IndoBisnis – Setelah lebih dari satu dekade hilang tanpa jejak, jurnalis asal Amerika Serikat, Austin Tice, diduga kuat ditahan oleh rezim Bashar al-Assad, menurut hasil investigasi terbaru yang dirilis oleh BBC pada Senin (26/5). Dalam laporan tersebut, BBC mengklaim telah memperoleh berkas rahasia intelijen Suriah yang menjadi bukti paling kuat sejauh ini mengenai keberadaan dan penahanan Tice.
Austin Tice, seorang mantan anggota Marinir AS yang beralih profesi menjadi jurnalis lepas, menghilang pada Agustus 2012 di wilayah Darayya, dekat ibu kota Damaskus. Ia tengah meliput konflik bersenjata yang meningkat di Suriah, hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-31.
Bantahan Lama yang Diterobos Fakta Baru
Selama bertahun-tahun, pemerintah Suriah secara konsisten membantah memiliki kaitan apa pun dengan hilangnya Tice. Namun, dokumen yang berhasil diperoleh BBC, disertai dengan kesaksian dari mantan pejabat intelijen Suriah, tampaknya membenarkan dugaan lama dari otoritas Amerika Serikat bahwa Tice memang ditahan oleh rezim Assad.
“Berkas tersebut mencantumkan nama Austin Tice secara eksplisit dan menjelaskan rincian penahanannya usai ditangkap di dekat Damaskus,” demikian isi laporan BBC.
Dalam salah satu dokumen, terungkap adanya komunikasi internal antarunit intelijen Suriah yang membahas status Tice sebagai tahanan. Data ini diperkuat oleh saksi mata dan bekas anggota militer pro-Assad yang menyebut bahwa Tice disimpan sebagai “aset berharga” untuk tujuan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Rekaman dan Usaha Pelarian
Tak lama setelah Tice dinyatakan hilang, sebuah video beredar secara daring memperlihatkan dirinya dengan mata tertutup, dikelilingi oleh pria bersenjata, dan diminta melafalkan syahadat. Meski video tersebut seolah menunjukkan keterlibatan kelompok ekstremis, dinas intelijen AS saat itu meragukan keasliannya.
Seorang analis menyebut, “Video ini kemungkinan telah direkayasa untuk mengalihkan perhatian dari pelaku sebenarnya.”
Pada awal 2013, kantor berita Reuters melaporkan bahwa seorang pria asing yang diyakini sebagai Tice terlihat berusaha melarikan diri di lingkungan elit Mazzeh, Damaskus, sebelum ditangkap kembali setelah lima bulan dalam penahanan.
Sejak saat itu, Tice tidak pernah terlihat lagi, dan tidak ada satu kelompok pun yang mengaku bertanggung jawab atas penahanannya.
Penahanan di Penjara Terkenal
BBC mengklaim bahwa Austin Tice kemungkinan ditahan di Penjara Tahouneh, salah satu penjara paling terkenal di Damaskus yang dikenal dengan kondisi keras bagi para tahanan politik. Penjara ini dikelola langsung oleh aparat intelijen Suriah.
Seorang mantan perwira intelijen Suriah yang diwawancarai BBC menyatakan bahwa Tice berada di bawah penjagaan Pasukan Pertahanan Nasional (NDF) yang loyal kepada Assad hingga setidaknya Februari 2013.
Menurut sumber yang sama, Tice mengalami gangguan pencernaan dan pernah mendapatkan perawatan medis dua kali selama penahanannya, termasuk untuk infeksi virus.
“Dia tampak sedih dan tidak lagi menunjukkan semangat di wajahnya,” kata seorang saksi mata. Meski begitu, ia mengakui bahwa Tice diperlakukan lebih baik daripada tahanan lokal karena dianggap memiliki nilai tawar diplomatik.
‘Kartu’ untuk Negosiasi Politik
Dalam laporan BBC, seorang mantan anggota NDF yang memiliki informasi mendalam soal penahanan Tice mengatakan bahwa rezim Assad memperlakukan Tice sebagai “kartu” untuk negosiasi. Ini memperjelas bahwa penahanannya bukan tindakan acak, tetapi bagian dari strategi politik tingkat tinggi.
Dokumen-dokumen itu juga mencatat bahwa Tice pernah mencoba melarikan diri lewat jendela namun berhasil ditangkap kembali. Setelah itu, ia diinterogasi setidaknya dua kali, menurut catatan dalam berkas tersebut.
BBC menegaskan bahwa berkas ini merupakan bukti paling jelas yang menghubungkan rezim Assad dengan penahanan Tice, membantah narasi resmi Suriah selama lebih dari 10 tahun.
Tak Ada Jejak Setelah Runtuhnya Rezim Assad
Pada Desember lalu, rezim Bashar al-Assad resmi runtuh. Namun, dari ribuan tahanan yang dibebaskan atau diidentifikasi, tidak ada satu pun jejak yang mengarah pada Tice.
Meski demikian, harapan belum padam. Presiden AS saat itu, Joe Biden, kembali menyuarakan keyakinannya bahwa Tice masih hidup. “Kami yakin Austin masih hidup,” kata Biden dalam sebuah pernyataan singkat.
Pernyataan itu sejalan dengan klaim dari Nizar Zakka, ketua kelompok advokasi penyanderaan yang berbasis di AS. Zakka mengatakan, “Tice kemungkinan besar ditahan oleh sekelompok kecil orang di rumah aman. Mereka menunggu momen yang tepat untuk kesepakatan atau pertukaran.”
Kesaksian Ibu dan Keterlibatan Mantan Presiden Trump
Ibu Austin, Debra Tice, juga menyuarakan keyakinan serupa. Dua hari sebelum pernyataan Biden, ia menyebut bahwa seorang “sumber penting” telah memastikan bahwa putranya masih hidup dan diperlakukan dengan baik.
Dalam wawancara dengan The Washington Post pada awal Mei, Debra menyatakan, “Pemerintah Amerika mengetahui lokasi anak saya. Saya hanya ingin mereka segera membawanya pulang.”
Sementara itu, mantan Presiden Donald Trump juga mengangkat kasus ini dalam pertemuan diplomatik dengan Presiden baru Republik Arab Suriah, Ahmed Al-Sharaa, di Riyadh. Kepada wartawan, Trump hanya mengatakan, “Austin belum terlihat selama bertahun-tahun,” tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Beberapa hari sebelumnya, Sky News Arabia sempat membuat laporan keliru bahwa jenazah Tice ditemukan di Suriah utara. Keluarga Tice mengecam laporan itu sebagai “tidak sopan dan menyakitkan”.
Simbol Krisis Hak Asasi Manusia
Keluarga Tice yang selama ini memimpin kampanye pencarian, kini juga tengah bekerja sama dengan organisasi-organisasi hak asasi manusia di AS dan Suriah. Tice diyakini sebagai salah satu warga negara AS yang paling lama ditahan secara tidak sah dalam sejarah.
Menurut data dari Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah, lebih dari 100.000 orang telah hilang selama pemerintahan Assad, baik karena konflik, penahanan paksa, maupun pembunuhan tanpa proses hukum.
Austin Tice, yang pernah bertugas di Irak dan Afganistan sebelum melanjutkan studi hukum di Universitas Georgetown, kini menjadi simbol dari nasib para korban konflik yang dilupakan dunia.
***
