Pengungsi Sudan Kembali ke Khartoum, Tapi Hanya Temukan Puing dan Penyakit.
IndoBisnis – Ketika perang saudara di Sudan memasuki tahun kedua, kembalinya ribuan pengungsi ke kota-kota yang direbut kembali justru membuka babak baru penderitaan. Salah satunya terjadi di Khartoum, ibu kota negara tersebut.
Melansir laporan Arab News, Rabu 21 Mei 2025, sejak pasukan pemerintah Sudan (SAF) merebut kembali Khartoum dari Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pada Maret lalu, sekitar 6.000 orang kembali ke kota itu setiap hari. Mereka kembali dengan harapan hidup yang lebih baik, namun yang mereka temukan justru kehancuran.
“Banyak dari mereka hanya membawa barang-barang yang bisa digendong dan mendapati rumah mereka sudah tidak layak huni,” kata Natalie Payne, petugas program darurat di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
IOM mencatat bahwa sekitar 400.000 orang kembali ke Khartoum dan wilayah sekitarnya antara Desember hingga Maret. Meski ini merupakan penurunan 2,4% dalam jumlah pengungsi, kondisi di lapangan jauh dari kata membaik.
Infrastruktur kota, seperti rumah, sekolah, rumah sakit, dan sistem air bersih, hancur total. Di banyak tempat, jalanan dipenuhi puing, klinik tutup, dan listrik tidak tersedia. “Tidak ada sekolah, tidak ada pekerjaan. Mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan,” ujar Payne.
Kelangkaan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan terjadi di seluruh Sudan. “Kebutuhan sangat besar, bukan hanya untuk pengungsi yang kembali, tapi juga warga yang selama ini menampung mereka,” tambahnya.
Sementara itu, badan-badan kemanusiaan seperti SZWO (Sudan Zero Waste Organization) mencatat peningkatan kasus kolera. Dalam pernyataannya, SZWO mengatakan, “Banyak pengungsi terinfeksi kolera karena minimnya kesadaran, akses air bersih, dan kebersihan dasar.”
SZWO dan mitranya kini berupaya merehabilitasi fasilitas air, memperluas dapur umum, dan memberikan bantuan uang tunai. Namun, mereka mengakui kapasitas mereka belum mampu menutupi seluruh kebutuhan masyarakat.
Krisis Sudan tak hanya menyebabkan 11,3 juta orang mengungsi di dalam negeri, tapi juga memaksa hampir 4 juta orang mencari perlindungan ke negara tetangga seperti Mesir dan Chad. UNHCR menyebut krisis ini sebagai yang terbesar di dunia saat ini.
“Negara-negara yang menampung pengungsi juga kewalahan. Di Chad, jumlah pengungsi bahkan melebihi penduduk lokal,” kata Mamadou Dian Balde, Koordinator Regional UNHCR untuk Sudan.
Balde menambahkan, beberapa pengungsi mulai kembali ke Sudan, tetapi dalam situasi penuh risiko. “Kami melihat keluarga yang hanya mengirim satu anggota lebih dulu untuk mengecek keadaan properti. Ini menunjukkan betapa tidak amannya kondisi di sana,” katanya.
Sementara konflik terus menyebar ke wilayah lain seperti Darfur dan Kordofan, lembaga kemanusiaan menghadapi tantangan musim hujan dan kekurangan dana. Hingga pertengahan Mei, hanya 13,2% dari target $4,2 miliar dana kemanusiaan yang berhasil dikumpulkan.
“Jika konflik ini terus berlanjut, tidak hanya Sudan yang menderita. Negara-negara tetangganya pun akan terdampak,” tegas Balde.
Harapan bagi Sudan kini bergantung pada lebih dari sekadar bantuan makanan dan tenda. Tanpa gencatan senjata yang stabil dan komitmen internasional untuk membangun kembali infrastruktur dasar, para pengungsi akan terus berada dalam bayang-bayang penderitaan.
***
