Jakarta, IndoBisnis – Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Alexander Barus bahkan menyebut pembangunan smelter di Morowali pada awalnya tidak berjalan mulus.
Sebelumnya Kawasan Industri di Sulawesi Tengah ibarat dunia yang belum dikenal, sulit dijangkau karena waktu tempuh yang lama, terbatasnya akses komunikasi, dan minimnya pasokan listrik.
“Misalnya di Morowali, sebelumnya tidak ada sinyal. Mereka masih menggunakan telepon satelit, dan butuh waktu 12-13 jam perjalanan darat. Masih hutan, dan listriknya mengandalkan genset,” ujarnya, seperti dilansir IndoBisnis dari CNBC Indonesia, Jumat 26 April 2024.
Dengan diterapkannya hilirisasi, beberapa daerah di Indonesia menjadi maju dan berkembang. Selain Morowali, ada juga perusahaan yang membangun smelter untuk hilirisasi nikel, seperti PT Obsidian Stainless Steel (OSS).
PT OSS memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan kontribusi sebesar Rp 70 miliar kepada daerah selama tahun 2022. Perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ini merupakan keturunan Tionghoa. .
Selanjutnya ada PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI), perusahaan yang juga mengoperasikan pengolahan bijih nikel di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Melalui inisiatif hilirisasi ini, PT GNI telah berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian daerah.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulawesi Tengah kaya akan nikel dan berperan besar dalam ekspor dan perekonomian daerah. Nikel merupakan salah satu komoditas ekspor utama dengan nilai USD 284,87 juta atau 15,62% selama September 2023.
Kehadiran perusahaan smelter tersebut tak dipungkiri memberikan multiplier effect. Hal ini berdampak pada tumbuhnya industri kecil, industri rumah tangga, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar perusahaan.
Jika ditelaah lebih dalam, UMKM merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi 61,07% atau Rp 8.573,89 triliun terhadap PDB.
Sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, PT GNI memperkuat UMKM di sekitar kawasan industri melalui berbagai inisiatif. Salah satu programnya adalah pelatihan keuangan kerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Bunta, Morowali Utara.
Head of Corporate Communication PT GNI Mellysa Tanoyo menjelaskan, program ini merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pertumbuhan UMKM dan upaya mendongkrak perekonomian daerah.
“Program ini merupakan salah satu bentuk nyata dukungan PT GNI terhadap UMKM berbasis desa di sekitar kawasan industri. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan keuangan dan kapasitas peserta untuk pengembangan usahanya,” kata Mellysa.
Menurut Mellysa, dengan terus berkembangnya UMKM di daerah tersebut, maka warga setempat mempunyai lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan menghasilkan produk-produk inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“UMKM memberikan dampak positif baik di tingkat lokal maupun nasional. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mendorong dan mendukung pertumbuhan sektor ini melalui inisiatif yang mendukung dan lingkungan usaha yang kondusif,” tambahnya.***
