Rabu, Juni 10, 2026
spot_img
BerandaBERANDAInternasionalHaiti Kian Mencekam, Geng Kuasai Ibu Kota

Haiti Kian Mencekam, Geng Kuasai Ibu Kota

IndoBisnis – Kondisi keamanan di Haiti terus memburuk pasca keruntuhan pemerintahan. Kini, kelompok-kelompok bersenjata menguasai sebagian besar wilayah negara di kawasan Karibia itu. Rakyat hidup dalam ketakutan, fasilitas umum lumpuh, dan pemerintahan praktis tak lagi berfungsi.

Menurut laporan The Economist pada Kamis (8/5/2025), koalisi geng terbesar di Haiti bernama Viv Ansanm, yang berarti “Hidup Bersama”, telah berhasil menguasai lebih dari 85 persen wilayah Port-au-Prince, ibu kota negara tersebut. Tiap hari terjadi baku tembak antara geng, polisi, dan warga sipil, menciptakan suasana mencekam di tengah kota yang seharusnya menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi.

Warga sipil tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri. Bandara internasional telah ditutup, sehingga satu-satunya akses keluar dari kota hanyalah lewat udara dengan helikopter atau melalui pantai menggunakan tongkang untuk menghindari wilayah kekuasaan geng di selatan.

Claude Joseph, mantan Perdana Menteri Haiti, menyampaikan keprihatinannya secara terbuka. “Ini adalah bencana yang tidak dapat dipertahankan. Kita bisa kehilangan Port-au-Prince kapan saja,” ungkapnya.

Situasi semakin genting setelah geng-geng bersenjata mengepung kantor pusat Digicel, perusahaan telekomunikasi utama di Haiti yang menjadi andalan jutaan orang untuk mengakses internet. Seorang pakar keamanan menyatakan, “Jika Digicel mati, negara akan gelap.”

Lebih jauh, dilaporkan bahwa kelompok Viv Ansanm kini menggunakan sistem satelit Starlink milik Elon Musk sebagai sarana komunikasi dan koordinasi internal. Hal ini membuat mereka semakin terorganisasi dan bahkan mampu mengontrol akses ke pelabuhan strategis di Haiti. Mereka juga dilaporkan memeras pengemudi truk dan operator bus yang melintasi jalan-jalan utama, memperparah krisis logistik nasional.

Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa dalam kurun dua bulan, yaitu Februari hingga Maret 2025, lebih dari 1.000 orang tewas akibat kekerasan bersenjata. Sementara itu, 60.000 orang mengungsi, menambah jumlah total pengungsi internal menjadi lebih dari satu juta jiwa, atau sekitar 10 persen dari populasi nasional.

Tak hanya ibu kota, wilayah Haiti Tengah yang dulunya relatif damai kini turut terpecah. Kota Mirebalais, yang terletak di antara Port-au-Prince dan perbatasan Republik Dominika, kini telah jatuh ke tangan geng.

Seorang pejabat asing yang menolak disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya, “Negara ini telah menjadi perusahaan kriminal. Ini adalah dunia barat yang liar.”

Sebagai langkah tegas, pada 2 Mei lalu, Pemerintah Amerika Serikat menetapkan Viv Ansanm dan kelompok-kelompok serupa sebagai organisasi teroris. Keputusan ini memungkinkan penindakan hukum yang lebih berat terhadap siapa pun yang memberikan dana, senjata, atau bantuan logistik kepada geng tersebut.

Saat ini, kehidupan publik di Haiti praktis lumpuh total. Sebagian besar sekolah ditutup. Wabah kolera mulai menyebar, memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Haiti kini menghadapi titik nadir dalam sejarahnya—sebuah negara yang terseret ke dalam kekacauan, di mana hukum tak lagi berlaku, dan kelompok bersenjata menentukan nasib rakyatnya.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments