- Kampanye “Jari Kasar” Ungkap Luka Sosial–Ekonomi Krisis Iklim, Dorong Generasi Muda Melawan Ketidakadilan.
Krisis iklim kini berada pada titik yang tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Dampaknya telah merembet ke ruang sosial dan ekonomi dengan skala yang semakin besar.
Banjir yang melanda tiga provinsi di Sumatera pada akhir November lalu diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi nasional sebesar Rp 68,67 triliun, dan potensi kerugian lebih dari Rp 200 triliun membayangi apabila situasi ekstrem terus berulang.
Ratusan orang dinyatakan tewas dan masih hilang, menegaskan betapa mahal harga yang dibayar masyarakat akibat krisis iklim.
Namun, dampak sosial dan ekonomi dari krisis ini masih jarang menjadi pusat perhatian publik. Padahal, krisis iklim tidak hanya memusnahkan harta benda dan merenggut nyawa, tetapi juga.
Mengancam memperlebar ketimpangan sosial dan ekonomi. Kelompok ekonomi lemah, pekerja sektor informal, serta masyarakat pesisir adalah pihak yang paling rentan.
Untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang bahaya ini, Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan band rock The Brandals melalui perilisan single terbaru mereka.
Berjudul “Jari Kasar”. Kolaborasi ini menghadirkan musik sebagai medium artistik untuk menyampaikan pesan keadilan iklim dan ekonomi.
Vokalis The Brandals, Eka Annash, menjelaskan bahwa “Jari Kasar” lahir dari refleksi atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin timpang di tengah intensitas krisis iklim.
Ia mengatakan bahwa orang kaya semakin menguasai ruang ekonomi, sementara rakyat miskin semakin terperosok dalam lingkaran kemiskinan akibat kerakusan segelintir elit yang mengambil tanah dan membabat hutan demi keuntungan pribadi.
“Orang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin dalam masuk ke lubang kemiskinan akibat kerakusan orang kaya yang mengambil tanah dan membabat hutan demi keuntungan pribadi mereka,” kata Eka dalam diskusi panel di acara RIMARAYA mengutip Siaran Pers Greenpeace Sabtu (6/12/2025).
Ia menambahkan bahwa para pekerja kini diperas di tengah cuaca ekstrem atas nama produktivitas yang sesungguhnya hanya menguntungkan pemilik modal.
Ia melanjutkan bahwa keresahan tersebut dituangkan dalam “Jari Kasar” untuk menyadarkan pendengar—khususnya pekerja, rakyat kecil, dan generasi muda—bahwa ketidakadilan harus dilawan demi masa depan yang lebih baik. Musik, baginya, adalah medium perlawanan.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menguatkan pesan tersebut dengan menyampaikan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang sangat luas, mulai dari pangan, tempat tinggal, hingga pekerjaan.
“Panas ekstrem dan curah hujan tinggi tak hanya buruk bagi alam dan lingkungan, tapi juga manusia. Cuaca ekstrem akan membuat gagal panen semakin sering, membuat harga makanan naik tajam dan meningkatkan biaya hidup,” kata Jeanny.
Ia menegaskan bahwa bencana seperti banjir dan longsor merusak rumah, memutus akses jalan dan jembatan, serta menghambat pekerja mencari nafkah.
Menurut Jeanny, apa yang terjadi saat ini bukan lagi ancaman masa depan, tetapi kenyataan sehari-hari. Namun, kesadaran publik masih rendah bahwa kerusakan tersebut merupakan akibat langsung dari krisis iklim.
Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar krisis ini dipicu oleh kerakusan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan pribadi.
“Longsor dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan semata-mata dipicu faktor alam, melainkan akibat dari kerakusan manusia. Jutaan hektare hutan dibabat demi cuan buat para oligarki, sementara alam dan rakyat kecil dieksploitasi sampai titik penghabisan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keuntungan hanya dinikmati segelintir orang kaya, sementara rakyat biasa semakin rentan terhadap dampak krisis iklim.
RIMARAYA, sebagai ajang multi-format, menunjukkan bahwa musik dapat menjadi kekuatan sosial yang mendorong perubahan. Segmen Experience menghadirkan pameran visual kampanye Greenpeace, workshop ramah.
Lingkungan, hingga sesi konsultasi lingkungan melalui program KepLing (Kepo Lingkungan). Ruang interaktif ini dirancang untuk memperkuat pemahaman generasi muda tentang krisis iklim.
Segmen Conversation memberikan ruang dialog antara Eka Annash dan Jeanny Sirait, membahas dampak krisis iklim terhadap pekerja dan masyarakat luas.
Diskusi ini membuka perspektif bahwa isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari isu ekonomi dan sosial. Sementara itu, segmen Performance menghadirkan penampilan The Brandals dan The Jansen, menunjukkan bahwa musik dapat menjadi medium perlawanan yang menggugah kesadaran publik.
Kolaborasi Greenpeace dan The Brandals melalui “Jari Kasar” menjadi momentum strategis dalam menyuarakan bahwa krisis iklim adalah ancaman multidimensi yang harus dilawan dengan keberanian dan kesadaran kolektif.
Bagi generasi muda, pesan ini bukan sekadar ajakan, melainkan peringatan bahwa masa depan ekonomi dan sosial Indonesia ditentukan oleh tindakan hari ini.
***
Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.
Artikel ini pertama kali diterbitkan Greenpeace dengan judul: Kolaborasi Greenpeace dan The Brandals Tingkatkan Kesadaran Dampak Sosial dan Ekonomi dari Krisis Iklim.
Disclaimer
Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
