JAKARTA, IndoBisnis – Pemerintah tengah mempertimbangkan ulang kebijakan insentif untuk perusahaan pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Indonesia. Kebijakan ini mencakup pencabutan fasilitas perpajakan seperti tax holiday bagi smelter Nickel Pig Iron (NPI) dan Feronikel (FeNi), yang dinilai tidak lagi memenuhi kriteria sebagai industri pionir.
Melansir dari CNBC Indonesia, Rabu 18 Desember 2024, akil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa kajian ulang dilakukan karena jumlah smelter nikel berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) kini semakin banyak. Kondisi ini membuat pemerintah merasa perlu menyesuaikan insentif yang selama ini diberikan.
“Kita akan melihat pemberian fasilitas itu berdasarkan status industri pionir. Kalau industri tersebut sudah tidak pionir lagi, karena sudah banyak pelaku usahanya, maka ini akan kita review,” ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/12).
Yuliot menjelaskan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi saat ini sedang menyeleksi proyek yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai industri pionir. Sebelumnya, status pionir menjadi dasar pemberian berbagai insentif, termasuk pembebasan pajak dalam jangka waktu tertentu.
“Kementerian Investasi sudah menyeleksi kegiatan usaha yang tadinya dianggap pionir menjadi tidak pionir lagi. Kita juga akan mengevaluasi mekanisme insentif lainnya,” tambahnya.
Selain itu, Kementerian Keuangan juga tengah mengevaluasi kebijakan perpanjangan tax holiday untuk beberapa bidang usaha. Hal ini dilakukan sesuai dengan aturan yang tertuang dalam peraturan Menteri Keuangan.
“Untuk perpanjangan pemberian fasilitas tax holiday sudah diatur berdasarkan regulasi. Namun, untuk bidang usaha tertentu masih dalam tahap evaluasi,” jelas Yuliot.
Meski insentif untuk smelter nikel tengah dikaji ulang, pemerintah menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi sektor mineral dan batu bara. Menurut Yuliot, hilirisasi dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional.
“Kita akan terus mendorong seluruh komoditas mineral dan batu bara untuk dilakukan hilirisasi hingga semaksimal mungkin,” tandasnya.***
Artikel ini telah tayang di IndoBisnis.co.id.
