Kamis, Mei 14, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISBI Rate Naik Jadi 6,25%, Jadi Pilihan Investasi

BI Rate Naik Jadi 6,25%, Jadi Pilihan Investasi

Jakarta, IndoBisnis – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25% pada 24 April 2024. Suku bunga Deposit Facility dinaikkan menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility ditetapkan sebesar 7%.

BI menyatakan alasan kenaikan suku bunga adalah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah potensi risiko global dan sebagai langkah preemptive dan forward forward untuk memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% plus minus 1% pada tahun 2018. 2024-2025, sejalan dengan sikap kebijakan prostabilitas.

Bukan rahasia lagi bahwa suku bunga dapat mempunyai pengaruh tertentu terhadap aset investasi. Di tengah perkembangan tersebut, terdapat beberapa instrumen investasi yang berpeluang mendapatkan keuntungan dari kenaikan suku bunga acuan. Sekarang mari kita bahas. Seperti dilansir IndoBisnis dari CNBC Indonesia, Kamis 25 April 2024.

Deposito:

Kenaikan suku bunga biasanya dibarengi dengan kenaikan suku bunga simpanan di berbagai bank. Tak heran jika banyak orang yang tertarik memarkir dana menganggurnya di deposito. Walaupun imbal hasil yang diperoleh relatif kecil dan rentan terhadap risiko inflasi, deposito masih merupakan pilihan yang cocok untuk kebutuhan jangka pendek. Selain memberikan imbal hasil tetap, deposito juga sangat likuid. Pelanggan dapat melakukan penarikan kapan saja, namun mungkin ada penalti untuk penarikan awal.

Reksa dana pasar uang:

Jika suku bunga deposito meningkat, maka reksa dana pasar uang yang memiliki deposito sebagai aset dasarnya juga dapat mengalami peningkatan imbal hasil. Sama halnya dengan deposito, reksa dana pasar uang juga digunakan untuk memarkir dana menganggur untuk jangka pendek. Apalagi instrumen keuangan ini juga bisa digunakan untuk menyimpan dana darurat.

Jenis surat berharga pemerintah tertentu:

Beberapa Surat Berharga Negara (SBN) memiliki keistimewaan yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Namun ada juga SBN dengan imbal hasil kupon yang bisa meningkat seiring kenaikan suku bunga acuan, meski tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Savings Bond Ritel (Sukuk Tabungan) dan Savings Bonds (SBR) merupakan dua instrumen yang memiliki karakteristik demikian.

Instrumen-instrumen ini memiliki kupon suku bunga mengambang dengan ambang batas minimum yang telah ditentukan. Namun sayangnya, surat utang jenis ini umumnya tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Meski demikian, kedua instrumen tersebut merupakan SUN yang bebas risiko. Mereka cocok untuk investor pemula atau mereka yang mencari penghasilan pasif.

Saham-saham sektor tertentu:

Meski beberapa sektor seperti teknologi, real estate, dan konstruksi diperkirakan akan terkena dampak kenaikan suku bunga acuan BI, namun masih ada berbagai perusahaan yang dapat memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut. Perusahaan perbankan besar kemungkinan besar akan menjadi pihak yang diuntungkan karena potensi peningkatan margin bunga bersih (NIM).

Selain itu, sektor-sektor defensif seperti perusahaan konsumen juga dapat dipertimbangkan pada saat perekonomian sedang tidak menentu. Namun, sebelum memilih saham dari sektor tersebut, penting untuk memperhatikan tingkat dan denominasi utang perusahaan.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments