Sabtu, Mei 30, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalRupiah Tahan Guncangan, Menguat 0,01% Saat Asia Terpuruk

Rupiah Tahan Guncangan, Menguat 0,01% Saat Asia Terpuruk

Indobisnis.co.id-Nilai tukar rupiah di pasar spot membuka perdagangan Selasa (27/1/2026) dengan penguatan tipis, mencerminkan ketahanan mata uang Garuda di tengah gejolak regional. Pergerakan positif ini kontras dengan mayoritas mata uang Asia yang terjebak di zona merah, dipicu oleh sentimen global yang masih bearish terhadap aset emerging market.

Rupiah dibuka pada level Rp16.780 per dolar AS, menguat 0,01% atau setara 2 poin dari penutupan Senin sebelumnya di Rp16.782. Penguatan ini terlihat di awal sesi Asia, di mana dolar AS sempat terkoreksi akibat data ekonomi AS yang mengecewakan, seperti lapangan kerja dan inflasi yang lebih rendah dari proyeksi. Namun, ruang kenaikannya terbatas oleh ekspektasi kebijakan moneter global yang belum jelas.

Kondisi pasar Asia pagi ini didominasi tekanan jual, dengan won Korea Selatan mengalami depresiasi terdalam sebesar 0,57%, diikuti baht Thailand yang melemah 0,37% dan peso Filipina terkoreksi 0,18%. Yen Jepang turun 0,10%, yuan China tergelincir 0,06%, ringgit Malaysia merosot 0,03%, serta dolar Singapura hanya anjlok tipis 0,008%. Dinamika ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi kawasan dan aliran modal keluar.

Di tengah dominasi merah, hanya sedikit mata uang yang bertahan. Dolar Taiwan memimpin dengan kenaikan 0,04%, didorong oleh ketahanan ekspor teknologi, sementara dolar Hongkong naik tipis 0,004% berkat hubungan erat dengan pasar China. Performa ini menonjolkan disparitas di Asia, di mana faktor domestik seperti neraca perdagangan dan intervensi bank sentral berperan besar.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah berpotensi menguat lebih lanjut jika dolar AS tetap tertekan, meski dibatasi oleh sikap hati-hati pelaku pasar. Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI telah diantisipasi, minim menimbulkan gejolak baru terhadap kebijakan moneter dan independensi bank sentral. “Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang masih tertekan, namun penguatan mungkin terbatas, investor menimbang Thomas Djiwandono,” ungkapnya kepada Kompas.com.

Investor juga menerapkan strategi wait-and-see menjelang pengumuman rapat FOMC Federal Reserve pada 28/1/2026, yang dapat memengaruhi arah dolar global melalui sinyal suku bunga. Dengan demikian, rupiah diprediksi berfluktuasi dalam rentang Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS sepanjang hari ini.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments