- Dari toko kelontong keluarga hingga konglomerasi tambang dan sawit, perjalanan bisnis Harita Group tak lepas dari tangan dingin seorang penerus: Lim Gunawan Hariyanto.
Lim Gunawan Hariyanto dikenal sebagai Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Harita Group, perusahaan nasional yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.
Ia merupakan putra Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, pendiri Harita Group, yang berhasil mengubah usaha keluarga menjadi korporasi besar yang berpengaruh di Indonesia.
Pria kelahiran Samarinda, 1960 ini menempuh pendidikan di University of Southern California, Amerika Serikat, dan memperoleh gelar Sarjana Administrasi Bisnis pada 1981.
Pendidikan tersebut menjadi fondasi profesionalisme dan strategi kepemimpinan yang ia terapkan hingga saat ini.
Berbeda dengan anak pengusaha pada umumnya, Lim Gunawan tumbuh menyaksikan sang ayah mengembangkan toko kelontong warisan kakeknya, yang perlahan berkembang menjadi bisnis perkayuan melalui PT Tirta Mahakam Resources. Dari sinilah Harita Group memulai perjalanan panjangnya.
Tidak berhenti pada kesuksesan awal, keluarga Lim kemudian memasuki sektor pertambangan emas dan batu bara di Kalimantan.
Kesuksesan bisnis pertambangan tersebut menjadi pijakan bagi langkah berikutnya ke industri kelapa sawit. Pada 1996, mereka mengakuisisi sejumlah lahan di Kalimantan Tengah, menandai babak baru ekspansi Harita Group.
Lim Gunawan resmi bergabung dengan Bumitama Agri pada 1998, langsung menduduki posisi Executive Chairman dan CEO, yang masih dijabat hingga saat ini.
Selain itu, ia juga tercatat sebagai Komisaris Utama CITA sejak 2 Juli 2015, menegaskan perannya dalam pengelolaan perusahaan pertambangan mineral terkemuka.
Hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai kekayaan pribadi Lim Gunawan Hariyanto. Data Bursa Efek Indonesia (IDX) mencatat ia memiliki 8.624.980 lembar saham atau sekitar 0,22% di Cita Mineral Investindo Tbk.
Sebagai perbandingan, sang ayah diperkirakan memiliki kekayaan bersih US$5,3 miliar atau sekitar Rp88,436 triliun menurut Forbes 2025.
***
