Sabtu, Mei 30, 2026
spot_img
BerandaUncategorizedPesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Operasi SAR Hadapi Medan Pegunungan...

Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Operasi SAR Hadapi Medan Pegunungan Terjal

Indobisnis.co.id- Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Jumat (17/1/2026) pukul 13.17 WITA saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat tersebut mengangkut 11 orang penumpang dan awak.

Tim SAR gabungan menemukan serpihan pesawat di lereng Bukit Bulusaraung, Kabupaten Maros. Puing-puing berupa badan pesawat, bagian sayap, hingga ekor ditemukan tersebar di beberapa titik. Hingga saat ini, satu jenazah korban telah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi, sementara proses pencarian korban lainnya masih terus berlangsung.

Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan berat akibat kondisi geografis lokasi kejadian yang berada di kawasan pegunungan dengan kemiringan ekstrem. Kepala Basarnas menyampaikan bahwa sejumlah titik puing berada di lereng curam sehingga membutuhkan peralatan mountaineering khusus. “Keselamatan personel SAR tetap menjadi prioritas utama kami dalam operasi ini,” ujarnya.

Kesaksian langsung datang dari dua pendaki, Reski (20) dan Muslimin (18), yang berada di sekitar lokasi kejadian. Keduanya mengaku melihat pesawat terbang rendah sebelum menghantam lereng gunung sekitar pukul 13.00 WITA, hanya berjarak sekitar 100 meter dari posisi mereka. “Tiba-tiba meledak dan muncul api. Serpihan beterbangan ke arah saya,” tutur Reski.

Sementara itu, seorang warga setempat bernama Hasna mengaku mendengar dentuman keras dari arah pegunungan di belakang rumahnya. Ia baru menyadari adanya kecelakaan pesawat setelah melihat ratusan personel SAR bergerak menuju lokasi kejadian.

Dari sisi keluarga korban, Muhsin (80), ayah dari salah satu penumpang bernama Deden Maulana, mengungkap pesan WhatsApp terakhir yang diterimanya pada 15 Januari. Dalam pesan tersebut, Deden mengabarkan kondisi istrinya yang pulang ke Garut untuk berobat. “Saya hanya membalas singkat, tidak menyangka itu pesan terakhir,” ujarnya dengan suara bergetar.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai kecelakaan kemungkinan terjadi saat pesawat berada pada ketinggian rendah. Ia menduga adanya gangguan teknis, seperti turbulensi kuat atau masalah mesin, yang menyebabkan kecepatan pesawat tidak cukup untuk mempertahankan daya angkat. “Jika salah satu mesin bermasalah dan kecepatan tidak memadai, pesawat bisa kehilangan kemampuan untuk bertahan,” jelasnya.

Lokasi jatuhnya pesawat diketahui berada di kawasan Leang-Leang, dekat Taman Nasional Bantimurung. Posko SAR dan crisis center telah didirikan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk mendukung koordinasi evakuasi dan penanganan keluarga korban.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan pesawat tersebut.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments