- Ringkasan
- Penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat memicu kecaman keras dari China dan sejumlah pemerintah asing.
- Langkah agresif Washington ini dinilai berpotensi menjadi preseden berbahaya dalam tatanan politik global.
- Para analis terbelah: sebagian menilai tindakan pemerintahan Donald Trump dapat membuka ruang pembenaran bagi Beijing untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, sementara lainnya meyakini China tidak akan gegabah menjadikan kasus Venezuela sebagai alasan aksi militer.
- Di tengah menguatnya sikap agresif China dan fokus AS pada Belahan Barat, Taiwan kembali menjadi titik rawan dalam peta geopolitik dunia.
China dan sejumlah pemerintah asing melontarkan kritik keras terhadap tindakan Amerika Serikat yang menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro.
Namun, para ahli berbeda pandangan mengenai apakah langkah pemerintahan Presiden Donald Trump dapat membuka jalan bagi Presiden China Xi Jinping untuk mengambil langkah terkait Taiwan.
Pasukan AS menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari dan membawa mereka ke New York dengan tuduhan narkoba dan terorisme. Langkah ini dinilai hampir tidak memiliki preseden modern.
Sementara sekutu Trump menyambut penggulingan tersebut, para pengkritik mengkhawatirkan contoh yang ditimbulkan, terlebih di tengah sikap China yang dinilai semakin agresif di kawasan Asia.
David Roche dari Quantum Strategy, mengutip CNBC, mempertanyakan dampak preseden tersebut. “Jika Donald Trump bisa masuk ke suatu negara dan mengambil alihnya, lalu mengapa Rusia salah tentang Ukraina, dan mengapa China tidak berhak mengambil alih Taiwan?” ujarnya.
Meski demikian, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati. Dalam wawancara di CNBC pada Senin, Carlos Gutierrez, mantan Menteri Perdagangan AS di era Presiden George W. Bush, menggambarkan hubungan China dengan Venezuela sebagai “kenyamanan taktis” yang kecil kemungkinan memicu aksi militer di Asia Timur.
Ia menegaskan tidak percaya China akan menggunakan peristiwa Venezuela sebagai alasan atau pembenaran untuk menyerang Taiwan. Menurutnya, Beijing memang akan melontarkan pernyataan keras, namun belum tentu diikuti tindakan nyata yang signifikan.
Amerika Serikat menegaskan apa yang disebut sebagai “Konsekuensi Trump” dalam Strategi Keamanan Nasional terbaru dengan menghidupkan kembali Doktrin Monroe era 1820-an.
Doktrin ini menempatkan AS memiliki lingkup pengaruh di Belahan Barat. Konsep lingkup pengaruh merujuk pada wilayah di mana negara kuat berupaya mendominasi keputusan politik, militer, dan ekonomi tanpa mencaplok wilayah tersebut secara resmi.
Konsep ini menggemakan Korolarium Roosevelt yang secara historis membenarkan intervensi AS di Amerika Latin.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan keprihatinannya atas perkembangan di Venezuela.
Ia menilai aturan hukum internasional tidak dihormati dan menyebut situasi tersebut sebagai “preseden berbahaya”.
Roche memperingatkan bahwa tindakan AS dapat menimbulkan konsekuensi tak diinginkan.
Menurutnya, di satu sisi tindakan itu menciptakan ancaman, sementara di sisi lain memberikan pembenaran bagi rezim diktator dan otokratis untuk merebut wilayah di luar lingkup kekuasaannya.
Bahkan sebelum langkah Trump terhadap Venezuela, pertanyaan mengenai keberanian China meningkatkan tekanan terhadap Taiwan telah beredar luas.
Beijing sejak lama menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Pada Desember lalu, China menggelar latihan tembak langsung di sekitar Taiwan dan menyebutnya sebagai peringatan terhadap campur tangan asing.
Dalam pidato Tahun Baru, Xi Jinping menyatakan bahwa penyatuan dengan Taiwan merupakan sesuatu yang “tak terbendung”, sejalan dengan penilaian intelijen AS bahwa Beijing berpotensi mencoba merebut pulau tersebut dengan kekuatan militer dalam dekade ini.
Namun, peneliti senior Brookings Institution, Ryan Hass, memperingatkan agar tidak menarik analogi langsung antara Venezuela dan Taiwan. Ia menilai China menghindari tindakan militer langsung bukan karena menghormati hukum internasional, melainkan karena lebih mengandalkan strategi paksaan non-kekerasan.
Menurut Hass, Beijing akan fokus melindungi kepentingannya, mengutuk tindakan AS, dan mempertajam perbedaan dengan Washington dalam sistem internasional, alih-alih mengubah pendekatannya terhadap Taiwan.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan sangat terkejut dan mengutuk keras penggunaan kekuatan terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat.
Beijing menyebut langkah tersebut sebagai tindakan hegemonik dan mendesak Washington menghentikan pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan negara lain.
Kepala ahli strategi makro-geopolitik BCA Research, Marko Papic, menilai pemerintahan Trump relatif nyaman dengan konsep lingkup pengaruh negara besar seperti China dan Rusia, meski tidak berarti Washington menyetujui perluasan pengaruh mereka.
Ia juga menegaskan tidak ada indikasi AS mengabaikan Taiwan, merujuk pada penjualan senjata senilai USD11 miliar yang diumumkan Desember lalu.
Meski AS tidak memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan Taiwan, Undang-Undang Hubungan Taiwan 1979 mewajibkan Washington menyediakan senjata yang diperlukan untuk pertahanan diri Taiwan.
Sementara itu, Evan Feigenbaum dari Carnegie Endowment for International Peace menilai AS cenderung mengejar lingkup pengaruhnya sendiri sembari menolak memberikan ruang serupa kepada China di Asia.
Papic menambahkan bahwa waktu cenderung berpihak pada China. Menurutnya, Beijing tidak perlu terburu-buru bertindak terhadap Taiwan, sementara AS kemungkinan akan terus fokus pada Belahan Barat.
Ia mempertanyakan risiko besar jika China bertindak militer saat ini, ketika dalam satu dekade ke depan posisi strategisnya diperkirakan semakin kuat.
***
Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.
Artikel ini di ulas ulang dengan judul: Venezuela, AS Tinggalkan Jejak Berbahaya.
Disclaimer
Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
