Minggu, April 26, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISGarap Proyek Hilirisasi Kelapa di RI, Inilah Dua Perusahaan Asal China Nilai...

Garap Proyek Hilirisasi Kelapa di RI, Inilah Dua Perusahaan Asal China Nilai Investasi Rp 1,6 Triliun

  • Zhejiang FreeNow Food dan Konsorsium China-Indonesia Bangun Pabrik Kelapa, Serap 5.000 Tenaga Kerja Lokal

 

 

Dua perusahaan asal China resmi menanamkan investasinya di sektor hilirisasi kelapa Indonesia dengan total nilai mencapai Rp 1,6 triliun atau sekitar 100 juta dolar AS. Langkah ini menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap industri perkebunan nasional, khususnya di bidang pengolahan hasil kelapa.

Melansir, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa kedua investor tersebut telah melakukan groundbreaking dan memulai pembangunan pabrik pengolahan kelapa di Tanah Air.

Menurut Rosan, proyek tahap pertama ini diperkirakan akan menyerap hingga 5.000 tenaga kerja lokal. Ia menegaskan, tingginya penyerapan tenaga kerja disebabkan karena pabrik ini akan memanfaatkan seluruh bagian buah kelapa — mulai dari daging, air, sabut, hingga tempurung — tanpa ada yang terbuang.

“Pabrik ini awalnya beroperasi di China dan mengimpor kelapa dari Indonesia dengan biaya logistik yang tinggi. Kami yakinkan agar mereka berinvestasi langsung di sini, dan alhamdulillah, sekarang konstruksinya sudah berjalan,” tutur Rosan di kantor BKPM, Jakarta mengutip RMOL.ID, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Salah satu perusahaan yang dimaksud Rosan adalah Zhejiang FreeNow Food Co., Ltd, yang telah memiliki enam pabrik di China dan kini memperluas produksinya ke Indonesia. Sedangkan investor lainnya merupakan konsorsium gabungan antara perusahaan China dan Indonesia, yang bersama-sama mengembangkan proyek ini untuk memperkuat rantai pasok industri kelapa nasional.

Rosan yang juga menjabat sebagai CEO Danantara Indonesia menjelaskan, proyek ini akan dijalankan dalam tiga tahap investasi, masing-masing senilai sekitar 100 juta dolar AS. Tahap pertama tengah berjalan, sementara tahap selanjutnya direncanakan rampung dalam beberapa tahun ke depan.

“Nilainya memang tidak sebesar hilirisasi mineral yang mencapai miliaran dolar, tapi penyerapan tenaga kerjanya jauh lebih besar dan berdampak langsung pada masyarakat lokal,” jelasnya.

Hingga triwulan III-2025, proyek ini telah terealisasi sekitar 20 persen dan diproyeksikan mencapai 55 persen pada akhir tahun. Pemerintah menilai capaian ini sebagai langkah penting dalam mempercepat transformasi industri berbasis perkebunan yang selama ini bergantung pada ekspor bahan mentah.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat, hingga triwulan III tahun 2025, total proyek hilirisasi telah menyerap investasi senilai Rp431,4 triliun, setara 30,1 persen dari total realisasi investasi nasional.

Sementara itu, hilirisasi di sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang Rp103,3 triliun, terdiri dari kelapa sawit (Rp52,7 triliun), kayu log (Rp36,6 triliun), karet (Rp9,7 triliun), serta komoditas lain seperti pala, kelapa, kakao, dan biofuel senilai Rp4,3 triliun.

Langkah dua perusahaan China ini dinilai sebagai momentum strategis bagi Indonesia dalam memperkuat industri kelapa nasional, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing ekspor produk turunan kelapa di pasar global.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments