Jakarta, IndoBisnis — Peryataan Luhut Binsar Pandjaitan kembali menjadi sorotan publik usai komentar kontroversialnya terkait tenaga kerja asing (TKA) asal China di sektor pertambangan.
Komentar tersebut mendapat tanggapan tajam dari berbagai pihak, termasuk Pemilik Cyber Muslim Group, Muhammad Assaewad.
Dalam keterangannya baru-baru ini, Luhut menyebut banyaknya TKA Tiongkok yang bekerja di sektor pertambangan Indonesia adalah kesalahan yang dilakukan sendiri.
Pernyataan ini mengundang berbagai reaksi, ada pihak yang setuju dan ada pula yang menentang.
“TKA China di Indonesia banyak yang bekerja di Sektor Pertambangan, Luhut (bilang) Ini Salah Kami,” kata Assaewad mengutip IndoBisnis.co.id, dalam keterangannya di aplikasi X @Muhammad_Saewad, 26 Februari 2024.
Assaewad menyoroti alasan dibalik pernyataan Luhut dan mempertanyakan anggapan bahwa hal tersebut merupakan kesalahan kebijakan Indonesia.
“Mengapa ini kesalahan kami?,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang terampil menjadi pendorong tumbuhnya tenaga kerja asing (TKA), khususnya asal China, di sektor pertambangan dan proyek smelter. di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah TKA di Indonesia, khususnya yang berasal dari Tiongkok, terus meningkat. Industri di Indonesia yang paling banyak menyerap TKA Tiongkok adalah proyek pertambangan dan smelter.
Salah satu contoh yang disebutkan Luhut adalah proyek smelter di Kawasan Industri Teluk Weda, Halmahera Tengah.
Proyek ini dibangun oleh perusahaan dari tiga investor Tiongkok. Diantaranya adalah Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi. Menurut Luhut, sulitnya perusahaan-perusahaan tersebut mencari SDM Indonesia yang berkompeten menjadi penyebab utama banyaknya TKA China yang bekerja di sana.
Luhut menjelaskan, ruang kendali di kawasan industri Teluk Weda dipenuhi oleh lulusan yang tidak sesuai dengan bidangnya, hal ini disebabkan kurangnya SDM yang memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.
Dampak dari kurangnya SDM terampil Indonesia adalah meningkatnya jumlah TKA Tiongkok yang bekerja di sektor pertambangan dan smelter.
Hal ini pun menimbulkan pertanyaan terkait strategi pengembangan SDM yang lebih baik agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan industri, sehingga tidak terlalu bergantung pada TKA asing.***
