Jakarta, IndoBisnis — Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri kembali melakukan pemeriksaan terhadap korban-korban Net89 – PT. Simbiotik Multitalenta Indonesia di Pekanbaru, Provinsi Riau.
Kasus ini melibatkan dugaan penipuan dan penggelapan uang investasi robot trading Net89. Pada Kamis (02/05), tim penyidik memeriksa kembali 20 orang saksi yang merupakan perwakilan dari 235 korban.
Total kerugian yang diduga mencapai 16 miliar rupiah. Kompol H. Karta, S.H., M.H., Kanit V Subdit II Dittipideksus Bareskrim Polri, menyatakan bahwa tim penyidik bergerak cepat dalam memberikan kepastian hukum kepada para korban Net89.
-

Foto: Kompol H. Karta, S.H., M.H., Kanit V Subdit II Dittipideksus Bareskrim Polri, menyatakan tim selalu bergerak cepat memberikan kepastian hukum para korban Net89
Rencananya, tim akan terus mendatangi daerah lainnya untuk mempercepat pemeriksaan. Setelah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Agung, seluruh laporan polisi yang masuk ke Bareskrim, sebanyak 15 laporan, akan digabungkan dan pemeriksaan akan dilakukan dari awal lagi.
Andreas Andreyanto dan Lauw Swan Hie Samuel, pemilik PT. Simbiotik Multitalenta Indonesia, telah dikeluarkan Red Notice.
Dalam kasus ini, Bareskrim Polri menjerat pelaku dengan pasal berlapis, termasuk Pasal 378 KUHP, Pasal 372 KUHP, Pasal 105 dan 106 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, serta Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Bareskrim Polri berkomitmen untuk memastikan keadilan bagi para korban Net89. (Red)
