat lokal.

 

 

 

 

Perekonomian kawasan Maluku dan Papua mulai kehilangan pijakan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kawasan ini melambat signifikan menjadi 2,68 persen year-on-year (yoy) pada kuartal III/2025, anjlok dari capaian 6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Melansir Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan bahwa perlambatan tersebut terutama dipicu oleh kontraksi tajam di Provinsi Papua Tengah, yang menjadi lokasi utama aktivitas tambang PT Freeport Indonesia.

“Papua Tengah negatif cukup besar karena kondisi kahar di Freeport sana. Luncuran material basah membuat produksi bijih logam turun cukup dalam,” ujar Edy dikutip, Rabu (5/11/2025).

Papua Tengah mencatat kontraksi ekonomi mencapai -16,11 persen yoy, terutama karena turunnya produksi tembaga dan emas di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) setelah terjadi insiden luncuran material basah pada 8 September 2025.

Insiden di tambang bawah tanah tersebut menjadi titik lemah yang menular ke sektor lain. Penghentian sementara operasi tambang oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) membuat ribuan tenaga kerja terhenti sementara, rantai pasok lokal tersendat, dan perputaran ekonomi di wilayah pegunungan Mimika melemah tajam.

Tak hanya Papua Tengah, Papua Barat juga terseret ke dalam pusaran perlambatan. Penurunan produksi gas alam cair (LNG) membuat perekonomian provinsi itu ikut terkoreksi 0,13 persen yoy.

“Peranan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Tengah dan Papua Barat berkontribusi sekitar 39,26 persen terhadap ekonomi Maluku dan Papua,” ujar Edy.

Kedua provinsi yang selama ini menjadi motor pertumbuhan kawasan timur Indonesia kini justru menjadi sumber perlambatan, menandakan adanya ketergantungan tinggi pada industri ekstraktif berskala besar.

Dalam laporan resmi Freeport-McMoRan Inc (FCX), induk dari PTFI, disebutkan bahwa penghentian operasi sejak insiden September menyebabkan kehilangan produksi sekitar 90 juta pound tembaga dan 80.000 ounce emas hanya dalam satu kuartal.

Produksi tembaga Freeport anjlok menjadi 311 juta pound pada kuartal III/2025, turun 29,16 persen yoy dari 439 juta pound tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sepanjang sembilan bulan pertama 2025, total produksi tembaga mencapai 966 juta pound, turun 29 persen yoy.

Produksi emas lebih parah. PTFI hanya mampu mencatat 281.000 ounce pada kuartal III/2025, anjlok 37,69 persen yoy dari 451.000 ounce pada 2024. Secara total, sepanjang 2025, produksi emas hanya 876.000 ounce, terpangkas 38 persen yoy.

Freeport mengakui bahwa tambang bawah tanah GBC merupakan tulang punggung cadangan bijih perusahaan, menyumbang sekitar 70 persen dari total proyeksi produksi emas dan tembaga hingga 2029. Dengan terganggunya area utama ini, pemulihan tidak bisa diharapkan dalam waktu singkat.

Freeport memperkirakan tambang Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ), yang tidak terdampak langsung, dapat memulai kembali operasi pada kuartal IV/2025. Namun, pemulihan penuh untuk tambang GBC diperkirakan baru dimulai secara bertahap sepanjang 2026.

Dalam proyeksi internalnya, produksi PTFI tahun depan kemungkinan masih 35 persen lebih rendah dibandingkan estimasi sebelum insiden.

“Pemulihan ini bergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi geoteknik tambang dan keamanan kerja,” tulis FCX dalam laporannya yang mengutip Jumat (24/10/2025).

Dampak melemahnya sektor tambang kini terasa hingga ke lapisan masyarakat di Papua Tengah. Perdagangan, jasa, hingga logistik lokal ikut melambat karena menurunnya aktivitas ekspor bahan tambang. Sementara daya beli masyarakat menurun seiring stagnasi pendapatan dari sektor penunjang tambang.

Analis ekonomi menilai, kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk mulai memperluas basis ekonomi Papua, tidak hanya bergantung pada tambang raksasa. Sektor pertanian, pariwisata alam, dan energi terbarukan disebut-sebut sebagai alternatif yang bisa memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments