JAKARTA, IndoBisnis – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Argus Media Limited (Argus) menandatangani memorandum of understanding (MOU) pada Kamis (26/9/2024) di London.
Kerja sama ini bertujuan untuk mendukung pengembangan industri pertambangan nikel yang berkelanjutan di Indonesia sekaligus meningkatkan transparansi pasar nikel di tingkat global.
Penandatanganan MOU dilakukan oleh Ketua Umum APNI, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna, dan Chief Financial Officer (CFO) Argus, Stuart Ashman, di markas besar Argus, 84 Theobalds Road, London.
Turut hadir dalam acara tersebut Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, serta perwakilan dari Argus, yakni Christopher Flook (President, Expansion Markets), David Brooks (SVP Metals), dan Oscar Tarneberg (VP Metals).
Transparansi untuk Pasar Nikel Indonesia
Dalam keterangannya, Meidy Katrin Lengkey menegaskan pentingnya kerja sama ini untuk membawa transparansi lebih besar ke dalam pasar nikel Indonesia.
“APNI dan Argus berupaya keras membangun fondasi bagi pasar nikel yang lebih transparan dan teratur, sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” ujarnya dikutip dari Nikel.co.id pada Selasa (1/10/2024).
Meidy menjelaskan bahwa Argus adalah perusahaan independen yang telah berdiri sejak 1970 dan dikenal luas dalam menyediakan informasi serta analisis terkait pasar energi dan komoditas global.
Salah satu publikasi andalan Argus adalah Indonesian Nickel Indexes (INI), yang menjadi referensi utama dalam perdagangan global.
Kolaborasi di Berbagai Sektor
Kerja sama ini mencakup berbagai sektor, seperti pertukaran informasi harga nikel, peluang kolaborasi dalam acara seminar dan konferensi, serta kerja sama dalam bidang kekayaan intelektual, keuangan, hingga kepatuhan terhadap regulasi.
Meidy menekankan bahwa MOU ini tidak bertujuan untuk membatasi kompetisi.
“Tidak ada klausul dalam MOU yang menghambat kebebasan masing-masing pihak untuk berkompetisi. Baik APNI maupun Argus tetap dapat membuat perjanjian serupa dengan pihak lain,” jelasnya.
Penandatanganan MOU antara APNI dan Argus ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri nikel dunia.
Dengan transparansi yang lebih besar, Indonesia diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi dan meningkatkan daya saing produk nikel di pasar internasional.
Kolaborasi ini juga dinilai strategis dalam mendukung kebijakan pemerintah Indonesia yang tengah fokus mendorong hilirisasi nikel, demi mendukung industri baterai kendaraan listrik yang kian berkembang.***
