IndoBisnis – Di tengah laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang diklaim tetap kuat, wajah buram kehidupan kelas pekerja mencuat dari balik statistik. Zhang Jinming, karyawan di perusahaan milik negara (BUMN) sektor properti, kini harus bekerja paruh waktu sebagai pengantar makanan demi menutup kekurangan setelah gajinya dipotong hampir seperempat.
“Menjadi pengantar barang paruh waktu saat bekerja di perusahaan milik negara tidak dianggap terhormat,” kata Zhang, yang kini hanya menerima 4.200 yuan per bulan dari sebelumnya 5.500 yuan, Rabu (16/7/2025) mengutip Reuters.
Zhang mengantar makanan selama tiga jam setiap malam dan akhir pekan dengan penghasilan tambahan 60–70 yuan per malam. Ia berusaha menghindari tatap muka dengan rekan kerja.
“Tidak ada cara lain. Pemotongan gaji ini membuat saya sangat tertekan. Banyak rekan kerja mengundurkan diri, dan saya mengambil alih beban kerja mereka,” ungkap pria 30 tahun ini.
Ekonomi Tiongkok tumbuh 5,2% pada kuartal kedua 2025. Namun, pertumbuhan itu tidak mengalir merata. Industri ekspor otomotif, elektronik, dan utilitas kini menghadapi kontrak yang tertunda, pembayaran macet, dan deflasi harga pabrik. Sementara volume ekspor naik, keuntungan menurun tajam.
Pendapatan yang anjlok menyebabkan pemotongan upah, termasuk di sektor BUMN. Pemerintah daerah yang penuh utang kesulitan menopang pembiayaan. Perusahaan merespons dengan pemangkasan biaya besar-besaran—dan kelas pekerja menanggung beban terberat.
“Beberapa tantangan ekonomi, termasuk rendahnya profitabilitas dan tekanan deflasi, sebagian besar didorong oleh ekspansi kapasitas manufaktur dan teknologi,” ujar Max Zenglein, ekonom Conference Board of Asia.
Ia menggambarkan Tiongkok sebagai “ekonomi kecepatan ganda: industri kuat, konsumsi lemah.”
Tak hanya sektor industri, layanan publik pun goyah. Frank Huang, guru di Chongzuo, Guangxi, belum menerima gaji 5.000 yuan selama tiga bulan.
“Saya hanya bisa bertahan. Saya tidak berani menyerah,” katanya. “Seandainya saya sudah menikah dan punya anak, tekanan hidup pasti tidak terbayangkan.”
Di Linquan, provinsi Anhui, seorang guru lain yang hanya menyebut nama belakangnya, Yun, mengaku hanya menerima gaji pokok 3.000 yuan. Tunjangan berdasarkan kinerja yang biasanya menambah 16% dari pendapatan “terus-menerus tertunda.”
“Setelah bayar bensin, parkir, dan biaya administrasi, sisanya tidak cukup untuk beli kebutuhan sehari-hari. Rasanya aku ingin mengemis. Kalau bukan karena orang tuaku, aku pasti sudah kelaparan.”
Data dari sektor industri menunjukkan lonjakan tunggakan pembayaran—indikasi tekanan likuiditas di berbagai sektor prioritas negara.
Tunggakan sektor komputer dan elektronik naik 16,6%
Otomotif naik 11,2%
Air dan gas naik 17,1%
“Hasilnya adalah pertumbuhan yang lebih lambat untuk sektor-sektor unggulan,” jelas Minxiong Liao, ekonom GlobalData.TS Lombard APAC.
Dengan pendapatan tertekan, masyarakat menunda konsumsi. Hal ini memperburuk deflasi yang kini menghantui ekonomi.
Huang Tingting, 20 tahun, berhenti dari pekerjaannya di restoran di Jiangsu setelah tempat usahanya meminta karyawan mengambil empat hari cuti tanpa gaji per bulan.
“Saya masih harus bayar sewa dan biaya hidup,” katanya. Kini ia menganggur sejak Juni dan bersaing dengan belasan pelamar untuk satu posisi pelayan.
“Pasar kerja tahun ini lebih buruk daripada tahun lalu,” keluhnya.
Para ekonom telah lama menyerukan agar Beijing mengalihkan fokus dari ekspor ke konsumsi domestik, termasuk memperkuat sektor kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial. Namun hingga kini, kebijakan lebih banyak menyokong produksi dan kapasitas industri—bukan daya beli masyarakat.
Statistik pertumbuhan bukan jaminan kesejahteraan. Di balik angka-angka, rakyat biasa terpaksa berjuang lebih keras, lebih lama, dan lebih dalam demi bertahan hidup. Bila ekonomi terus mendorong produksi tanpa menyeimbangkan konsumsi, maka masa depan pekerja seperti Zhang Jinming dan Huang Tingting akan terus terjebak dalam putaran yang sama: kerja keras tanpa hasil yang layak.
***
