Jakarta, IndoBisnis — PT Petrosea Tbk. (PTRO), perusahaan tambang yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, mencatatkan penurunan laba bersih signifikan sebesar 65,63% menjadi US$10,5 juta pada kuartal III 2023, turun dari US$30,77 juta.
Seperti dilansir CNBC Indonesia pada Selasa 28 Maret 2024, meski laba bersih mengalami penurunan, namun pendapatan perseroan justru meningkat 27,04% dibandingkan periode yang sama menjadi US$418,78 juta, naik dari US$329,6 juta pada 2022.
Pendapatan tersebut berasal dari berbagai sektor: pertambangan menyumbang US$268,8 juta, konstruksi dan engineering menyumbang US$115,4 juta, dan jasa menyumbang US$30,9 juta. Ada pula pendapatan lain-lain sebesar US$1,89 juta.
Berdasarkan konsumen, pendapatan pihak ketiga berasal dari PT Kideco Jaya Agung (US$121,27 juta), PT Hardaya Mining Energy (US$74,97 juta), PT Freeport Indonesia (US$57,81 juta), dan PT Kartika Selabumi Mining (US$42,58 juta). ).
Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban perseroan juga meningkat sebesar 38,40% menjadi US$363,6 juta pada tahun 2023, naik dari US$262,7 juta pada tahun 2022.
Alhasil, laba kotor PTRO menyusut 17,61% menjadi US$55,09 juta pada tahun 2023, turun dibandingkan tahun 2022 sebesar US$66,87 juta.
Total aset PTRO meningkat menjadi US$716,29 juta pada tahun 2023, naik dari US$596,4 juta pada tahun 2022. Sementara itu, liabilitas PTRO naik menjadi US$482,6 juta pada akhir tahun 2023, naik dari US$298,4 juta pada akhir tahun 2022. Ekuitas perseroan turun menjadi US$233,6 juta pada akhir tahun 2023, turun dari US$297,9 juta pada tahun 2022.***
