Sabtu, Juni 13, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalSiswa SDN 192 Halmahera Selatan Terpaksa Ujian di Pantai Karena Internet Lemot

Siswa SDN 192 Halmahera Selatan Terpaksa Ujian di Pantai Karena Internet Lemot

Halmahera Selatan – Pemandangan tak biasa tersaji di Desa Nyonyifi, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Para siswa SDN 192 harus menjalani Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di pantai Goji, sebuah langkah yang diambil untuk mengatasi lemahnya koneksi internet di sekolah mereka.

Di tepi pantai, laptop-laptop berjejer, sementara para siswa terlihat serius memandang layar, berusaha mengikuti ujian nasional tersebut.

Pemilihan pantai sebagai lokasi ujian dilakukan demi mendapatkan sinyal internet yang lebih stabil. Menurut Kepala Sekolah SDN 192, Sakina H.Y. Ajudin, pemindahan lokasi ini merupakan upaya agar pelaksanaan ANBK tetap berjalan lancar.

“Kami memilih pantai karena sinyal di sekolah tidak memungkinkan. Ini adalah cara kami untuk tetap melaksanakan ANBK dengan baik,” ujar Sakina kepada IndoBisnis.co.id, Selasa (24/9).

Kondisi ini kembali menyoroti tantangan besar dalam infrastruktur digital di Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah terpencil seperti Halmahera Selatan.

Meskipun pemerintah telah memulai banyak program pendidikan berbasis teknologi, nyatanya masih banyak sekolah di pelosok yang kesulitan dalam mengakses internet.

Survei terbaru dari Segara Research Institute (2023) menunjukkan bahwa 45 persen kepala sekolah dan 46 persen guru di wilayah timur Indonesia melaporkan kendala dalam akses internet.

Masalah ini sering kali memaksa pihak sekolah untuk melakukan upaya-upaya kreatif, seperti memindahkan lokasi ujian ke area dengan sinyal yang lebih baik, termasuk pantai.

Kesenjangan infrastruktur ini tidak hanya memengaruhi akses internet, tetapi juga berdampak pada ketersediaan fasilitas teknologi pendidikan, seperti laboratorium komputer yang sering kali tidak berfungsi optimal karena kurangnya koneksi internet.

Masalah ini semakin memperjelas kesenjangan digital antara wilayah Indonesia, di mana wilayah Jawa mendominasi dalam hal akses dan daya saing digital.

Menurut East Ventures Competitiveness Index 2022, ketimpangan tersebut terlihat dari indeks daya saing digital yang masih terpusat di Pulau Jawa.

Di sisi lain, literasi digital Indonesia berada di peringkat ke-53 dunia dengan skor 3,54, mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam meningkatkan kompetensi digital di wilayah-wilayah pelosok.

Sakina berharap agar pemerintah lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur internet di daerah terpencil.

“Pendidikan berkualitas membutuhkan sinergi dari berbagai sektor, baik pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat. Jika tidak, anak-anak di pelosok akan terus tertinggal,” tutupnya.***

Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi semua pihak, terutama pemerintah, agar siswa di daerah terpencil bisa merasakan manfaat pendidikan berbasis teknologi tanpa hambatan.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments