- Ringkasan:
- Pengelolaan limbah tambang nikel kembali menjadi sorotan dalam diskursus industri pertambangan di Indonesia.
- Pakar pengelolaan air tambang, Muhammad Sonny Abfertiawan, memaparkan bagaimana perusahaan nikel Harita menerapkan teknologi Dry Stack Tailing di Pulau Obi, Maluku Utara.
- Metode ini memisahkan air dan material padat dari lumpur limbah tambang menggunakan mesin bertekanan tinggi, lalu menempatkan residu padat dalam area pembuangan khusus yang dilapisi material kedap air.
- Menurut Sonny, pendekatan tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam meminimalkan dampak lingkungan, meskipun membutuhkan biaya operasional yang sangat besar.
IndoBisnis — Praktik pengelolaan limbah air tambang kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya aktivitas pertambangan nikel di Indonesia. Pakar pengelolaan air tambang, Muhammad Sonny Abfertiawan, memaparkan bagaimana perusahaan tambang nikel Harita mengelola limbah tambang di Pulau Obi, Maluku Utara.
Melansir Inilah.com, Sonny menjelaskan bahwa perusahaan tersebut menerapkan teknologi Dry Stack Tailing, yaitu metode pemisahan air dan material padat dari lumpur limbah tambang menggunakan mesin bertekanan tinggi.
“Dry Stack Tailing tadi itu, lumpur yang mengandung padatan dipisah antara air dan padatannya. Jadi air dan padatannya dipisah. Lalu padatannya itu di-press lagi, ada mesinnya. Di-press sampai airnya keluar semua,” kata Sonny dalam perbincangan di Podcast YouTube Inilah.com Jurnalisik, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Sonny, setelah proses pemisahan tersebut, limbah padat tidak lagi berbentuk kolam lumpur seperti pada metode konvensional. Material padat tersebut kemudian ditempatkan di area pembuangan khusus atau disposal area.
Ia menjelaskan bahwa lokasi pembuangan itu memanfaatkan cekungan di antara area disposal sehingga material tailing berbentuk timbunan padat, bukan genangan lumpur.
“Harita itu memanfaatkan cekungan-cekungan antara disposal dengan disposal, kemudian mereka masukkan dry tailing-nya di situ. Bentuknya timbunan. Dasarnya juga diberi material yang kedap, jadi air tidak punya kesempatan masuk ke dalam air tanah,” ujarnya.
Sistem Penampungan dan Pengolahan Air
Sebelum limbah padat ditimbun, bagian dasar area pembuangan terlebih dahulu dilapisi dengan material kedap air. Lapisan ini berfungsi mencegah air limbah maupun air hujan meresap ke dalam tanah yang berpotensi mencemari air tanah di sekitarnya.
Selain itu, perusahaan juga memasang sistem perpipaan di bawah timbunan dry tailing. Sistem ini berfungsi menangkap air yang meresap ke dalam timbunan limbah saat terjadi hujan.
Air yang tertangkap kemudian dialirkan melalui pipa untuk diproses lebih lanjut. Baik air dari sistem pipa maupun air limpasan permukaan atau run-off tidak langsung dibuang ke lingkungan, melainkan terlebih dahulu melalui proses pengolahan.
Dalam sistem pengelolaan tersebut, perusahaan juga membangun sediment pond atau kolam sedimen berukuran besar, salah satunya bernama TG2. Kolam ini berfungsi sebagai tempat penampungan sekaligus fasilitas pengolahan air agar kualitasnya memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke alam atau dimanfaatkan kembali.
Sonny menilai langkah tersebut menunjukkan upaya perusahaan untuk terus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan.
“Harita itu termasuk yang menurut saya harus kita berikan apresiasi karena dia konsisten melakukan continuous improvement. Salah satunya Dry Stack Tailing, tadi yang saya bilang ada sediment pond yang namanya TG2,” ucapnya.
Teknologi Mahal, Komitmen Besar
Meski dinilai efektif, Sonny mengakui bahwa penerapan teknologi Dry Stack Tailing tidaklah murah. Teknologi tersebut membutuhkan investasi dan biaya operasional yang sangat besar sehingga tidak semua perusahaan tambang mampu menerapkannya.
“Harita termasuk yang the best di Indonesia dan layak diberikan apresiasi. Walaupun pasti perdebatannya soal cost yang sangat mahal sekali. Belum tentu perusahaan lain bisa meniru itu karena komitmennya tadi. Cost-nya sangat mahal, effort-nya juga lebih banyak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa praktik pengelolaan limbah seperti yang dilakukan Harita seharusnya dapat menjadi contoh bagi perusahaan tambang lain di Indonesia.
Menurut Sonny, komitmen tersebut penting untuk mendukung implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2021 yang mengatur pengelolaan lingkungan secara lebih komprehensif dalam kegiatan industri.
“Nah komitmen itu yang sebetulnya harus dimiliki semua tambang. Sadar bahwa air yang dikelola volumenya besar sekali karena negara kita negara tropis. Banyak perusahaan tidak sadar atau mungkin tidak mau tahu bahwa volume air kita besar, akhirnya mereka bangun sediment pond itu kecil-kecil,” tuturnya.
Ulasan ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah tambang bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut komitmen industri dalam menekan risiko pencemaran lingkungan di tengah ekspansi besar sektor nikel nasional.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Dry Stack Tailing Harita Dipuji Pakar, Biaya Mahal Jadi Tantangan
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
