IndoBisnis – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa masa penjajahan Belanda selama lebih dari tiga abad telah merugikan Indonesia secara ekonomi hingga mencapai $31 triliun. Hal itu disampaikannya dalam pidato pembukaan Pameran Pertahanan di Jakarta, Rabu (5/6).
“Hanya ada satu penelitian dari beberapa minggu lalu yang mengatakan bahwa selama masa penjajahan Belanda, mereka mengambil $31 triliun dari kekayaan kita,” ujar Prabowo. Meskipun ia tidak menyebutkan secara spesifik penelitian yang dimaksud, pernyataannya menggarisbawahi besarnya kerugian yang ditanggung bangsa akibat kolonialisme.
Sebagaimana diberitakan media Timur Tengah, ArabNews, Presiden Prabowo menyinggung bagaimana eksploitasi sumber daya Indonesia secara besar-besaran oleh Belanda telah menguntungkan negara tersebut, menjadikannya sebagai salah satu kekuatan ekonomi Eropa pada abad ke-17. Belanda membangun monopoli atas perdagangan rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan lada, yang saat itu dianggap sebagai komoditas mewah dan bernilai tinggi di Eropa.
“Ketika Belanda menduduki Indonesia, mereka menikmati PDB per kapita tertinggi di dunia. Sejarah mengajarkan kita bahwa jika kita bisa melindungi kekayaan kita, mungkin PDB kita sekarang akan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia,” kata Prabowo.
Prabowo, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, menekankan pentingnya belanja pertahanan nasional sebagai pelajaran dari masa lalu. Menurutnya, bangsa yang tidak menjaga pertahanannya rentan terhadap penjajahan dan pencurian kekayaan oleh bangsa lain.
“Bangsa yang tidak mau berinvestasi dalam pertahanannya biasanya akan mengalami kemerdekaannya dirampas, ditundukkan oleh keinginan bangsa lain, dan kekayaannya dirampas. Inilah pelajaran bagi umat manusia,” ujarnya tegas.
Salah satu contoh eksploitasi kolonial yang disoroti adalah sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan di Jawa pada abad ke-19. Dalam sistem ini, rakyat dipaksa menanam tanaman ekspor seperti kopi dan tebu, menggantikan tanaman pangan utama. Sistem ini telah menyebabkan kelaparan besar-besaran, terutama di Pulau Jawa.
Penelitian sejarawan dan ekonom Inggris Angus Maddison menunjukkan bahwa Sistem Tanam Paksa menyumbang sekitar 31,5 persen dari PDB Belanda antara tahun 1851–1870. Artinya, keuntungan kolonial didapat dengan mengorbankan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Pernyataan Prabowo menjadi pengingat penting bahwa sejarah kolonialisme tidak hanya meninggalkan luka sosial dan budaya, tetapi juga jejak ketimpangan ekonomi global yang hingga kini masih terasa dampaknya.
***
