- Tiga Tahun Anggaran, Pelabuhan Tak Kunjung Rampung
- Pembangunan Pelabuhan Semut di Desa Tuwokona sejak awal dirancang sebagai pengungkit ekonomi kawasan pesisir Bacan Selatan.
- Namun hingga akhir 2025, proyek tersebut masih tersendat. Pembesian lantai dermaga yang belum dicor, material yang mulai terdegradasi akibat paparan cuaca laut, serta waktu pengerjaan yang telah melewati tiga tahun anggaran mencerminkan lemahnya kendali proyek.
- Tanpa pengawasan ketat dan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan serta kinerja pelaksana, pelabuhan yang diharapkan menjadi pintu masuk ekonomi daerah justru berpotensi menjadi simbol kegagalan tata kelola pembangunan.
Proyek pembangunan Pelabuhan Semut di Desa Tuwokona, Kecamatan Bacan Selatan, hingga memasuki akhir tahun 2025 belum juga rampung.
Padahal, proyek strategis daerah yang melekat pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Halmahera Selatan itu menelan anggaran sekitar Rp58 miliar dan mulai dikerjakan sejak 30 Oktober 2023 oleh PT Relies Sapindo Utama.
Pantauan IndoBisnis di lapangan menunjukkan kondisi pekerjaan masih jauh dari harapan. Sejumlah struktur utama dermaga belum tuntas, terutama pada pembesian lantai dermaga yang hingga kini belum dilakukan pengecoran.
Besi-besi tersebut tampak mulai berkarat akibat terlalu lama terpapar air laut dan cuaca ekstrem. Kondisi ini mempertegas gambaran bahwa “progres di lapangan masih terlihat tersendat”.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terkait mutu konstruksi. Jika pembesian dibiarkan terlalu lama tanpa pengecoran, risiko keropos dan penurunan kualitas struktur tidak dapat dihindari.
Dampaknya tidak hanya memengaruhi usia bangunan, tetapi juga berpotensi memicu pekerjaan ulang dan tambahan anggaran, meskipun proyek ini telah menyerap dana puluhan miliar rupiah.
Lebih mengkhawatirkan lagi, proyek pembangunan Pelabuhan Semut telah melewati tiga tahun anggaran berturut-turut.
Pekerjaan yang dimulai pada 2023 tidak selesai, berlanjut ke 2024 juga belum rampung, dan hingga akhir 2025 progres fisik di lapangan belum menunjukkan kejelasan penyelesaian.
Rentang waktu yang panjang tanpa kepastian ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas perencanaan dan pengawasan proyek strategis daerah tersebut.
Pelabuhan Semut sejatinya dirancang sebagai simpul penting aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, mulai dari sektor perikanan, distribusi logistik, hingga transportasi rakyat.
Namun, keterlambatan yang berlarut-larut justru membuat manfaat ekonomi proyek ini tertunda dan terancam tidak optimal.
Secara tidak langsung, masyarakat pesisir harus menunggu lebih lama untuk merasakan dampak pembangunan yang dijanjikan.
Dari sudut pandang investasi, proyek infrastruktur merupakan indikator kepastian dan keseriusan pemerintah daerah dalam membangun iklim usaha yang sehat.
Ketika proyek strategis bernilai puluhan miliar rupiah berjalan tanpa kepastian waktu penyelesaian, kondisi tersebut berpotensi menggerus kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap komitmen pembangunan daerah.
Selain hilangnya potensi perputaran ekonomi lokal, keterlambatan ini juga membuka risiko inefisiensi fiskal.
Kerusakan material akibat faktor waktu, kemungkinan perubahan desain, hingga potensi pekerjaan ulang dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di masa mendatang.
Situasi ini menempatkan proyek Pelabuhan Semut dalam posisi rawan, dari yang semula diharapkan menjadi aset ekonomi daerah, justru berisiko berubah menjadi beban keuangan.
Sebagai proyek strategis daerah, pembangunan Pelabuhan Semut membutuhkan pengawasan ekstra ketat.
Evaluasi menyeluruh terhadap progres fisik, kualitas pekerjaan, serta kinerja kontraktor menjadi langkah mendesak agar proyek ini tidak terus berlarut tanpa arah penyelesaian yang jelas.
Keterlambatan yang berulang seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak terkait. Tanpa evaluasi menyeluruh dan langkah korektif yang tegas, proyek strategis bernilai Rp58 miliar ini akan terus menyisakan pertanyaan yang tak pernah terjawab hingga akhir tahun.
***
Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.
Artikel ini diterbitkan IndoBisnis dengan judul: Bassam–Helmi Gagal Bangun Pelabuhan Semut Rp58 Miliar.
Disclaimer
Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
