Minggu, Mei 31, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalNama Kapal JKW Mahakam dan Dewi Iryana, yang Mengangkut Ornikel dari Pulau-Pulau...

Nama Kapal JKW Mahakam dan Dewi Iryana, yang Mengangkut Ornikel dari Pulau-Pulau Kecil seperti Pulau Pakal, Mabuli, dan Pulau Gee

IndoBisnis – Potongan video berdurasi 1 menit 29 detik yang diunggah oleh akun TikTok @andyhimawanto2 tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Video tersebut menyoroti aktivitas kapal-kapal tambang yang hilir mudik di kawasan industri Teluk Weda, Maluku Utara. Dua nama kapal mencuri perhatian: JKW Mahakam dan Dewi Iryana, yang disebut kerap mengangkut ornikel dari sejumlah pulau kecil.

Dalam video itu dijelaskan bahwa sejak tahun 2023 hingga 2024, terjadi lonjakan pergerakan kapal yang sangat signifikan di Weda. Data log pelayaran mencatat ribuan kapal keluar masuk kawasan ini, membawa material konstruksi, alat berat, hingga ornikel dalam skala besar.

“Kami menemukan bahwa dalam dua tahun terakhir, lebih dari 36 juta ton ornikel telah diangkut menuju Weda,” kutip narasi dalam video tersebut.

Dari total tersebut, hampir 35 persen berasal dari wilayah Tanjung Buli, Halmahera Timur. Aktivitas tambang yang sangat masif di kawasan itu telah menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem di sekitarnya.

Pulau-pulau kecil seperti Pulau Pakal, Mabuli, dan Pulau Gee menjadi korban ekspansi tambang. Eksploitasi di wilayah tersebut menyebabkan hilangnya hutan, abrasi pantai, serta penurunan produktivitas nelayan setempat. “Hutan-hutan hilang, garis pantai rusak, dan aktivitas nelayan terganggu,” ucap Narator dalam video tersebut.

Mayoritas konsesi tambang di kawasan ini dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam), perusahaan milik negara yang memang telah lama menguasai sektor pertambangan di Indonesia. Tidak hanya di Halmahera, Antam juga tercatat sebagai pengelola di Pulau Gag, Papua Barat, yang juga mengalami degradasi lingkungan akibat kegiatan tambang.

“Nama kapal JKW Mahakam dan Dewi Iryana kerap muncul dalam log pelayaran sebagai pengangkut utama ornikel dari pulau-pulau kecil tersebut,” lanjut narasi dalam video.

Situasi serupa juga terjadi di Pulau Gebek, di mana lebih dari 7 juta ton ornikel telah diambil dalam kurun waktu dua tahun. Bahkan, Indonesia juga tercatat mengimpor 6 juta ton ornikel dari wilayah Surigao del Norte, Filipina Selatan — salah satu daerah pertambangan penting di kawasan Asia Tenggara.

Filipina pun menghadapi persoalan serupa. “Apa yang terjadi di Surigao mencerminkan situasi yang sama di banyak wilayah tambang di Indonesia. Industri bergerak cepat, tetapi perlindungan lingkungan dan hak masyarakat tertinggal jauh,” ucap narator dalam video tersebut.

Meningkatnya aktivitas kapal tambang seperti JKW Mahakam dan Dewi Iryana kini menjadi cerminan dari besarnya arus sumber daya alam yang keluar dari pulau-pulau kecil Indonesia. Namun di sisi lain, kapal-kapal itu juga menjadi simbol kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan lemahnya pengawasan dalam rantai industri nikel nasional.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments